Dari Malang hingga Purworejo: Perundungan Anak Perlu Disikapi Secara Tegas
Perundungan anak menjadi kasus serius dalam lingkungan institusi pendidikan di tanah air (Haluan.co)

Beberapa kasus perundungan memang beruntung dapat diketahui banyak khalayak melalui laporan-laporan dalam media sosial. Namun tentu, banyak yang tak sempat terekam atau diketahui banyak orang. Belum lagi, majemuknya sikap dan sifat para anak sekolahan makin menyulitkan identifikasi aksi perundungan. Lantas, bagaimana seharusnya institusi pendidikan menanggapi hal macam ini?

BELUM lama sejak meninggalnya seorang siswi SMP di Ciracas, Jakarta Timur awal tahun lalu, hingga kini perundungan anak masih saja terjadi dan makin nyata menjadi ancaman bagi anak. Kejadian bunuh diri seorang siswi di Ciracas menjadi sinyal kuat bagi institusi pendidikan dan kementerian terkait dalam menyikapi perundungan anak di lingkungan sekolah.

Namun, belum sampai hal itu disikapi secara niyata, perundungan anak justru terjadi lagi di Malang dan Purworejo. Sangat disayangkan, institusi pendidikan nampaknya tak berdaya menghadapi kasus semacam ini.

Peristiwa perundungan anak di SMPN 16 Kota Malang menjadi salah satu yang menyisakan luka fisik dan tentu mental pada seorang anak. Seorang siswa yang diduga menjadi korban perundungan terpaksa kehilangan dua jari tangannya yang diamputasi. Hal ini lantas menjadi alasan kuat bagi walikota Malang untuk mencopot kepala sekolah yang bertanggung jawab.

Beberapa keterangan keluarga korban mengatakan bahwa memang anak tersebut bersifat tertutup dan tak banyak bicara. Sikap introver pada anak umumnya membuka potensi perundungan makin lebar. Sebab, sifat tertutup seorang anak justru menjadikan para pelaku perundungan bergerak bebas. Pada momen seperti inilah harusnya institusi pendidikan dapat melakukan “jemput bola” dalam mendampingi atau melakukan konsultasi terhadap anak didiknya.

Tak lama setelah kasus perundungan di Malang, hal serupa terjadi lagi pada siswi salah satu SMP swasta di Purworejo, Jawa Tengah. Hal ini sempat viral karena aksi perundungan fisik tersebut direkam melalui video ponsel. Ganjar Pranowo pun dengan cepat mendapat laporan ini melalui akun Twitter-nya.

Lantas, sang gubernur langsung menindak lanjuti laporan kepada sekolah terkait. Adanya video membuat penanganan aksi perundungan lekas diselesaikan. Terutama, terciduknya tiga siswa yang melakukan perundungan fisik terhadap salah seorang siswi dalam video tersebut. Dan anehnya, pihak sekolah merasa “kecolongan” dengan adanya video tersebut. Entah apa yang dimaksud “kecolongan” oleh pihak sekolah ini. Atau memang institusi pendidikan memang abai terhadap hal-hal seperti ini.

Apa perlu di setiap sudut gedung sekolah ditempatkan kamera agar institusi pendidikan bisa terbuka atas fakta bahwa perundungan anak sudah menjadi bahaya laten bagi anak?

Beberapa kasus perundungan memang beruntung dapat diketahui banyak khalayak melalui laporan-laporan dalam media sosial. Namun tentu, banyak yang tak sempat terekam atau diketahui banyak orang. Belum lagi, majemuknya sikap dan sifat para anak sekolahan makin menyulitkan identifikasi aksi perundungan. Lantas, bagaimana seharusnya institusi pendidikan menanggapi hal macam ini?

Pertama, hal yang paling mudah dilakukan adalah observasi guru terhadap siswanya. Pada taraf dasar, hubungan guru-murid harusnya tak hanya dalam kelas dan menyoal pelajaran saja. Lebih daripada itu, guru diharapkan mampu mengamati bagaimana siswa-siswinya dalam bergaul atau kepribadian umum di dalam kelas maupun di luar kelas. Hal ini menjadi langkah preventif dalam melihat potensi-potensi perundungan. Anak-anak dengan sifat introver memerlukan perhatian semacam ini. Meski tak menutup kemungkinan juga bahwa perundungan dapat terjadi pula pada mereka yang bersifat esktrover.

Kedua, melakukan konseling terhadap anak-anak dengan masalah internal. Baik masalah prestasi, pribadi, dan keluarga. Hal ini juga merupakan tindakan preventif, sebab tekanan mental anak dapat menjadi basis dilakukannya perundungan pada anak. Tidak sempurnanya kehidupan internal seorang anak dapat membuka ruang untuk perundungan verbal. Dan hal semacam ini dapat menjerumuskan anak pada sikap tertutup dan lantas kehilangan kepercayaan diri.

Ketiga, melakukan penindakan tegas pada anak-anak yang didapati melakukan perundungan. Tindakan ini pun harus dilakukan pertama-tama melalui konseling sehingga mengetahui basis apa yang membuat mereka melakukan perundungan. Dan selanjutnya, tindakan pembinaan dilakukan dengan tidak memberi ruang bagi para pelaku perundungan ini untuk bergumul dengan anak yang rentan terhadap perundungan.

Marak Kekerasan Terhadap Anak KPAI Minta Warganet Setop Penyebaran Video

Keempat, pihak sekolah harus aktif dalam menindak lanjuti laporan-laporan tentang adanya perundungan anak. Tindakan kooperatif pihak sekolah sangat dibutuhkan oleh para penegak hukum dan dinas terkait untuk melakukan monitoring dan evaluasi. Sebab, beberapa kali kasus perundungan terjadi, justru pihak sekolah nampak defensif terhadap adanya aksi perundungan di sekolah mereka. Hal ini bisa jadi berhubungan dengan pentingnya menjaga “nama baik” sekolah. Namun, lebih dari itu, sekolah harusnya bisa bertindak lebih bijak dan transparan terhadap kejadian-kejadian yang merugikan anak semacam itu.

Senyap, itulah kata yang tepat bagi maraknya perundungan anak di lingkungan sekolah. Tak banyak yang tahu tentang hal ini. Atau, tak banyak orang yang mampu speak out atau mengadukan hal semacam ini dengan berbagai alasan. Jika korban tak memiliki kesempatan dan keberanian untuk membuka diri, maka sudah saatnya aksi perundungan ini menjadi tugas sebuah instansi pendidikan seperti sekolah.

Pun, pada akhirnya tindakan-tindakan pencegahan harus dilakukan secara bertahap dan partisipatif, baik dari pihak sekolah dan orang tua siswa. Sebab, perlu adanya pendekatan psikologis, baik kepada korban maupun pelaku perundungan.

Pergaulan anak di masa ini memang amat terbuka, dan para orang tua nampaknya teramat sibuk. Lantas, ke mana seorang anak bisa mengadu? Jika sekolah tak lagi menjadi rumah kedua, maka ke mana kah seorang anak dapat berlindung dari tekanan pergaulan?