Datuk Marajo Mahyeldi Ansharullah: Melayani adalah Kewajiban Pemimpin
Datuk Marajo Mahyeldi Ansharullah (Foto: minangkabaunews)

Buya Mahyeldi melanjutkan amanah di periode kedua 2019-2024 sebagai Wali Kota Padang, kali ini berpasangan dengan Hendri Septa, politisi PAN.

DATUK Marajo Mahyeldi Ansharullah, SP, adalah kepala daerah yang juga ulama. Karena itu, panggilan Buya masih sering ditujukan padanya kendati ia sudah memasuki periode kedua memimpin Kota Padang, Sumatera Barat.

Hal itu lantaran latar belakang Mahyeldi yang memang mubaligh dan seorang aktifis Islam. Saat kuliah dulu, ia juga pernah menjadi garin atau marbot sekalian guru mengaji di Masjid Al Ikhlas Parupuk Tabing, Padang.

Pola kepemimpinan yang merakyat dan pendekatan kekeluargaan menjadi ciri khas dari Mahyeldi Ansharullah. Ia tak segan makan makanan di tengah pasar, jajan dari penjaja makanan keliling, ataupun bercukur di tukang pangkas sederhana.

Sementara, pendekatan kekeluargaan yang telah dibuktikan semisal dalam penataaan Pasar Raya Padang yang semrawut pasca gempa dahsyat 2009, penataan Pantai Padang, pembebasan lahan untuk jalur dua by pass serta jalan Ampang, dan lainnya.

Kesederhanaan memang melekat pada diri Mahyeldi. Hal itu tak terlepas dari perjalanan hidupnya sejak kecil yang sudah terbiasa dalam kesederhanaan. Terlahir sebagai anak sulung dari tujuh bersaudara, Mahyeldi sudah biasa bekerja sampingan untuk membantu keuangan keluarga.

Karena melayani adalah kewajiban pemimpin -Mahyeldi

Ayahnya, Mardanis, adalah seorang tukang angkat di Pasar Banto, Bukittinggi. Sementara sang ibu, Nurmi membantu suami dengan membordir mukena yang diambil dari rumah tetangganya. Keluarga mereka tak punya sawah untuk diolah, hanya ada ladang warisan dari keluarga besarnya yang bisa ditanami ubi untuk menambah pemasukan.

Namun hebatnya, kedua orang tua Mahyeldi mengutamakan pendidikan bagi anak-anaknya. Mereka percaya pendidikan yang baik bisa membuat kehidupan menjadi lebih baik. Namun, di sela waktu belajar serta menjelang dan pulang sekolah, Mahyeldi menjual koran dan menjajakan kue yang dibuat ibunya. Kadang-kadang, ia pun ikut membantu pekerjaan ayahnya di Pasar Banto.

Saat keluarganya merantau ke Dumai, Riau, karena alasan kesehatan sang ayah, Mahyeldi yang saat itu duduk di kelas V Sekolah Dasar mencari uang dengan cara berjualan ikan usai salat subuh. Selain itu, Mahyeldi juga menjadi penjual koran. Saat koran habis, ia kembali ke toko bosnya untuk menghabiskan waktu membaca buku dan majalah terbaru sembari menunggu jam masuk sekolahnya di siang hari.

“Masa lalu yang telah membentuk karakter saya saat ini. Bila dahulu tak begitu, mungkin sekarang lain cerita,” beber Mahyeldi dalam berbagai kesempatan.

Ketika kembali ke Kota Bukittinggi saat SMA, begitu juga saat kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Andalas, Padang, Mahyeldi masih gigih bekerja membantu orang tua sambil tetap tekun belajar.

Di kampus, ia juga aktif menggerakkan kegiatan dakwah kampus. Aktivitas dakwahnya itulah yang mengantarkan suami dari Harneli Bahar itu bergabung dengan Partai Keadilan (PK) yang kini menjadi Partai Keadilan Sejahtera, partai yang dimotori oleh aktivis dakwah di kampus-kampus.

Sebagai salah satu pentolan PK sejak berdiri di Padang, Mahyeldi ditunjuk sebagai Ketua DPW PKS periode 2000-2005. Kemudian, pada Pemilu 2004, ia dipercaya mewakili rakyat di gedung DPRD Sumatera Barat dan menjadi Wakil Ketua DPRD Sumbar 2004-2008. Pada Pemilu walikota Padang pertama tahun 2008, Mahyeldi terpilih sebagai wakil walikota mendampingi Fauzi Bahar. Selama menjadi wakil wali kota itu, ia menggerakkan Koperasi Jasa Keuangan Syariah yang memberi akses permodalan dan lapangan kerja bagi warga hingga berhasil membuat Padang meraih penghargaan Bakti Koperasi dan UMKM dari Menteri Koperasi dan UMKM tahun 2013.Sukses dengan jabatannya, Mahyeldi kembali bertarung dalam Pilwako 2013. Ia dan pasangannya Emzalmi menang dalam putaran kedua meski pelantikannya sempat tertunda karena paslon yang kalah saat itu mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi. Kini, Buya Mahyeldi melanjutkan amanah di periode kedua 2019-2024 sebagai Wali Kota Padang, kali ini berpasangan dengan Hendri Septa, politisi PAN.

Berbagai program seperti Gerakan 1821, Jumat keliling, Singgah Sahur, bedah rumah, pembangunan rumah miskin lansia dan keberhasilan di berbagai bidang membuat Kota Padang diganjar sejumlah penghargaan.

Namun, bagi sosok yang digadang-gadang bakal meramaikan bursa Pilgub Sumbar 2020 itu, yang penting adalah selama memimpin dirinya berusaha untuk terus menjaga amanah masyarakat. Ia juga memahami bahwa setiap masyarakat ingin diayani.

“Karena melayani adalah kewajiban pemimpin,” ujarnya. (Melda Riani)