Corona, Ancaman Kemiskinan Semakin Nyata

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Ancaman kemiskinan semakin nyata (Ilustrasi: Haluan.co)

-

AA

+

Corona, Ancaman Kemiskinan Semakin Nyata

Total Politik | Jakarta

Jumat, 17 April 2020 09:56 WIB


Situasi ekonomi yang semakin memburuk akibat wabah corona tak mustahil membuat orang untuk melakukan penjarahan.

WAJAH pria botak itu tampak muram. Tio, seorang tukang ojek online berkulit coklat itu mondar-mandir di depan kosan saya menunggu orderan penumpang. Namun sayangnya, si botak itu tak kunjung mendapatkan penumpangnya.

“Haduh gil, makin susah ini ada corona,” keluh Tio dengan aksen Jawa itu. “Gimana yoo?”

Saya yang baru keluar kosan pagi itu pun terdiam sejenak. Entah lah, pesan apa yang harus sampaikan. Tapi setidaknya, saya bisa menenangkannya.

“Sabar pak, pasti ada jalan,” sahut saya.

Tio, sambil mengeluh, kemudian mengambil madu saya yang ada di atas meja, di depan kosan, lalu kembali terlihat muram.

“Pagi-pagi, satu (penumpang) aja belum dapat Gil. Kalau pun dapat satu, ojol yang lainnya dah melototin saya,” ungkapnya setelah meminum madu.

“Ini mah nunggu jarahan aja lah Gil. Aku mau jarah aja kalau ada penjarahan. Ini udah jadi masalah perut,” pungkas dia kepada saya, lalu ia pun kembali pulang ke rumahnya.

Tak hanya Tio; Muttaqin, tukang nasi di Depok, pun merasakan hal yang sama. Omsetnya menjual nasi terjun bebas hingga 50 persen dibanding hari-hari biasa. Ini membuatnya khawatir. Atas dasar itu, keputusasaannya karena wabah corona membuat pikirannya menjadi sangat sederhana.

“Kita ke Tomang aja ngejarah barang,” seru dia kepada saya.

Omongan Tio dan Muttaqin membuat saya terhening. Tampaknya, situasi semakin sulit. Betapa beratnya kehidupan ekonomi warga tatkala wabah corona merebak di Indonesia.

Pertumbuhan ekonomi sendiri diproyeksikan hanya bisa mencapai 3 persen, bahkan bisa 2 persen, lantaran produksi yang jeblok. Sementara, dolar per 13 April 2020 ini masih di atas Rp15 ribu.

Kegiatan-kegiatan ekonomi yang mendapatkan penghasilan per hari memang sangat rentan terancam.

Ojol, tukang tambal ban, dan warung nasi juga menjadi salah satu yang terdampak, selain memang perusahan-perusahaan besar yang telah memecat, atau merumahkan dengan pemotongan gaji pun juga tak mendapat gaji sama sekali.

Di Jakarta misalnya, situasi semakin memburuk. Laporan Koran Tempo per 7 April 2020 menunjukkan, sebanyak 162.416 pekerja di Jakarta sudah tidak bekerja lagi. Dari total pekerja itu, sebanyak 30.137 di antaranya dipecat oleh 3.348 perusahaan. Sedangkan, sebanyak 132.279 pekerja “dirumahkan” oleh 14.697 perusahaan. Data tersebut diambil dari rekapitulasi laporan para pekerja yang melapor ke Dinas hingga 4 April lalu.

Meraup Pajak Digital di Tengah Corona

Tak hanya Indonesia sebenarnya, Covid-19 mampu meluluhlantakkan ekonomi semua negara, terutama dalam hal penambahan jumlah kemiskinan.

Hasil penelitian Kings College London dan Universitas Nasional Australia yang terbaru menunjukkan. Wabah corona setidaknya mampu mendorong 547,6 juta orang atau setengah miliar populasi manusia ke jurang kemiskinan.

Jumlah ini terdiri dari 239,8 juta penduduk Asia Timur dan Pasifik; 128,8 juta penduduk di Asia Selatan; 54,3 juta penduduk di Amerika Latin dan Karibia; dan 44,9 juta penduduk di Timur Tengah dan Afrika Utara.

Kemudian, ada 44,6 juta penduduk di Sub-Sahara Afrika; 30,5 juta penduduk Eropa dan Asia Tengah; dan 4,7 juta penduduk di Kawasan pendapatan tinggi yang terancam menjadi miskin.

Dari semua ini, bisa dikatakan bahwa kita semua terancam dalam kemiskinan. Bahkan lebih dari itu, jikalau memang ancaman kemiskinan ini tak teratasi, bisa jadi manusia dengan manusia akan mengancam satu sama lain. Orang akan saling bunuh hanya demi mempertahankan hidupnya. Tentu, ini tak boleh terjadi.

Lantas, What’s next? Saya rasa, pemerintah harus mampu menangani hal ini. Bagaimanapun juga, ini adalah masalah serius. Pemerintah harus sebisa mungkin meredakan wabah corona ini agar tak terus-terusan menyebar dalam jangka waktu lama. Sebab, pertaruhannya bukan hanya sekadar ekonomi belaka, tetapi bisa melampaui itu: ancaman kolapsnya negara ini. (AK)


0 Komentar