Corona dan Trump si Tukang Pilah-Pilih Kasih

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Kolase gubernur-gubernur di Amerika Serikat (Ilustrasi: Total Politik)

-

AA

+

Corona dan Trump si Tukang Pilah-Pilih Kasih

International | Jakarta

Kamis, 23 April 2020 11:43 WIB


Beberapa gubernur negara bagian di Amerika Serikat mengeluhkan keterbatasan peralatan medis dan sumber daya, walaupun negara bagian mereka amat terdampak wabah Corona. Langkah Trump untuk "menghukum" lawan-lawan politiknya?

RONALD Dion DeSantis adalah orang yang tepat di saat yang tepat. Berlatar belakang sarjana hukum dari Yale dan Harvard, sekaligus juga perwira Angkatan Laut AS, DeSantis yang ketika itu merupakan anggota kongres dari Florida adalah salah seorang yang pasang badan untuk Trump di medio 2017-2018, ketika nasib sang presiden berada di ujung tanduk.

Sebentar, ada apa di tahun 2017? Trump yang baru saja terpilih sebagai presiden sedang diburu dalam investigasi khusus yang diutus Kongres—dipimpin Robert Mueller—terkait keterlibatan Rusia dalam Pemilu 2016 yang memenangkannya. Masalahnya, gaya kepemimpinan Sang Presiden turut membuat gusar rekan-rekannya dari Partai Republik. Dalam Kongres yang mayoritas Demokrat, Sang Presiden akan membutuhkan sekutu untuk menjauhkan investigasi Mueller dari dirinya.

Berlatar belakang sebagai mantan tentara, DeSantis ditempatkan di Komisi Kongres untuk Urusan Intelijen. Dengan segera, ia membuktikan diri sebagai seorang pendukung Trump sejati. Mueller baru saja enam bulan bekerja ketika DeSantis mengajukan amandemen yang akan membatasi pendanaan bagi investigasinya di bulan Agustus 2017.

DeSantis menggencarkan serangannya dengan menyerukan kepada Direktur FBI Christopher Wray, untuk menyelidiki beberapa bawahannya yang terlibat dalam investigasi Mueller pada bulan April 2018. Sepanjang tahun 2018, DeSantis menyibukkan diri dengan dua hal: kampanyenya untuk menjadi Gubernur Florida; menyerang lawan-lawan politik Trump dalam parlemen maupun pemerintahan.

DeSantis terlihat begitu menggebu-gebu memamerkan dukungannya untuk Trump. Dalam salah satu iklan kampanyenya, ia mendandani anaknya dengan kaus MAGA dan mengunggah video saat mereka bersama-sama membangun tembok—merujuk pada slogan “Build the Wall”-nya Trump.

Dan, Trump adalah seseorang yang tahu balas budi. Donor-donornya memberikan dukungan penuh bagi DeSantis, terlebih karena Florida adalah salah satu negara bagian “ungu” dengan arti daerah tersebut diperebutkan secara sengit antara kubu Demokrat dan Republiken. Florida juga merupakan kampung halaman kedua Trump. Sang Presiden memang sering mudik ke sana, terutama sejak ia membeli resor Mar-a-Lago di tahun 1985.

Trump, rupanya, lebih suka Florida daripada kampung kelahirannya. Lebih tepatnya, ia lebih suka DeSantis si gubernur Florida daripada Andrew Cuomo, gubernur New York yang sedang kewalahan menghadapi Corona.

Corona dan Kegagalan Trump dalam Komunikasi Publik

Bukan hanya Republiken, DeSantis telah membuktikan kesetiaannya dalam proses investigasi Mueller. Ia juga mendukung penuh kebijakan-kebijakan Sang Presiden. Ketika ditanya soal isu-isu yang mana dirinya tak sepakat dengan posisi yang dianut Trump, DeSantis menjawab dengan enteng: “tidak ada.”

Maka ketika wabah COVID-19 menghantam Florida, Trump tahu betul cara menghadiahi pengabdian anak emasnya itu. Jauh sebelum 16 ribu infeksi terdeteksi di Florida, Trump telah membanjiri negara bagian itu dengan alokasi APD, ventilator, dan masker yang melampaui kebutuhannya. Sebaliknya, New York selaku negara bagian yang paling banyak terdampak nyaris tidak mendapatkan bantuan federal apa-apa.

Gubernur Cuomo dibuat meminta-minta. Pada tanggal 24 Maret, misalnya, hanya 400 dari total 30.000 ventilator yang ia minta sampai ke negara bagiannya. Pada hari itu, 192 warga New York telah meregang nyawa. Pemerintahan Trump balik menyalahkan si gubernur karena “menggambarkan dirinya seakan-akan Presiden (Trump) tidak melakukan apa-apa.”

Trump seakan-akan berkata: “salah sendiri.”

Pertengkaran sang presiden dengan gubernur-gubernurnya tidak berhenti sampai di situ. Ia mengesampingkan Gretchen Whitmer, Gubernur Michigan, sebagai “wanita dari Michigan.”

“Dia tidak melakukan apa-apa”, ejeknya. “Cuma bisa menyalah-nyalahkan pemerintah federal saja.”

Untuk Jay Inslee, gubenur negara bagian Washington, Trump menelurkan ejekan baru.

“Ular”, desisnya, merujuk pada Inslee.

“Saya sampai ngomong ke (Wakil Presiden) Mike (Pence) – tidak perlu memuji-muji dia (Inslee)”.

Padahal, Inslee lah yang memberlakukan kebijakan social distancing ekstra ketat dan terbilang berhasil menanggulangi Corona di negara bagian yang padat penduduk itu.

Trump juga memancing perkara dengan Gubernur Illinois J.B. Pritzker. Pritzker, di matanya, hanya bisa mengeluh saja. Pun Pritzker tidak menanggapi hinaan ini dengan begitu saja.

Ia membuat daftar panjang kesalahan-kesalahan Trump dalam menangani wabah, dimulai dari caranya meremehkan bahaya virus di bulan Februari hingga pelbagai hoax medis yang dicuitkan Trump di dunia maya.

Memang, gubernur-gubernur ini—yang, bukan kebetulan, nyaris kesemuanya merupakan orang Demokrat—tidak bisa dibenarkan sepenuhnya. Tahun 2020 adalah tahun politik. Semua orang tahu bahwa peluang untuk menjatuhkan pamor sang presiden sebelum bulan November tidak bisa dilewatkan begitu saja.

Cuomo sendiri, misalnya, mulai menahan diri untuk tidak menyerang Trump secara pribadi. Ia nampaknya menyadari bahwa New York membutuhkan sumber daya pemerintah federal untuk menangani wabah yang paling parah melanda negara bagiannya.

Lebih penting lagi, ia tahu persis bahwa mengkritik pemerintahan Trump tidak akan mempercepat pengiriman pasokan peralatan medis yang teramat dibutuhkan New York. Ia dan sang presiden, suka tidak suka, harus bekerja sama.

Sentimen ini dibalas Trump dengan positif.

“Cuomo bekerja keras!” cuitnya, seakan merestui kinerja sang gubernur di tanah kelahirannya.

Bagaimana dengan DeSantis? Gubernur Florida itu berhasil memelihara hubungan yang jauh lebih erat, lebih akrab, dengan sang presiden dibanding kolega-koleganya. Ketika pemerintah negara bagian Florida memaklumatkan pembatasan sosial berskala besar, sang gubernur tidak lupa untuk menghubungkan kebijakannya dengan “perubahan sikap” Presiden Trump.

Padahal, tidak sampai satu minggu sebelumnya, pendekatan yang DeSantis ambil terkait PSBB di Florida sama persis dengan apa yang Trump lakukan terhadap gubernur-gubernurnya: terserah kalian mau bagaimana.

Agak terlalu jauh, saya rasa, untuk menghubungkan kemelut penanggulangan Corona di Amerika dengan tindak tanduk Trump seorang. Struktur federal yang semrawut turut berkontribusi pada “keberagaman” dalam kebijakan yang diambil terkait wabah COVID-19.

Tapi, episode ini memberikan pesan yang jelas: politik ada diatas segala. (GA)


0 Komentar