COVID-19 di Tangan Pemimpin Perempuan

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Perempuan tangguh di dengah pademi COVID-19. (Ilustrasi: Haluan.co)

-

AA

+

COVID-19 di Tangan Pemimpin Perempuan

Overview | Jakarta

Rabu, 15 April 2020 08:09 WIB


Di bawah kepemimpinan perempuan apa saja kebijakan yang diambil untuk menangani COVID-19?

PANDEMI COVID-19 membuat kita tahu bagaimana seorang pemimpin mengatur negaranya. Prioritas penanganan membuat para pemimpin menjadi sorotan, apakah mereka kompeten atau tidak. Menariknya berbagai kisah sukses pemimpin negara menekan angka persebaran atau kematian akibat COVID-19 memiliki kesamaan, yaitu negara-negara tersebut dipimpin perempuan.

Bagaimana Jerman Menghadapi Corona?

Salah satu strategi yang dipakai adalah pemeriksaan dini kepada sebanyak mungkin masyarakat untuk mendeteksi persebaran COVID-19. Jerman mengadopsi ini setelah kasus pertama terdeteksi pada 27 Januari di kawasan Bavaria. Kemudian setelah pemeriksaan diketahui area padat penduduk North Rhine Westphalia tercatat 346 jiwa positif di bulan Maret. Di bawah kepemimpinan Konselir Angela Merkel, Jerman rupanya berhasil menekan angka kematian.

Menurut Universitas Johns Hopkins, pada Senin (6/4) sebanyak 100.000 jiwa telah terinfeksi COVID-19 di Jerman dengan kematian 1.584 jiwa. Angka kematian ini mencapai 1,6 persen, lebih kecil dibandingkan dengan 12 persen di Italia, sekitar 10 persen di Spanyol, Prancis, dan Inggris, 4 persen di China, dan hampir 3 persen di Ameria Serikat. Tidak hanya itu mereka juga menyediakan layanan kesehatan terbaik, sebelum corona, rumah sakit di Jerman memiliki banyak kasur dengan fasilitas layanan intensif, kini mereka bahkan menerima pasien dari luar jerman.

Lalu, tindakan preventif model seperti apakah yang dilakukan oleh Jerman untuk menyelamatkan warganya? Rumah Sakit Charité di Berlin rupanya telah mengembangkan tes dan formula online untuk tangani COVID-19. Ketika Jerman mencatat kasus pertamanya di bulan Februari, laboratorium di Rumah Sakit Charité telah menyediakan stok alat uji COVID-19. Selain melakukan tes pengujian lebih dini, Jerman juga memberikan pelayanan melakukan social distancing, perawatan intensif, dan keterbukaan informasi sehingga pemerintahan Merkel dapat dipercaya publik.

Saat ini, Jerman sedang melakukan sekitar 350.000 tes virus Corona per minggu, jauh lebih banyak daripada negara Eropa lainnya. Tes awal dan luas telah memungkinkan pihak berwenang untuk memperlambat penyebaran pandemi dengan mengisolasi kasus yang diketahui. "Ketika saya memberikan diagnosis dini dan dapat mengobati pasien lebih awal, misalnya menempatkan mereka pada ventilator sebelum memburuk, peluang untuk bertahan hidup bagi pasien jauh lebih tinggi," kata Profesor Kräusslich, kepala virologi di University Hospital di Heidelberg, salah satu rumah sakit penelitian terkenal di Jerman.

Apa Yang Terjadi Jika Kita Tidak Percaya Pada Sains?

Jerman rupanya juga mengadopsi strategi preventif yang dilakukan oleh Korea Selatan, “Menguji dan melacak adalah strategi yang berhasil di Korea Selatan, dan kami telah mencoba untuk belajar dari itu. Ambil contoh ketika semua orang yang telah kembali ke Jerman dari Ischgl, sebuah resor ski Austria yang mengalami wabah, semua pengunjung harus dilacak dan diuji kondisi kesehatannya,” imbuh Profesor Hendril Streeck, direktur The Institute of Virology di University Hospital Bonn.

Berancang-ancang, strategi preventif rupanya dikembangkan lagi oleh Jerman hingga akhir bulan April. Otoritas kesehatan telah berencana untuk meluncurkan studi antibodi berskala besar dengan cara menguji sampel acak dari 100.00 orang di Jerman setiap minggu. Tujuan adalah untuk mengukur kekebalan tubuh yang sedang dibangun dari jumlah sampel.

“Satu kunci untuk memastikan tes yang meluas adalah bahwa pasien tidak akan dikenakan biaya apa pun untuk hal tersebut,” kata Streeck.

Selain memiliki segudang tenaga dan fasilitas medis yang memadai, banyak juga yang melihat bahwa kepemimpinan Angela Merkel merupakan salah satu alasan tingkat kematian di Jerman rendah. Merkel yang memiliki latar belakang di dunia ilmuwan bisa dengan rapi mengartikulasikan informasi pada publik. Saat mengumumkan phisical distancing di Jerman, Merkel dinilai berhasil berkomunikasi dengan amat jelas, tenang, dan teratur kepada warganya. Hal ini membuat masyarakat memiliki kepercayaan terhadap Merkel yang kemudian diikuti secara meluas di masyarakat.

Resep Hadapi COVID-19 ala Selandia Baru

Jacinda Ardern, Perdana Menteri Selandia Baru menyerukan lockdown saat menemukan Corona di negaranya. Tidak hanya itu ia juga menunjukkan sikap paripurna dalam penanganan komunikasi selama krisis. Ia memanfaatkan model komunikasi Mayfield seperti “direction-giving” (pemberian petunjuk), “meaning-making” (pemberian makna) dan “empathy” (empati). Komunikasi ini dilakukan kepda masyarakat Selandia Baru agar tetap di rumah, tujuannnya jelas, dengan tinggal di rumah mereka ikut menyelamatkan nyawa orang lain (stay home to save lives).

Pada saat yang sama Jacinda juga melakukan komunikasi penuh makna dan menjelaskan dengan baik mengapa masyarakat harus melakukan hal tersebut. Lantas menjelaskan dengan baik tantangan apa saja yang dihadapi masyarakat Selandia Baru saat berada di rumah. Mulai dari kehilangan pekerjaan, jauh dari keluarga, hingga tak bisa menghadiri pemakaman orang yang dicintai. Dari pernyataan ini, Ardern berusaha menunjukan empati tentang resiko yang akan dialami oleh masyarakat dalam melakukan kebijakan ini.

Pengumuman konferensi pers 23 Maret mengenai lockdown di Selandia Baru adalah contoh yang jelas dari pendekatan terampil Ardern, yang terdiri atas pidato yang dibuat dengan cermat, diikuti oleh waktu yang luas untuk pertanyaan media. Selain itu, Ardern menunjukkan mengatur kesulitan dengan mengembangkan kerangka kerja transparan untuk mengambil keputusan yang memungkiman masyarakat untuk memahami apa yang sedang terjadi dan mengapa bisa terjadi masalah tersebut.

Kerangka kerja transparan tersebut Ardern lakukan melalui media Facebook Live Reguler dan TV yang secara jelas membingkai pertanyaan dan masalah utama yang membutuhkan perhatian lebih. Strategi lockdown yang dilakukan oleh Selandia Baru pada 23 Maret rupanya membuahkan hasil, bahwa negara tersebut selama empat hari berturut-turut melaporkan penurunan jumlah kasus virus Corona.

Pada Kamis (9/4), Selandia Baru melaporkan jumlah kasus menjadi 1.239 dengan 1 kasus kematian. Dari ribuan kasus tersebut, hanya 14 orang yang dirawat di rumah sakit dan 317 orang telah pulih.

“Pelajaran nyata dari Selandia Baru yang dapat dipetik adalah kombinasi antara ilmu pengetahuan dan kepemimpinan yang baik,” ujar Profesor Michael Baker, Departemen Kesehatan Masyarakat Universitas Otago yang juga memberikan saran kepada pemerintahan Selandia Baru selama menangani krisis pandemi.

Michael Baker mengatakan ia kecewa dan heran mengapa negara maju seperti Amerika Serikat dan Inggris yang notabene memiliki beberapa sumber daya ilmu pengetahuan terbaik di dunia, tidak bernasib lebih baik daripada Selandia Baru. “Kami memiliki akses yang sama ke pengetahuan yang sama seperti lainnya, seluruh dunia telah mengetahui mengenai virus ini, ini seperti tsunami yang bergerak lambat, dan virusnya sangat stabil,” imbuhnya.

Jika dibandingkan, awal pekan ini Selandia Baru telah melakukan 51.165 tes, sedangkan Inggris negara yang 13 lebih banyak jumlah masyarakat dari Selandia Baru rupanya baru melakukan tes pada 208.837 orang. Sementara Perdana Menteri Inggris Boris Johnson memperingatkan warga bahwa mereka harus bersiap-siap untuk kehilangan orang yang dicintai sebelum waktu mereka, Ardern dengan jelas menghargai orang bukan hanya ekonomi dan angka, serta dirinya menanggapi ancaman dengan cepat.

Islandia dan Perusahaan Riset deCODE yang Mutakhir

Islandia yang kini dipimpin oleh Katrín Jakobsdóttir bekerjasama dengan deCODE, perusahaan riset medis di Reykjavík yang merupakan pemimpin global dalam dunia analisa genom manusia. Bersama-sama, pemerintahan dan deCODE bergegas memerangi COVID-19 yang telah ‘berhamburan’ di negara tersebut.

Data dari negara tersebut menampilkan 50 persen masyarakat Islandia yang melakukan tes COVID-19 tidak menunjukkan gejala terpapar virus tersebut. Dikutip dari Iceland Review, dikonfirmasi bahwa orang tanpa gejala rupanya dapat menyebarkan virus atau disebuat dengan silent carrier.

“DeCODE sekarang telah melakukan tes COVID-19 sebanyak 10.401 individu di Islandia. Dari mereka, 92 adalah positif. Jadi sekitar 0,9 persen dari mereka yang kami tes dalam populasi umum ternyata positif. Dan itu mungkin adalah batas atas dari penyebaran virus di masyarakat pada umumnya, “ ujar pendiri deCODE, Dr. Kári Stefánsson.

Setelah dilakukan tes tersebut, Kepala Epidemiolog Islandia Þórólfur Guðnason mendorong warga Islandia yang mendapatkan panggilan telepon dari deCODE untuk menerima tawaran pengujian.

“Pengujian telah berlangsung selama 15 hari. Selama hari berlangsung, tingkat positif telah sedikit di bawah satu persen yang memungkinkan bahwa ini adalah prevalensi populasi yang sebenarnya. Hari ini kami memanggil orang secara acak, hanya memilih secara acak dari direktori telepon. Mungkin tidak ada cara sempurna untuk mendapatkan sampel acak. Tapi saya pikir sangat mungkin bahwa angka tersebut pada akhirnya akan sedikit mendekati angka ini, mungkin antara 0,5-1 persen.” kata Dr. Kári.

Saat ini, deCODE telah mengurutkan setiap hasil kasus positif COVID-10 di Islandia. Tidak hanya yang berasal dari tes skrining yang mereka lakukan, namun hasil diagnosis rumah sakit nasional di Islandia pun juga. Sejumlah besar mutasi telah muncul, meskipun virus memiliki tingkat mutasi yang rendah dibandingkan dengan virus seperti influenza. “Walaupun laju mutasi relatif lama, namun mutasi ada banyak dikarenakan virus menyebar begitu luas. Ada begitu banyak yang terinfeksi sehingga mutasi terjadi sangat besar di masyarakat Islandia,” jelas Dr. Kári.

“Sekitar setengah dari kasus yang didiagnosis berasal dari individu yang telah dikarantina. Fokus kami adalah untuk melindungi mereka yang paling rentan yakni orang tua, sambil berusaha memastikan bahwa keseluruhan penyebaran virus tetap lambat. Kami optimis bahwa upaya gabungan untuk menguji sebagian besar penduduk akan memberikan kontribusi positif pada respons dunia terhadap pandemi ini,” ujar Kepala Epidemiolog Thorolfur Gudnason.

Hasil penelitian dari deCODE juga menerangkan asal-usul dan penyebaran virus per kasus positif. Mereka menemukan serangkaian mutasi menarik yang cukup spesifik, sebut saja seperti dari Austria, Italia, Inggris, dan Amerika Serikat. “Kami mengurutkan virus dari setiap orang yang dites positif di Islandia, namun kami dapat melihat asal geografis virus pada setiap orang yang terinfeksi. Hal ini tentunya dapat membantu ketika datang untuk melacak infeksi, mencari tahu bagaimana virus tersebut bergerak melalui masyarakat. Hanya dengan mengurutkan virus, kita dapat menentukan apakah orang terinfeksi dari orang yang sama sebelumnya. Dengan cara ini, kita dapat menentukan bagaimana mutasi virus bergerak,” jelas Dr. Kári.

Pimpinan deCODE tersebut berharap dengan ditemukannya penelitian ini dapat bermanfaat bagi orang lain bahkan negara yang mungkin nantinya dapat menggunakan model penelitian mereka untuk menangani COVID-19. “Satu-satu cara untuk menghitung kematian adalah dengan mengetahui penyebaran virus di masyarakat secara umum. Tidak cukup hanya memiliki angka-angka dari mereka yang sudah sakit atau memiliki resiko besar. Karena jika menggunakan angka-angka tersebut, Anda akan cenderung meningkatkan kematian penyakit secara drastis,” ujar Dr. Kári.

Tak berhenti di hasil penelitian tersebut, dalam jangka panjang deCODE akan menciptakan basis data genetik masyarakat di Islandia melalui hasil skrining yang sebelumnya telah dilakukan. “Kami telah mendapatkan izin dari Komite Etika untuk mulai menggunakan semua data kami. Jadi kami menyelami lebih dalam ke semua studi yang lainnya. Data-data itu nantinya dapat membuktikan bahwa kelangsungan hidup spesies kita sangatlah penting,” kata Dr. Kári.

75 Persen Gaji Masyarakat Denmark Ditanggung Pemerintah

Pada 11 Maret 2020, Perdana Menteri Denmark, Mette Frederiksen mengadakan konferensi pers di Kopenhagen. Di dalam konferensi pers tersebut, Mette menyampaikan langkah-langkah Denmark untuk membendung penularan COVID-19 yang juga mulai menyebar di The Danish. Tepat pada tanggal tersebut, Mette bekerjasama dengan pihak militer Denmark untuk memerangi penyebaran pandemi COVID-19. Otoritas negara mulai menutup sekolah, tempat penitipan anak, cafe, restoran, gym, menutup perbatasan wilayah, dan melarang kedatangan orang yang berasal dari luar Denmark sebagai usaha pencegahan penyebaran virus. "Kami sangat menyadari bahwa ini akan memiliki konsekuensi yang parah untuk bisnis dan keluarga,” kata Frederiksen.

Thomas Benfield, salah satu ahli epidemiologi terkemukan mengatakan bahwa penutupan atau lockdown merupakan hal yang tepat dilakukan untuk menangani pandemi ini. “Saya cukup yakin ini langkah yang tepat. Kami telah melihat banyak transmisi lokal dari beberapa hari lalu. Pengalam dari Tiongkok dan Italia, Anda tidak bisa berbuat cukup untuk mengatasi epidemi ini. Kami benar-benar berharap bahwa melalui semua tindakan yang kami ambil nantinya tidak akan terjadi keparahan seperti di Italia,” ujarnya.

Menurut data WHO Jum’at (9/4), tercatat sebanyak 5.819 orang telah terinfeksi dan positif COVID-19 di Denmark dengan angka kematian 247 jiwa serta kesembuhan sebanyak 1.773 orang.

Selain melakukan lockdown dan menutup perbatasan wilayah, Denmark juga memperjuangkan nasib kelanjutan dari masyarakatnya. Dikutip dari The Guardian, perusahaan swasta yang berjuang dengan langkah-langkah drastis untuk menekan penyebaran COVID-19 ini akan ditanggung sebanyak 75 persen untuk gaji karyawannya. Asal dengan syarat, pemerintah Denmark meminta untuk tidak ada perusahaan satu pun yang melakukan pemecatan dan pemotongan gaji pegawai.

Tawaran ini adalah salah satu dari beberapa paket bantuan ekonomi oleh pemerintah untuk membantu perusahaan dan karyawan meredam dampak dari kebijakan penanganan COVID-19.

Kabar baiknya, lagi, negara yang pertama kali melakukan lockdown di kawasan Eropa ini pada 15 April mendatang akan membuka kembali kotanya! Pusat penitipan anak dan sekolah oleh Mette Frederiksen akan akan dibuka, sehingga memungkinkan orang tua untuk kembali kerja normal seperti biasa. Namun, larangan pertemuan lebih dari 10 orang tetap dijalankan hingga 10 Mei, sementara larangan pertemuan dengan skala besar akan berlaku sampai Agustus 2020.

Mette juga memperingatkan bahwa pembukaan secara bertahap ini hanya akan terjadi jika jumlah terinfeksi dan kesembuhan tetap stabil. Dirinya juga mendesak semua warga Denmark untuk tetap berpegang pada pedoman pemerintah yakni social distancing dan menjaga kebersihan.

Pembukaan bertahap ini dilakukan oleh pemerintahan Denmark karena jumlah kematian setiap harinya mulai melambat dari jumlah 18, menjadi 14, dan tujuh. Sementara jumlah rawat inap telah sedikit menurun selama seminggu terakhir. “Jika kita membuka Denmark terlalu cepat akan berisiko infeksi meningkat terlalu tajam dan kemudian kita harus menutup lagi,” kata Frederiksen.

Denmark merupakan negara kedua di Eropa, setelah Austria, yang memberikan tanggal dan rincian tentang pembukaan kembali secara bertahap dari lockdown.


Penulis: Debby Utomo


0 Komentar