China Tengah Patenkan Remdesivir, Temuan Perusahaan Bioteknologi AS untuk Obat Anti Virus Corona

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Institut Virologi Wuhan tengah mengajukan paten untuk obat anti virus Corona dari obat remdessiviir (Foto: Istimewa)

-

AA

+

China Tengah Patenkan Remdesivir, Temuan Perusahaan Bioteknologi AS untuk Obat Anti Virus Corona

Health | Jakarta

Minggu, 09 Februari 2020 07:41 WIB


BEIJING, HALUAN.CO - Peneliti di China tengah mengajukan paten untuk obat anti virus corona hasil dari eksperimen. Obat ini dikembangkan oleh Institut Virologi Wuhan yang berada di pusat kota China dan sudah diajukan sejak 21 Januari 2020 lalu.

Para peneliti memanfaatkan obat remdesivir yang dulunya pernah digunakan untuk melawan wabah virus ebola. Mereka menemukan remdisivir efektif dalam melawan virus corona saat dikombinasikan dengan obat malaria chloroquine.

Remdesivir pertama kali dikembangkan oleh perusahaan bioteknologi Amerika Serikat, Gilead Sciences, pada tahun 2013-2016 untuk memerangi ebola. Tapi, dalam pengembangannya ternyata obat ini mampu melawan virus lain.

Terungkapnya laporan daftar paten obat ampuh Virus Corona yang diajukan Amerika Serikat dan China ini membuat sebagaian ilmuan curiga wabah corona sengaja diciptakan China dan AS.

Sebuah laporan CBC News tentang pemerintah Kanada mendeportasi ilmuwan China yang bekerja di laboratorium Winnipeg yang mempelajari patogen berbahaya menyelundupkan virus corona.

"Para ahli teori sanggahan yang menghubungkan coronavirus China dengan penelitian senjata," seperti dilansir The Washington Post yang berfokus pada fasilitas itu.

Sebuah laporan dari Amerika Serikat telah membuat kemajuan dalam pengobatan pasien yang dikonfirmasi terinfeksi virus korona baru itu.

Hal ini tertuang dalam New England Journal of Medicine (NEJM) pada 31 Januari 2020 lalu mengatakan, bahwa pasien pertama yang didiagnosis Corona Wuhan” di Amerika Serikat terlihat membaik dan tidak memperlihatkan adanya efek samping setelah diberikan “Remdesivir” , yakni sejenis obat percobaan virus Ebola dari perusahaan farmasi Gilead Science.

Obat ini dikembangkan oleh Gilead Sciences yang berbasis di Amerika Serikat, ditujukan untuk penyakit menular seperti Ebola dan SARS.

Dan AS memberikan obat tersebut secara cuma-cuma kepada pemerintah China untuk membantu mengobati Corona di China.

Pada tahun 2016, sebelumnya, Gilead sudah pernah mengajukan paten untuk obat virus corona, tapi tidak menyebut remdisivir. Hingga pada 2017, perusahaan melaporkan hasil studi dalam jurnal Science Translational Medicine menyebut obat dengan kode GS-5734.

Sonia Choi, Juru bicara Gilead mengaku telah mengetahui langkah yang dilakukan peneliti China dan pihaknya akan mengkaji lagi tentang senyawa terkait dan yang disebut dalam paten.

"Kami masih belum bisa berkomentar tentang pendaftaran paten ini karena ada keterlambatan 18 bulan sebelum pengajuan dipublikasikan," kata Sonia pada South China Morning Post (SCMP).

Institut Virologi Wuhan mengaku telah mengikuti kebijakan internasional dan mengajukan paten "dari perspektif kepentingan nasional".

Paranormal Asal Surabaya Temukan Obat Penyembuh Virus Corona 'Wu Corn'

Sebelumnya, Virus Corona telah merenggut seorang dokter mata di Wuhan, Li Wenliang meninggal di usia 34 tahun setelah terinfeksi virus corona 2019-nCoV. Ia merupakan salah seorang 'whistle blower' yang pertama kali menyerukan ancaman virus mirip SARS.

Li meninggal Jumat silam setelah didiagnoisis terinfeksi virus corona jenis baru 2019-nCoV. Tak lama berselang, The National Supervisory Commission memutuskan untuk menginvestigasi kematian Li, dan berusah keras untuk menemukan obat untuk Corona. Otoritas setempat disebut tidak transparan pada fase awal epidemi.

Li dan sejumlah tenaga medis menajadi 'whistle blower' ketika mereka menyerukan adanya ancaman virus seperti SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome). Peringatan ini, bagaimanapun dianggap sebagai tindakan ilegal oleh otoritas yang berwenang.

Kematian Li yang berusia relatif muda juga menjadi sorotan. Riset yang pernah dilakukan menunjukkan bahwa kematian akibat virus corona Wuhan lebih banyak terjadi ada usia lebih dewasa dan dengan riwayat penyakit kronis.


0 Komentar