Cerita Wartawan Senior Mengisolasi Diri Sendiri di Wonosobo, Ini Wujud Kegamangan Pemerintah
Mengisolasi diri menjadi alternatif di tengah mewabahnya virus corona (Ilustrasi: Haluan.co)

Sebenarnya, saya agak khawatir juga karena Wonosobo salah satu kota kecil penyumbang buruh migran, baik domestik maupun ke luar negeri. Kota kecil kami punya kantor imigrasi sendiri karena banyaknya TKI dari sini.

MELIHAT pemerintah sendiri bingung, pada akhirnya kita harus memikirkan diri kita sendiri dan lingkungan kecil komunitas kita.

Mengikuti perdebatan, saya sendiri belum memutuskan setuju konsep lockdown (total) atau social distancing (partial lockdown).

Tadi malam, Minggu (15/3/2020), saya pulang dari Jakarta ke Wonosobo, Jawa Tengah, memakai bus malam umum. Cukup penuh penumpang, yang saya tidak tahu persis riwayat penyakit dan perjalanannya.

Sebenarnya, saya agak khawatir juga karena Wonosobo salah satu kota kecil penyumbang buruh migran, baik domestik maupun ke luar negeri. Kota kecil kami punya kantor imigrasi sendiri karena banyaknya TKI dari sini.

Tapi, ketimbang manyun di Jakarta, saya pulang.

Pagi ini, istri saya (dia dokter) bilang saya harus mengisolasi diri karena datang dari Jakarta, yang dia sebut sebagai "daerah terdampak". Itu istilah teknis untuk menyebut bahwa Jakarta adalah salah satu kluster wabah.

Pernyataan istri saya itu menunjukkan bahwa tanpa guidance jelas akhirnya para dokter di garda depan harus memutuskan sendiri-sendiri apa yang baik menurut pertimbangannya.

Saya sendiri ikut kata dia. Saya bahkan tak boleh mengantar dia ke klinik tempat dia bekerja karena alasan itu.

Bersyukur ada banyak makanan di rumah: pisang, alpukat dan singkong yang baru dipanen.


Penulis, Farid Gaban wartawan senior