Corona dan Kegagalan Trump dalam Komunikasi Publik

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Timeline Respons Trump Terhadap Corona (Ilustrasi: Total Politik)

Pil Kina, Cina, dan Hoaks Demokrat: Bagaimana Trump melompat sana sini dalam menangani wabah Corona?

TIGA ratus enam puluh delapan ribu dan seratus tujuh puluh empat. Hayati angka itu dalam-dalam. Tiga ratus enam puluh delapan ribu dan seratus tujuh puluh empat adalah jumlah total pasien yang terjangkit wabah COVID-19 di Amerika Serikat per tanggal 7 April 2020. Tambahkan angka itu dengan 10,966 orang yang telah meninggal karena Corona, dan bandingkan dengan jumlah penduduk Amerika Serikat – anggap saja 330 juta jiwa.

Izinkan saya menyederhanakannya untuk anda: lebih dari 1 dari setiap 1000 orang di AS sudah terjangkit COVID-19.

Dari rasio yang timpang ini, kita mendapatkan gambaran kasar mengenai taraf persebaran virus asal Wuhan itu di Amerika Serikat. Sekarang, perburuk fakta ini dengan anekdot-anekdot bobroknya sistem kesehatan AS yang bikin bergidik dan pemerintah federal yang berpangku tangan.

Dan saya rasa, pertanyaan yang ada di benak saya maupun anda kurang lebih sama: Bagaimana mungkin?

Tentu, membuat penilaian yang menyeluruh terhadap upaya Amerika Serikat untuk menanggulangi wabah COVID-19 sama sekali diluar kapasitas dan kewenangan seorang juru ketik konten media daring.

Sebaliknya, saya bisa menawarkan suatu kronologi: bagaimana Amerika Serikat menuturkan tanggapannya terhadap wabah ini sejak virus itu masuk radar pemerintah federal untuk pertama kalinya.

Soal itu, tidak ada sumber yang lebih baik daripada lisan sang panglima tertinggi: Donald J. Trump. Kisah ini dimulai dari tanggal 22 Januari.

“Kita sudah punya rencana matang, dan sejauh ini kita menanganinya dengan cukup baik dan profesional” ujar Trump di Davos, Swiss (22/01/20).

Ketika itu, Trump sedang menghadiri pertemuan tahunan Forum Ekonomi Dunia (WEF). Pada tanggal 22 Januari, belum ada kasus yang tercatat di Amerika Serikat, dan sang Presiden punya alasan kuat untuk mengeluarkan pernyataan yang penuh percaya diri.

Tanggal 27 Januari, kini dirinya agak jumawa. Dalam sebuat cuitan yang lebih layak digolongkan sebagai ejekan, Trump menyatakan bahwa Amerika “menawarkan bantuan apapun yang diperlukan Cina dan Presiden Xi (Jinping)”. Belum ada satu minggu sebelumnya ia masih berseteru dengan Xi soal pencurian teknologi dan kompetisi dagang.

Masuk Februari, Trump kembali ke senjata lama: agitasi anti-Cina.

Pada 2 Februari, ia mengangkat wacana untuk menutup jalur perjalanan dari Cina. Padahal, pada bulan yang sama, ada kemajuan dalam negosiasi perjanjian dagang dengan Cina. Negara itu sepakat mulai memotong bea masuk barang-barang impor dari Amerika Serikat. Tapi, “Tenang saja kok,” tambahnya.

Trump kembali meremehkan bahaya Corona – atau bahkan fakta-fakta medis mendasar soal virus itu – dengan menyiratkan “virus itu akan hilang dengan sendirinya” begitu cuaca memanas di bulan April pada tanggal 10 Februari.

Bukan secara berkebetulan, belum ada kejadian dimana virus itu menjangkiti warga negara Amerika. Di titik ini, sebagian besar kasus yang ditangani adalah warga negara Cina atau negara lainnya yang terjaring tes di bandara.

Tapi, terdapat perubahan yang mendadak dalam wacana-wacana yang dilempar Sang Presiden.

Nampaknya, implikasi dari virus Corona terhadap peluangnya untuk kembali terpilih pada bulan November nanti mulai makin serius.

Terbuai dengan jumlah infeksi Corona yang terjadi sejauh ini, pernyataan-pernyataan yang ia keluarkan dari tanggal 24 hingga 27 Februari itu secara bergantian menunjukkan optimisme, keangkuhan, pembelaan diri, hingga penyangkalan terhadap realita. Begini uraiannya.

• Februari 24: (Di Twitter) Ah ini virus sudah tertangani kok di Amerika ... Pasar saham mulai bagus tuh;

• Februari 25: (Di Twitter) CDC dan pemerintahan saya sudah melakukan penanganan virus Corona dengan hebat;

• Februari 26: Anggap saja kayak flu biasa;

• Februari 27: Kayak mukjizat bakal hilang sendiri, mungkin akan memburuk dulu sebelum kemudian membaik, tidak ada yang tahu;

Jujur, saya sulit untuk tidak membandingkan ini dengan Kubler-Ross Grief Cycle. Menurut saya, kesamaannya begitu kentara.

Nada Trump mulai berubah pada bulan Maret. Kasus Coronavirus kedua muncul di Negara Bagian New York, yang segera diikuti dengan menyeruaknya klaster-klaster baru penyebaran wabah.

Para gubernur mulai menyerukan perlunya bantuan untuk negara bagian mereka masing-masing, terutama Gubernur New York Andrew Cuomo dan Gubernur Michigan Gretchen Whitmer.

Pada 2 Maret, jumlah penderita Corona di AS telah menembus angka 100. Jumlah tersebut jelas bertentangan dengan pernyataan Trump sebelumnya yang menyebutkan, virus itu telah “sepenuhnya terkendali” dan jumlah kasus yang, walaupun ada, hanya berjumlah “15 orang”.

Saya rasa, kondisi Maret adalah kondisi ketika Trump dan lingkaran dekatnya mulai panik soal wabah.

Trump dan Nama-nama Pemberian untuk Lawannya

Tanggal 4 Maret: Trump mencetuskan klaim berbahaya bahwa “ribuan atau ratusan ribu orang” telah membaik dengan sendirinya, bahkan dalam titik dimana mereka “bisa bekerja dan tetap membaik”.

Prioritasnya adalah ekonomi; resesi atau kesan bahwa taraf hidup pemilih Amerika mengalami penurunan akan memperburuk peluangnya di bulan November.

Tanggal 9 Maret: Trump selalu menemukan kambing hitam. Tampaknya, ia memang seorang populis yang piawai.

Partai Demokrat AS telah berkomplot dengan Media Fake News untuk memperparah krisis dan menjatuhkan pemerintahannya. Cuitan ini di-RT 26 ribu kali.

“Resikonya rendah kok untuk orang Amerika pada umumnya” tambahnya dalam cuitan yang sama, mengutip otoritas medis tertinggi di pemerintah federal.

“Bakal hilang sendiri, oke? Santai saja, bakal hilang sendiri” kata Trump pada tanggal sepuluh.

Bukan kebetulan, pertengahan Maret adalah kondisi ketika penderita virus meningkat secara eksponensial.

Lebih dari setengahnya terjangkit terjadi di kota New York dan Negara Bagian New Jersey yang terletak tepat di sebelahnya. Pada titik ini, para gubernur mulai mengambil inisiatif sendiri untuk memaksa warganya tetap di rumah dan mengimpor peralatan medis dari berbagai sumber.

Sebaliknya, Pemerintahan Trump bergeming. Pencapaiannya sejauh ini adalah meloloskan paket stimulus ekonomi.

Akan tetapi, mengenai Defense Production Act, undang-undang yang akan memberikan kewenangan bagi pemerintah federal untuk mengambil alih produksi dan distribusi barang-barang tertentu dalam situasi darurat itu, belum dikeluarkan.

Pada tanggal 16 Maret, total kasus Corona di Amerika Serikat telah mencapai 4.459 dan memakan 87 korban. Tapi, tidak ada yang mengira bahwa angka ini akan naik nyaris 83 kali lipat.

Hanya saja, dari itu semua, masih ada pernyataan Trump yang janggal dan paling mengherankan. “Dari dulu saya sudah tahu kok ini pandemi” sebut Trump pada tanggal 17 Maret. (G)


0 Komentar