Corona: Lockdown versus Penyelamatan Ekonomi Nasional

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Lockdown Versus Penyelamatan Ekonomi Nasional

Keselamatan rakyat adalah yang paling utama, dibanding penyelamatan ekonomi dalam mengatasi wabah pandemik virus corona.

ADA sebuah adagium menarik yang dilontarkan Akufo-Addo yang banyak dibagikan di media sosial. Presiden Ghana itu mengungkapkan, “We know how to bring the economy back to life. What we do not know is how to bring people back to life.”

Pernyataan itu menekankan bahwa keselamatan rakyat adalah yang paling utama, dibanding penyelamatan ekonomi dalam mengatasi wabah pandemik virus corona. Sebab, penyelamatan ekonomi masih ada jalan keluarnya, sementara tidak untuk nyawa manusia.

Karenanya, pemimpin negara itu lebih memilih untuk melakukan lockdown atau karantina negaranya untuk menekan penyebaran wabah Covid-19 yang setidaknya telah menginfeksi 780 ribu orang secara global dalam waktu 3 bulan ini.

Meskipun ekonomi pasti akan terseok-seok tatkala lockdown diberlakukan, tetapi itu bisa dibangun di kemudian hari.

Jika pemimpin di Ghana berpikir demikian, hal sebaliknya justru terjadi di Indonesia. Pemerintah Indonesia justru enggan untuk memberlakukan lockdown dan hanya sekadar memberlakukan jaga interaksi dan mobilitas secara nasional—juga masih berharap dengan investasi.

Pemerintah pusat memang terlihat tidak siap dalam menghadapi wabah corona yang merebak di berbagai daerah kini. Mulai dari terkesan meremehkan keberadan virus corona sebelum merebak di ibu pertiwi; cari peluang pariwisata ketika negara-negara dunia menutup wilayahnya karena virus tersebut; hingga dikangkangi beberapa pemerintah daerah yang justru lebih dulu menutup wilayahnya; itu semua memperlihatkan bahwa reaksi pemerintah pusat dalam menangani Covid-19 terkesan amatiran.

Padahal, jika memang pemerintah siap, mereka punya waktu dua bulan sejak Januari untuk menyiapkan penanganan wabah corona yang merebak pada awal bulan Maret ini. Namun, itu pun diabaikannya.

Kini, dengan wabah corona yang telah merebak ke 31 provinsi hingga 31 Maret ini, pemerintah ketar-ketir dalam menghadapinya.

Sebetulnya, ada atau pun tidak adanya kebijakan lockdown tetap saja membuat ekonomi Indonesia jeblok. Sebab, Indonesia secara ekonomi masih ketergantungan dengan pihak asing, terutama dengan Cina.

Di negara Cina, sejak wabah corona merebak di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, pada Januari 2020, Indonesia pun sudah ketergantungan dari kota itu. Banyak alat-alat kesehatan yang diimpor dari kota tersebut. Karena wabah corona melanda koat itu, rantai pasok distribusi barang pun terhambat.

Kemudian pada pariwisata misalnya, pariwisata Indonesia masih banyak mengandalkan turis-turis dari Cina, selain Malaysia dan Singapura.

Pada bulan Desember 2019 saja, Cina kurang lebih mampu mendatangkan 154 ribu turis atau menyokong 11,84 persen dari total jumlah turis mancanegara yang berkisar 1,3 juta turis sebagai penambah devisa pariwisata di Indonesia. Ketika wabah corona melanda di negeri tirai bambu itu, maka ekonomi Indonesia pun terhambat sejak sebelum corona mewabah di Indonesia.

Apalagi setelah virus corona merebak di Indonesia, ekonomi Indonesia makin anjlok. Dollar Amerika Serikat melejit di atas angka Rp16 ribu. Indeks harga saham jeblok. Corona membuat pasar di Indonesia panik.

Tiga Wabah Besar Sebelum Corona

Kekhawatiran pasar pada percepatan resesi dunia akibat wabah corona mengakibatkan aksi panik beli terhadap asset-aset nondolar dan berpindaah ke asset berdenominasi dolar. Ini sudah menjadi kebiasaan pasar.

Ketika ancaman krisis makin kuat dan ketidakpastian meningkat, orang-orang cenderung memilih aset-aset yang lebih aman, seperti dollar dan emas. Permintaan dollar langsung melonjak tajam walau kondisi Amerika Serikat juga tidak kondusif.

Direktur Eksekutif Economic Action Indonesia, Ronny P. Sasmita, mengatakan Bank Indonesia sendiri sudah berusaha mengguyur pasar sekunder dengan likuiditas, tapi psikologi pasar sudah terlalu terperosok pada ketakutan. Situasi tetap sulit meski dibujuk guyuran likuiditas.

“Pergerakan negatifnya terbilang cukup cepat sekaligus sangat signifikan,” tulis Ronny pada opini dalam Koran Tempo, 30 Maret 2020.

Keberadaan lockdown memang bisa memperburuk keadaan ekonomi. Namun, setidaknya itu bisa meminimalisir penyebaran wabah corona yang telah merebak ke 31 provinsi di seluruh tanah air.

Karena, wabah itulah yang menjadi sumber permasalahan yang membuat ekonomi terpuruk. Maka dari itu, sumber permasalahannya musti dituntaskan terlebih dahulu. Jika itu telah tuntas, maka ekonomi akan tumbuh dan berjalan kembali seperti normal.

Jadi, jika pun Indonesia lockdown untuk menekan penyebaran virus corona, efek ekonominya dengan kebijakan yang tidak lockdown hanyalah beda tipis. Justru dengan lockdown lah efektivitas penekanan wabah akan lebih terasa. Dan juga, bisa lebih cepat menyelematkan ekonomi nasional yang anjlok karena wabah tersebut.

Efektivitas kebijakan lockdown bisa demikian, sebab kebijakan itu melibatkan militer dalam memobilisasi massa.

Mobilisasi massa itu bisa berupa mengawasi penduduk agar tetap di rumah, sekaligus juga memberikan jaminan kepada penduduk bahwa kebutuhan sehari-hari mereka berupa bahan pokok pasti terpenuhi.

Dengan kata lain, lockdown memberikan ruang bagi militer untuk mengakomodasi dua hal tersebut. Sehingga, cara tersebut bisa lebih bisa dipetik hasilnya daripada sekadar mengimbau orang-orang untuk melakukan jaga jarak secara nasional. Kali ini, kita tak bisa menafikkan kalau kita membutuhkan militer. Tanpa militer, sulit bagi kita meminimalisir penekanan wabah tersebut. (AK)


0 Komentar