Deretan Kesalahan Samsung yang Membuatnya Anjlok di 2019

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Pertama kalinya sejak tahun 2016, Samsung terjatuh dari takhta raja ponsel di Tanah Air. (Foto: Net)

JAKARTA, HALUAN.CO - Tahun 2019 akan dikenang dalam tinta hitam oleh Samsung Indonesia: untuk pertama kalinya sejak tahun 2016, raksasa asal Korea Selatan itu terjatuh dari takhta raja ponsel di Tanah Air.

Mengutip Suara.com, dua firma riset pasar terkemuka, IDC dan Canalys belum lama ini mengumumkan bahwa di kuartal III 2019 penguasa pasar ponsel Indonesia telah jatuh ke tangan Oppo. Samsung yang merebut penguasa pasar ponsel Indonesia setelah mengalahkan Asus di 2016, juga kalah dari Xiaomi dan Vivo.

Data dua firma itu disanggah oleh Samsung. Hasil riset Counterpoint Samsung mengklaim masih menguasai pasar ponsel Indonesia.

Kendati ada perbedaan hasil riset yang dirilis oleh ketiga lembaga riset tersebut, satu benang merah yang bisa disimpulkan dari paparan tersebut adalah penurunan pangsa pasar Samsung di Indonesia.

Lantas, apa yang membuat hal itu terjadi?

Menurut Market Analyst IDC Indonesia, Risky Februari, tekanan dari vendor ponsel asal China menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi penurunan pangsa pasar ponsel Samsung di Indonesia tahun 2019.

"Oppo, Vivo, dan Realme sangat agresif meluncurkan ponsel baru di tahun ini. Sementara Xiaomi, memang sedikit merilis (ponsel baru), tapi fans base-nya banyak di sini," ujar Risky.

Seperti diketahui, Realme merilis lebih dari 10 model ponsel di tahun pertama mereka beroperasi di Indonesia. Pun begitu dengan Oppo dan Vivo yang meluncurkan lebih dari 5 model baru.

Memang, diakui Risky, Samsung merespon gempuran tersebut dengan cepat, karena di awal tahun mereka memperkenalkan seri Galaxy A dan Galaxy M.

Hanya saja, Samsung kurang berani bermain dengan harga murah. Lain halnya dengan kompetitor mereka dari China yang jor-joran menawarkan ponsel spek tinggi, namun dibanderol dengan harga yang relatif terjangkau.

"Mereka (ponsel China) berani membawa ponsel spek tinggi dengan harga murah. Sementara Samsung, dalam beberapa tahun terakhir, menempatkan diri sebagai ponsel kelas premium. Namun perlu dicatat, orang Indonesia itu sangat sensitif dengan harga," imbuhnya.

Alih-alih merespon tekanan China dengan membanjiri produk baru dari segmen menengah ke bawah, Risky justru melihat fenomena tersebut sebagai bumerang untuk Samsung.

"Samsung terlalu cepat meluncurkan ponsel baru yang speknya tidak terlalu jauh berbeda dengan ponsel sebelumnya. Awal tahun, Galaxy A dan Galaxy M banyak muncul, tapi nggak sampai setahun sudah ada versi barunya (Galaxy A10s, Galaxy M30s, dll)," terang Risky.

Jarak peluncuran ponsel baru yang terlalu cepat, namun speknya tidak terlalu jauh berbeda itulah yang dinilai Risky justru membingungkan konsumen.

Sementara di sisi lain, Oppo, Vivo, Xiaomi, dan Realme memang sering mengeluarkan ponsel baru, namun dengan perbadingan spek dan harga yang dikemas lebih menarik.

"Samsung berusaha memperbaiki situasi dengan menawarkan ponsel di segmen low end. Tapi soal harga, price to specs yang ditawarkan ponsel China lebih menarik," tutup Risky.

Penulis: Sutrisno Z


0 Komentar