Corona dan Pembatalan Ujian Nasional

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Corona & Pembatalan Ujian Nasional

-

AA

+

Corona dan Pembatalan Ujian Nasional

Total Politik | Jakarta

Selasa, 31 Maret 2020 18:54 WIB


Pembatalan Ujian Nasional yang disebabkan corona memang tak salah, namun perlu dipertimbangkan kembali mengenai peniadaan UN secara permanen.

CORONA tak hanya meluluhlantakkan ekonomi dan keselamatan rakyat, tetapi juga bahkan pendidikan. Akibat wabah Covid-19 yang berkepanjangan ini, pemerintah memutuskan untuk membatalkan pelaksanaan Ujian Nasional (UN) 2020.

“Setelah kami pertimbangkan dan diskusi dengan presiden dan instansi di luar, kami putuskan membatalkan Ujian Nasional 2020,” kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim setelah rapat melalui Video Conference yang dipimpin Presiden Joko Widodo dengan topik “Kebijakan UN Tahun 2020” di Jakarta, Selasa (24/3/2020), dilansir Antara.

Alsannya mendasar: demi keamanan dan kesehatan siswa-siswa. Kata Nadiem, keamanan keluarga siswa-siswi dapat mengalami ancaman.

“Bukan hanya untuk siswa-siswa, tapi juga keluarga dan kakek-nenek, karena jumlah sangat besar, delapan juta yang tadinya dites UN,” katanya.

Kebijakan yang dilakukan Nadiem tidak lah salah, melainkan tepat. Bagaimanapun juga, keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi dalam penyelenggaraan negara. Negara, menurut saya, sedang dalam keadaan darurat karena wabah corona.

Sehingga, upaya penyelamatan dan pengamanan rakyat harus diprioritaskan. Dengan meniadakan UN, setidaknya pemerintah bisa meminimalisir keadaan terburuk di negara ini.

Namun, peniadaan UN tahun ini bisa jadi adalah peniadaan UN untuk ke depannya. Pro-kontra tentu terjadi, perlu sekali dibahas guna mengoreksi kebijakan pendidikan agar tetap terarah.

Pindah Ibu Kota Negara Lain Dulu Lain Sekarang

Ujian Nasional

Ide untuk meniadakan UN bukanlah terjadi tiba-tiba begitu saja. Kiranya tahun lalu, Nadiem memang telah merencanakan peniadaan UN pada 2021. Jadi, perencanaannya, tahun 2020 adalah tahun terakhir UN. Kondisi berubah tatkala wabah corona melanda—akhirnya benar-benar dibatalkan.

Berbicara soal UN, sebetulnya tes tersebut bukanlah hal baru. Sejak tahun 60-an, UN sebetulnya sudah ada. Hanya saja berbeda namanya, yakni Ujian Negara yang berlangsung pada 1965 hingga 1971. Kemudian, berganti lagi menjadi Ujian Sekolah dari 1972 hingga 1979.

Setahun kemudian, nama berubah kembali menjadi Evaluasi Belajar Tahap Nasional (Ebtanas) hingga 2002. Pada 2003, nama ujian kembali berubah menjadi Ujian Akhir Sekolah hingga 2007. Lalu, berubah lagi menjadi Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN) pada 2008-2010. Baru setahun kemudian, nama Ujian Nasional (UN) diberlakukan hingga kini.

Keberadaan UN dinilai sebagian pakar sangat penting sebagai alat ukur kemampuan seseorang siswa. Dalam pemerataan pendidikan, UN dianggap sebagai strategi jitu.

Menurut Psikolog Aaron S. Benjamin dan Hal Pashler, dalam jurnal “The Value of Standardized Testing: A Perspective from Cognitive Psychology”, keberadaan ujian itu sangat penting guna mengambil dan menghasilkan informasi yang telah dipelajari. Dengan adanya informasi tersebut, siswa bisa meningkatkan kapasitasnya dalam pengetahuan.

Tak hanya itu, ujian juga bisa meningkatkan efektivitas cara siswa dalam mengakses dan mengorganisasi informasi yang telah teruji. Sekaligus juga, ujian mampu mengaktualisasi siswa.

Begitulah gagasannya, namun tak bisa dipungkiri bahwa keberadaan UN juga masih jauh dari sempurna. Pasalnya, UN yang seharusnya menjadi standarisasi nasional dalam mengukur kemampuan ternyata tak sebagus yang diharapkan.

Tidak meratanya mutu pendidikan, mulai dari kapasitas guru hingga pihak pengelola sekolah dalam menghadapi ujian membuat pelaksanaan UN dianggap sebagai beban baru yang terus berulang. Tak hanya pihak pengelola sekolah, siswa pun demikian.

Perlu Disadari

Saya kira, kita perlu menyadari bahwa menyoal UN itu penting.

Meski wabah corona akhirnya membuat UN ini batal, tetapi perlu ada alat ukur alternatif yang sepadan dengan ujian tersebut. Pelaksanaan UN adalah evaluasi untuk sekolah dan pendidikan, bukan hanya guru saja.

Keputusan membatalkan UN karena wabah corona adalah keputusan yang tidak salah. Namun setelah wabah corona berakhir, saya kira perlu ada alat ukur baru yang dianggap lebih baik daripada UN. (AK)


0 Komentar