China Revisi Jumlah Kematian Akibat COVID-19 di Wuhan Bertambah 50 persen

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Kondisi Kota Wuhan, Hubei, China saat terjadi pandemi COVID-19 (Foto: Istimewa)

WUHAN, HALUAN.CO - Otoritas Kota Wuhan, China merivisi jumlah total kematian akibat virus Corona tipe baru COVID-19 di Wuhan direvisi naik 50 persen dengan tambahan 1.290 orang. Sehingga jumlah total kematian di Wuhan dari 3.869 orang menjadi 4.632 orang.

Mengapa ini penting: China selama ini dituding menyembunyikan data warganya yang terpapar Corona dan yang meninggal. Tudingan berasal antara lain dari Amerika Serikat dan Wolrd Health Organization (WHO). Revisi tersebut, setidaknya menjawab tudingan adanya penyembunyian, terutama data kematian.

Konteks: Jumlah kematian akibat COVID-19 di Wuhan naik 50 persen dari data sebelumnya sebanyak 3.869 orang . Kini angka kematian naik menjadi 4.632, yang kebanyakan korban meninggal dari Provinsi Hubei, di mana Wuhan berada sebagai episentrum tempat pertama kali SARS-Cov-2 jenis baru terdeteksi.

Alasan revisi: Seperti dilaporkan Kantor Berita Xinhua News Agency, Jumat (17/4/2020), otoritas Kota Wuhan mengumumkan revisi untuk total kasus dan jumlah korban meninggal di wilayah yang menjadi titik nol pandemi virus Corona itu.

Revisi disampaikan melalui pemberitahuan dari Markas Besar Pencegahan dan Pengendalian COVID-19. Pemberitahuan itu juga menyebutkan empat alasan yang mendasari perbedaan data sehingga harus dilakukan revisi.

1. Jumlah pasien yang melonjak pada tahap awal wabah telah membuat kewalahan tenaga medis dan kapasitas penerimaan pada institusi-institusi medis. Beberapa pasien meninggal dunia di rumah tanpa pernah dirawat di rumah sakit.

2. Selama puncak upaya perawatan pasien, rumah-rumah sakit beroperasi melebihi kapasitas dan para staf medis sibuk untuk menyelamatkan dan merawat para pasien, sehingga berdampak pada pelaporan yang terlambat, terlewat dan keliru.

3. Karena peningkatan cepat jumlah rumah sakit yang ditunjuk menangani pasien COVID-19, termasuk rumah sakit yang dikelola kementerian, Provinsi Hubei, Kota Wuhan dan distrik-distriknya, juga rumah sakit yang terkait dengan perusahaan-perusahaan, serta rumah sakit swasta dan rumah sakit darurat, ada beberapa institusi medis yang tidak terkait dengan jaringan informasi wabah dan gagal melaporkan data mereka tepat waktu.

4. Informasi terdaftar dari beberapa pasien yang meninggal dunia diketahui tidak lengkap, dan ada pengulangan dan kesalahan dalam pelaporan.

Para Ilmuwan Berhasil Temukan Obat Baru untuk Pasien COVID-19

Penyelidikan epidemiologi: Menurut seorang pejabat dari Markas Besar Pencegahan dan Pengendalian COVID-19 kota Wuhan, revisi diumumkan setelah sebuah kelompok untuk penyelidikan data besar terkait wabah virus Corona dan penyelidikan epidemiologi dibentuk pada akhir Maret lalu.

⦁ Kelompok ini menggunakan informasi dari sistem online dan mengumpulkan data penuh dari seluruh lokasi yang dilanda wabah virus Corona untuk memastikan bahwa fakta setiap kasus adalah akurat dan setiap angka adalah objektif dan benar.

⦁ Revisi data kematian ini menunjukkan adanya penghormatan untuk setiap nyawa.

"Apa yang ada di balik data wabah ini adalah nyawa dan kesehatan masyarakat umum, juga kredibilitas pemerintah," tegas pejabat yang tidak ingin disebutkan namanya seperti dikutip Kantor Berita Xinhua News Agency.

China membantah: China membantah hal itu sebagai kelalaian seperti dilaporkan Time. China membantah keras klaimnya bahwa mereka menunda pelaporan wabah virus di Wuhan akhir tahun lalu dan jumlah kasus yang tidak dilaporkan, yang katanya memperburuk dampaknya terhadap AS dan negara-negara lain.

⦁ Pihak berwenang mengatakan revisi itu dibuat untuk memasukkan pasien yang tidak dirawat di rumah sakit dan meninggal di rumah.

⦁ Sebab, fasilitas medis menghadapi kekurangan sumber daya selama tahap awal wabah.

Ada faktor lain: Laporan Xinhua mengatakan, ada faktor lain menyembabkan adanya revisi jumlah kematian, yakni rumah sakit yang ditunjuk untuk merawat pasien diperluas ke lembaga di tingkat kota dan kabupaten, termasuk rumah sakit swasta, dan tidak semua terhubung dan memberi informasi yang tepat waktu ke jaringan epidemi pusat.

⦁ Bulan lalu, foto-foto ribuan guci abu yang diangkut ke rumah duka di Wuhan beredar di platform media sosial China yang meningkatkan kekhawatiran bahwa jumlah sebenarnya kematian di kota tempat virus pertama kali muncul lebih tinggi daripada yang diakui secara resmi.

Awal April, Wuhan telah mencabut lockdown atau karantina wilayah. Setelah 11 pekan karantina, 11 juta warganya diperbolehkan keluar rumah, berpergian, dan bekerja meski tetap mengikuti anjuran ketat kesehatan.

Disebutkan dalam revisi itu juga total kasus virus Corona di Wuhan hingga 16 April memiliki tambahan 325 kasus, sehingga kini totalnya menjadi 50.333 kasus. Untuk jumlah total korban meninggal mengalami tambahan 1.290 orang, dengan demikian total kematian di kota Wuhan menjadi 4.632 orang.


0 Komentar