Corona, Bagai Awan Gelap Naungi Amerika Serikat
Amerika Serikat menjadi negara yang paling terpukul akibat pandemi ini. Negeri superpower ini menduduki peringkat teratas dengan jumlah kasus COVID-19 paling banyak. (Foto: Business Insider)

JAKARTA, HALUAN.CO - China sebagai negara asal Covid-19 nampaknya sudah mulai tersenyum merekah. Pasalnya, tak lagi ditemukan kasus baru di negeri tirai bambu itu. 

Usai wabah pandemi ini mereda di China, kini COVID-19 membidik sentral baru di wilayah Eropa dan AS. Mengutip data worldometers per tanggal 2 April 2020 pukul 13.24 WIB jumlah kasus positif COVID-19 diseluruh dunia mencapai 936.624 orang dan menewaskan 47.257 jiwa.

Amerika Serikat menjadi negara yang paling terpukul akibat pandemi ini. Negeri superpower ini menduduki peringkat teratas dengan jumlah kasus COVID-19 paling banyak. Per hari ini, menurut data worldometers, 215.300 warga AS terjangkiti virus ini dan menewaskan 5.110 jiwa.

Pandemi ini bak awan hitam bagi AS. Virus mematikan ini masih menyebar sementara pasokan media makin menipis, warga pun diminta tinggal di rumah hingga ancaman anjloknya perekonomian.

  • Krisis Mengancam AS, dari pasokan medis hingga ekonomi

Virus Corona nampaknya masih betah menampar negeri Paman Sam ini. Terbukti angka kasus terkonfirmasi COVID-19 kian melejit tiap harinya. Melansir NewYorkTimes, hingga Selasa lebih banyak gubernur Amerika Serikat memerintahkan warganya untuk tinggal di rumah. Bahkan, semakin banyak lagi negara bagian meminta persediaan stok darurat yang makin menipis. Melihat kejadian ini, tak sedikit ahli yang memprediksi bahwa ekonomi AS bisa anjlok dan merambat hingga tahun depan.

Berbeda dengan negara bagian lainnya, Florida kelihatannya belum was-was. Gubernur asal Partai Republikan negara bagian itu baru mengeluarkan perintah tinggal di rumah untuk warga usai ditelepon Presiden Trump. Bahkan, ia kemudian mengatakan dirinya masih belum memiliki rencana untuk komitmen nasional yang sama (seperti negara lainnya).

Lain lagi soal ancaman krisis pasokan medis. Di New York angka kematian baru dikonfirmasi mencapai ratusan. Dikutip NewYorkTimes (1/4), 75.000 warga di wilayah Tri-State initerkonfirmasi postif COVID-19 dan 1.550 diantaranya tewas.

Karenanya, Gubernur New York Andrew M. Cuomo terpaksa memohon pasokan medis untuk rumah sakitnya yang kewalahan dan tenaga medis yang mulai putus asa.

"Sungguh, satu-satunya harapan untuk negara pada saat ini adalah bantuan dari pemerintah federal," kata Cuomo.

Sayangnya, yang jadi permasalahan adalah pemerintah federal sudah hampir mengosongkan persediaan darurat pasokan medis seperti masker, hazmat dan sarung tangan seperti yang diakui seorang pejabat senior administrasi. Tak hanya itu, beberapa negara yang sangat membutuhkan ventilator justru menemukan mesin tersebut tak bekerja sama sekali.

Beda lagi jika membahas soal ekonomi. Di Washington, Partai Demokrat dan Republikan kongres bersama Presiden Trump terkait masalah ini. Mereka terlihat akan membuat rencana infrastruktur besar baru yang dapat menciptakan ribuan lapangan kerja.

Hal ini berkaca dari banyaknya berita buruk dilaporkan pada hari Kamis (26/3). Departemen Tenaga Kerja melaporkan pekan lalu bahwa lebih dari tiga juta orang mengajukan resign dari 15 Maret hingga 21 Maret, menjadi satu minggu dengan pengajuan resign terbesar dalam sejarah Amerika.

Melihat angka tersebut, klaim yang diajukan pekan lalu bisa naik menjadi 5,6 juta, menurut analisis data pencarian Google oleh ekonom Paul Goldsmith-Pinkham dari Yale dan Aaron Sojourner dari University of Minnesota.

Menurutnya, jika ramalannya itu akurat, akan ada banyak klaim pengangguran dalam dua minggu seperti dalam enam bulan pertama dari Krisis Ekonomi tahun 2008.

Di saat yang sama, kekhawatiran soal defisit ekonomi bisa jauh lebih berdampak dan bisa bertahan lama daripada yang ditakutkan sebelumnya, bahkan berpotensi bertahan hingga tahun depan, dan bahkan lebih.

  • Pemerintah Florida Belum Was-was

COVID-19 memang tak pandang bulu soal daerah mana yang akan dijangkiti. Negeri berjuluk "The Sunshine State" ini juga mengalami pembengkakan kasus terkonfimasi virus corona terutama di daerah padat Miami dan Fort Lauderdale.

Bahkan, rumah sakit di Fort Myers dan Naples memohon-mohon sumbangan masker dan peralatan pelindung lainnya. Orang-orang muda satu per satu mulai mati. Mirisnya, Gubernur Ron DeSantis tetap saja menolak untuk memerintahkan seluruh penduduk Florida harus tinggal di rumah.

DeSantis menolak lantaran ekonomi Florida sangat bergantung pada pariwisata dan akhirnya mau tak mau akan terhenti karena virus. Tanpa komitemen nasional seluruh negara bagian, pemulihan dari pandemi dipastikan memakan waktu lebih lama.

Meskipun terlambat, DeSantis pun berubah pikiran dan akhirnya mengeluarkan perintah di seluruh negara bagian untuk tetap tinggal di rumah pada Rabu (31/3). Keputusannya itu bukan tanpa alasan, melainkan karena panggilan telepon Presiden Trump menjadi pertimbangannya.

Apalagi, sehari sebelumnya di Gedung Putih tengah diproyeksi berapa banyak nyawa orang Amerika yang akan hilang. Hasilnya proyeksinya, bisa mencapai 240.000 nyawa melayang jika tak ada komitmen nasional untuk tindakan antisipasi di setiap negara bagian.

Tercatat, komitmen nasional untuk tinggal di rumah pun diadopsi 37 negara bagian termasuk yang terakhir Georgia dan Mississippi.

Berbeda dengan Los Angeles yang tampak lebih berhati-hati. Sebelumnya, LA telah lama memberlakukan perintah tinggal di rumah, namun Walikota Los Angeles, Eric Garcett membuat imbauan baru.

Seluruh penduduk kota diperintahkan untuk menggunakan masker atau penutup wajah buatan sendiri saat di depan umum ataupun berinteraksi di depan umum, Rabu (31/3) dikutip NewYorkTimes.

"Ini bukan alasan untuk tiba-tiba semua keluar rumah " katanya saat konferensi pers. "Tetapi bila Anda memang harus keluar, kami menyarankan agar kami menggunakan masker kelas non-medis, atau penutup wajah," kata dia.

Garcetti menekankan bahwa Angelonos atau penduduk LA wajib menggunakan penutup wajah kain. Bukan malah menggunakan masker bedah dan N95, yang notabenenya disediakan untuk responden pertama dan pekerja medis.

Hingga per hari Rabu (1/4), 9.599 warga California terkonfirmasi positif virus corona 206 diantaranya meninggal. Sementara itu, khusus Los Angeles tercatat 3.518 kasus dengan angka kematian 65 orang.

  • Pasokan Medis Kian Menipis

Sejak COVID-19 mulai membabi buta di Amerika Serikat, tak sedikit rumah sakit yang merasa kewalahan bahkan hampir berputus asa lantaran angka positif virus corona makin hari makin melonjak.

Persediaan darurat untuk pasokan medis pun hampir habis di lingkup pemerintah federal. Menurut pejabat senior administrasi, pasokan media tersebut banyak diminta terus-menerus oleh gubernur negara bagian untuk melondungi paramedisnya.

Ia membeberkan, Badan Manajemen Darurat Federal telah mengirim lebih dari 11,6 juta masker N95, 5,2 juta masker, 22 juta sarung tangan, dan 7.140 ventilator, yang menghabiskan persediaan darurat.

Sebab pasokan medis yang kian menipis, negara-negata bagian kini hanya berharao langkah taktis dari pemerintah federal. "Sungguh, satu-satunya harapan untuk negara pada saat ini adalah bantuan dari pemerintah federal," Gubernur Andrew M. Cuomo dari New York, Rabu (31/3).

Mr. Cuomo membeberkan soal ventilator yang didiskusikan belakangan ini. Ventilator yang diterima tak sedikit yang rusak atau mesinnyantak bekerja. Alhasil penanganan medis juga tersorot dampaknya.

Sebenarnya pasokan medis asal China bisa menjadi alternatif. Namun karena peraturan baru, rumah sakit dan klinik di luar China cenderung sulit untuk memasok respirator N95 dan peralatan perlindungan pribadi lainnya .

China memberlakukan aturan ekspor baru yang efektif untuk meningkatkan kontrol kualitas untuk pasokan medis. Sehingga setiap pasokan medis yang keluar sudah sesuai standar luar negeri.

  • Antisipasi Krisis Ekonomi

Ekonomi global seolah pincang akibat wabah pandemi COVID-19. Tak heran bila kekhawatiran soal defisit ekonomi global bisa jatuh lebih dalam dan tahan lama daripada yang ditakutkan sebelumnya. Bahkan memiliki potensi bertahan hingga tahun depan atau lebih

Di satu sisi pemerintah mengintensifkan pembatasan bisnis untuk menghentikan penyebaran pandemi. Namun di sisi yang lain kekhawatiran soal pertumbuhan ekonomi juga perlu difokuskan.

"Ini sudah menjadi rekor terdalam bagi perekonomian global selama lebih dari 100 tahun," kata Kenneth S. Rogoff, seorang ekonom Harvard. "Semuanya tergantung pada berapa lama ini akan berlangsung, tetapi jika ini berlangsung untuk waktu yang lama, hal ini pasti akan menjadi induk dari semua krisis keuangan," tambahnya.

Menurut Institute for Supply Management, survei aktivitas manufaktur dan pabrik di Amerika Serikat, Eropa dan Jepang menunjukkan aktivitas melambat ke level yang tidak terlihat dalam satu dekade atau lebih. Mirisnya lagi di Amerika Serikat, pesanan pabrik dan tindakan ketenagakerjaan turun ke level terendah sejak 2009.

Di Washington, paket stimulus $2 triliun bagi pngangguran yang diberlakukan minggu lalu mungkin tidak cukup. Partai Demokrat dan Republikan kongres bersama Presiden Trump terkait masalah ini. Mereka terlihat akan membuat rencana infrastruktur besar baru yang dapat menciptakan ribuan lapangan kerja.

Diuraikan Juru bicara Nancy Pelosi, prioritas infrastruktur meliputi memperluas broadband pedesaan hingga membangun kembali jalan dan saluran air negara untuk membantu meningkatkan ekonomi Amerika selama penyebaran pandemi.

Penulis: Nurul Charismawaty


0 Komentar