Corona Bikin Petahana Menang Lagi di Korea Selatan

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Foto Moon Jae-In

-

AA

+

Corona Bikin Petahana Menang Lagi di Korea Selatan

Total Politik | Jakarta

Jumat, 24 April 2020 11:13 WIB


Partai inkumben mendapat sambungan nyawa pada pemilu legislatif Korea. Apakah Presiden Moon Jae-in dapat menerjemahkan rasa terima kasih warganya atas keberhasilannya menanggulangi wabah Corona untuk menggolkan sisa agenda pembaruannya?

MASKER, sarung tangan plastik; selalu jaga jarak dengan orang di depan Anda. Pastikan bilik suara telah disemprot disinfektan. Sebentar, sebelum masuk TPS, ukur suhu dulu.

39.5 derajat?

Oke, silahkan ke bilik yang di sebelah kiri.

Yap, ini bukan pemilu biasa.

Pemilihan umum untuk badan legislatif Republik Korea yang digelar pada 15 April lalu mungkin merupakan pemilu pertama di dunia yang digelar saat pagebluk Corona. Warga di seantero Republik Korea (Korea Selatan) akan memilih wakil rakyat mereka untuk empat tahun yang akan datang.

Hasilnya? Tak disangka-sangka. Partai Minjudang (Demokrat), partai pengusung Presiden Moon Jae-in, menang telak. Lebih dari 52 kursi baru berhasil dimenangkannya.

Yang lebih menakjubkan lagi, lebih dari 66,2% warga Korea Selatan menggunakan hak pilihnya. Persentase ini lebih tinggi dari pemilu legislatif sebelumnya – bahkan pemilu manapun yang pernah digelar di Korea, kecuali pemilu pertama setelah demokratisasi di tahun 1992.

Hal ini bertentangan dengan prakiraan banyak pengamat. Tidak hanya menunjukkan dukungan buat inkumben, warga Korea berbondong-bondong mendatangi kotak suara, seakan tidak peduli ancaman virus Corona.

Dengan kata lain, pemilih-pemilih disana rela mempertaruhkan nyawa untuk berkata: “Kita percaya dengan pemerintah kita!”

Pertanyaannya: kok bisa?

Oke, itu ada jawaban mudahnya. Penanganan wabah COVID-19 oleh pemerintah Korea Selatan tangkas dan terampil. “Hanya” 230 warga Korea yang meregang nyawa karena pagebluk, sementara yang kena 10.635 saja. Ini prestasi yang patut dikagumi, mengingat fakta bahwa Korea pernah menjadi negara dengan jumlah kasus corona terbanyak setelah Cina.

Tipu Muslihat Cina Sang Juru Selamat

Tapi terlepas dari Corona, rekam jejak pemerintahan Moon Jae-in terbilang jauh dari kata gemilang. Apalagi, mengingat bahwa Moon terpilih dalam situasi yang luar biasa.

Pendahulunya, Park Geun-hye, dimakzulkan atas tuduhan korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan, serta dijatuhi hukuman 28 tahun penjara. Jutaan warga Korea sampai turun ke jalan untuk menuntut pemakzulannya.

Mengingat hal tersebut, Moon memulai masa jabatannya sebagai Presiden Korea Selatan dengan optimisme dan harapan yang tinggi.

Masalahnya, para pendahulunya yang mengusung agenda pembaharuan, termasuk teman dekat Moon, Roh Moo-hyun, juga menduduki kursi kepresidenan Korea Selatan dengan dukungan luas dan animo masyarakat yang tinggi sebelum menghadapi hambatan-hambatan institusional yang akan menggagalkan agenda reforma mereka.

Upaya Roh untuk memindahkan ibukota dari Seoul ke Sejong, misalnya, mendapat perlawanan dari banyak birokrat dalam pemerintahan.

Pendahulu Roh, Kim Dae-jung, memperkenalkan Sunshine Policy untuk mempererat hubungan kedua Korea, tapi prospek perdamaian yang ditunggu-tunggu semakin jauh ketika program tersebut dicampakkan oleh pemerintahan-pemerintahan konservatif Korea Selatan sesudah Roh.

Moon menghadapi masalah yang sama.

Ia mencoba mengusung wacana baru yang kalau dipikir-pikir sebenarnya bijaksana, tapi sulit diejawantahkan dalam realita.

Contoh yang paling kentara: para politisi Korea Selatan, termasuk Park Geun-hye, terbiasa mengukur keberhasilan masa jabatan mereka dari angka pertumbuhan PDB daerah masing-masing.

“Jualan” Moon sama sekali berbeda. Ia menginginkan ekonomi yang lebih adil, dengan jam kerja yang lebih pendek dan perlindungan hak pekerja yang lebih menyeluruh.

Hasilnya? Penerapan wacananya berbarengan dengan perlambatan ekonomi dunia yang menyertai perang dagang Amerika-Cina. Angka pengangguran yang terus meningkat berbanding terbalik dengan popularitas Presiden Moon yang terus menurun. Pada bulan Oktober 2019, Moon mencapai titik terendah dalam karir politiknya ketika beberapa anggota Partai Demokrat, termasuk Menteri Hukum yang ditunjuknya, terlibat dalam kasus korupsi.

Di lini lain, upaya Presiden Moon untuk menceraiberaikan kekuatan para chaebol (konglomerat-konglomerat Korea) dan menciptakan ekonomi yang lebih kompetitif menemui jalan buntu. Selain daya ekonomi, para chaebol berhasil membangun jaringan politik yang luas untuk mengamankan kekayaan mereka.

Corona: Lockdown versus Penyelamatan Ekonomi Nasional

Bukan kebetulan, mereka adalah salah satu kelompok pendukung utama pendahulu Moon, Park Geun-hye. Rintangan demi rintangan yang dihamparkan para chaebol berhasil menunda upaya reforma Moon. Posisi Sang Presiden juga rentan karena partainya tidak memegang mayoritas yang stabil di parlemen Korea Selatan.

Oleh karenanya, kemenangan Partai Demokrat sebagai imbas dari wabah Corona bak nyawa kedua bagi Moon Jae-in. Mayoritas yang terbilang menang telak di parlemen akan amat membantunya dalam meloloskan agenda reformanya.

Setelah awal yang menjanjikan dan paruh pertama yang buruk, kini ia dan partainya dapat mencoba untuk memuaskan konstituen-konstituen mereka –sekaligus memastikan jalan untuk seorang presiden dari Minjudang di tahun 2022.

Walau demikian, kegemilangan di kotak suara pada hari Rabu kemarin juga akan ditafsirkan Moon bahwa pemilih Korea menyepakati semua inisiatifnya, termasuk program perdamaian dan rekonsiliasi dengan Korea Utara, yang sejauh ini belum membuahkan hasil apa-apa, dan juga mengenai pemotongan jam kerja yang belum terlihat manfaatnya.

Kita tidak tahu apakah program-program Moon akan banyak berguna. Yang pasti, perlambatan ekonomi di kawasan yang menyusul memburuknya ekonomi Cina akan memperburuk angka pengangguran Korea Selatan – yang toh sudah naik karena kebijakan Moon.

Keberhasilan partai inkumben di kotak suara adalah mosi kepercayaan rakya Korea atas keberhasilan pemerintahannya menangani pagebluk corona.

Apakah itu berarti bahwa langkah-langkah lain Presiden Moon direstui mereka?

Hanya waktu yang bisa berkata. (GA)


0 Komentar