Dampak COVID-19 Berkepanjangan, HNW Usulkan RUU Bank Makanan

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Warung-warung milik warga nampak sepi pembeli di Pelabuhan Kali Adem, Jakarta, akibat dampak dari COVID-19. (FOTO: Haluan.co/Fajar AM)

JAKARTA, HALUAN.CO - Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid (HNW), mengusulkan kepada DPR RI untuk memprioritaskan pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) untuk mengatasi dampak COVID-19, salah satunya RUU Bank Makanan untuk Kesejahteraan Sosial.

Mengapa ini penting: RUU Bank Makanan dibutuhkan sebagai antisipasi bila pandemi COVID-19 di Indonesia semakin berkepanjangan dan banyak korban berjatuhan secara sosial dan ekonomi akibat bencana nasional nonalam tersebut.

"Seluruh elemen bangsa harus inovatif-kreatif dan fokus dalam menghadapi pandemi COVID-19 ini, termasuk DPR, salah satu yang bisa diusahakan adalah hadirnya payung hukum seperti RUU yang sangat bermanfaat untuk kondisi saat ini dan dampaknya ke depan seperti RUU Bank Makanan untuk Kesejahteraan Sosial," kata HNW dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Minggu (19/4/2020).

Konteks:

  • Kesejahteraan sosial merupakan salah satu imbas terberat dari pandemi COVID-19 karena banyak warga yang berkurang atau hilang penghasilannya dan daya belinya akibat pandemi tersebut. Padahal, kebutuhan makanan sehari-hari tidak bisa ditunda-tunda.
  • Selain bantuan sosial yang merupakan kewajiban pemerintah, masyarakat bisa dibantu kebutuhan dasarnya dari Bank Makanan yang dikelola oleh masyarakat secara gotong royong.
  • RUU Bank Makanan untuk Kesejahteraan Sosial telah ditetapkan ke dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) 2019-2024 atas usulan Hidayat Nur Wahid melalui Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (FPKS). Namun, RUU ini belum ditetapkan ke dalam Prolegnas RUU Prioritas yang dibahas pada 2020.

Apa itu bank makanan:

  • Bank makanan adalah lembaga/tempat yang dikelola oleh suatu organisasi sosial yang kegiatannya menyediakan makanan kebutuhan dasar manusia, yg dapat diperoleh secara cuma-cuma oleh orang yang membutuhkan.
  • Sumber makanan yang ada di bank makanan tersebut biasanya berasal dari makanan berlebih seperti dari rumah tangga, restauran, catering atau acara pernikahan (food waste) yang masih layak untuk dikonsumsi;
  • Kemudian berasal dari makanan berlebih yang yang hilang atau terbuang antara rantai pasok produsen dan pasar yang diakibatkan oleh proses pra-panen tidak sesuai dengan mutu yang diinginkan pasar disebabkan permasalahan dalam penyimpanan, penangangan, dan pengemasan.

Amerika jadi contoh:

  • Beberapa negara seperti Amerika Serikat, sebagai contoh yang parlemennya aktif menciptakan instrumen hukum untuk merespon wabah COVID-19, dengan produk perundangan yang membantu warga korban COVID-19, di antaranya dengan Families First CoronaVirus Response Act.
  • Di negara itu bank makanan sangat diandalkan masyarakat AS untuk memenuhi kebutuhan akibat pengangguran yang disebabkan oleh COVID-19.

"Ini terbukti dengan sejumlah pemberitaan, di mana masyarakat AS banyak yang membuat sampai antrian panjang di depan sejumlah bank makanan yang ada di sana," ujar HNW.

Kartu Prakerja Diragukan Mampu Pulihkan Perekonomian Imbas Corona

Pemerintah harus tanggap:

  • Indonesia harus tanggap dan perlu mengantisipasi dampak COVID-19 dengan hadirkan bank-bank makanan yang legal, melalui disahkannya RUU Bank Makanan untuk Kesejahteraan Sosial.
  • Data FAO pada 2016, Indonesia berada di urutan terbesar kedua (setelah Arab Saudi) sebagai negara penyumbang makanan terbuang atau food waste dengan total 13 juta ton makanan yang terbuang setiap tahunnya.

"Jumlah yg sangat besar. Ini bisa memberi makan hampir 11 persen populasi Indonesia, atau 28 juta penduduk Indonesia setiap tahunnya," ungkapnya.


0 Komentar