Dewas TVRI Pecat Helmy Yahya lantaran Liga Inggris dan Buaya di Afrika, What?

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Helmy Yahya dipecat Dewas TVRI (Ilustrasi: Haluan.co)

-

AA

+

Dewas TVRI Pecat Helmy Yahya lantaran Liga Inggris dan Buaya di Afrika, What?

Overview | Jakarta

Rabu, 22 Januari 2020 15:56 WIB


Lebih lucu lagi ketika Dewas menyalahkan Helmy Yahya membeli program Discovery Channel. Alasannya, buaya yang ditayangkan dalam acara itu bukan buaya lokal tetapi buaya Afrika. What?

SORRY to say atawa maaf-maaf kata ya, saya sama sekali tidak mengenal itu yang namanya anasir atau pentolan Dewan Pengawas (Dewas) TVRI. Personelnya siapa saja dan latar belakangnya darimana. Catatan saya selain tak terkenal secara keilmuan dan representasi juga kapasitasnya, nihil. Mungkin hanya Kabul Budiono yang saya tahu karena suaranya yang khas.

Dewas baru dikenal secara lembaga setelah memecat Helmy Yahya yang menjabat sebagai Dirut TVRI, televisi pelat merah yang selalu mati suri dan sekarat. Setelah reformasi saya mencatat hanya dua kali TVRI siuman, saat dipimpin Sumita Tobing dan juga ketika dipimpin Helmy Yahya.

Uniknya, ketika TVRI dipimpin orang luar biasanya bangkit dan seperti mendapatkan transfusi darah atau oksigen. Tapi risikonya banyak karyawan yang menjerit apakah karena dipaksa untuk bekerja keras seperti 'romusa' atau ada dana yang terpangkas dengan berbagai alasan.

Kasus yang menimpa Sumita Tobing dan Helmy Yahya tak ada bedanya atau setidaknya mirip. Saya menduga dan ini telah saya tulis sebelumnya dalam sejumlah artikel lepas, para petinggi TVRI yang berada dalam zona nyaman biasanya terusik.

Mungkin segala manuver dan juga berbagai aksi organisasi yang dilakukan adik kandung Tantowi Yahya ini, merusak kenyamanan sejumlah petinggi di Jalan Gerbang Pemuda.

Alasan Dewas TVRI Pecat Helmy Yahya: Liga Inggris Tak Sesuai Budaya Bangsa

Dalam sengkarut organisasi seperti TVRI, selalu ada yang diuntungkan. Angka Rp1,3 triliun dana yang digelontorkan negara untuk TVRI adalah duit yang sangat gurih. Sejumlah proyek apakah itu pengadaan alat, pengadaan program menjadi sajian lezat di TVRI.

Kabarnya, inovasi Helmy Yahya di TVRI ini telah membuat karyawan mengencangkan ikat pinggang. Selain tunjangan kinerja yang tertunda sejumlah dana untuk televisi daerah juga terpangkas demi membeli hak siar Liga Inggris dan juga membeli program Discovery Channel.

Hasilnya memang nyata, TVRI begitu cepat dilirik pemirsa televisi dan mulai mendapat apresiasi dari masyarakat. Karena selain Liga Inggris dan Discovery Channel, Helmy Yahya juga mereproduksi berbagai acara yang menjadi legenda TVRI pada zaman keemasannya. Mirip seperti yang dilakukan Sumita Tobing.

Naam, ketika berita tersebar Helmy Yahya dipecat mahluk yang sangat berkuasa bernama Dewas, masyarakat terkejut. Logika sederhananya, kalau program televisi jelek masyarakat pun pasti rela dan ikhlas Dirut TVRI dipecat. Kan songong sudah digaji dari pajak rakyat tapi nggak becus kerja.

Tetapi sebaliknya, ketika program televisi bagus dan enak ditonton serta acaranya beragam, tentu masyarakat bertanya-tanya ketika direkturnya dipecat. Apalagi dipecat bukan karena korupsi pula. Pada zaman Helmy Yahya juga untuk pertama kalinya TVRI mendapat predikat wajar tanpa pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan.

Lucunya sejumlah anggota DPR dan mungkin di antaranya ada yang dulu terlibat dalam pemilihan anggota Dewas, tidak kritis ketika mereka memberikan alasan pemecatan Helmy Yahya di depan anggota Dewan yang terhormat. Tidak pula ada yang tertawa. Padahal banyak yang harus ditertawakan. Sadis lucunya!

Nggak percaya begitu lucunya pernyataan mereka ketika membeberkan dosa Helmy Yahya. Mereka mengatakan tayangan Liga Inggris yang hak siarnya dibeli Helmy Yahya saat menjabat Direktur Utama tidak sesuai dengan jati diri bangsa. Busyet!

Ngeri banget. Nasionalis abis Dewas ini. Padahal, sepakbola ini seperti halnya musik universal banget. Dimana soal jati diri bangsa dalam hal sepakbola. Maksudnya yang disiarkan TVRI seharusnya liga tarkam begitu? Atau main bola api yang dimainkan anak-anak pesantren yang bolanya dari kelapa yang direndam dalam minyak tanah semalaman?

Pernyataan yang sangat munafik. Sementara kita sendiri tengah membangun sepakbola menjadi industri. Dan seharusnya PSSI tersinggung atau mungkin tersungging dengan pernyataan Ketua Dewas Arief Hidayat Thamrin ini. Lha, PSSI malah mendatangkan pelatih asing untuk kelompok U-20 kemudian sejumlah anak-anak berbakat pun dikirim ke luar negeri untuk sekolah sepakbola, demi dunia bola Indonesia yang hebat.

Jadi apanya yang terkait dengan frasa jati diri bangsa. Saya pikir Dewas terlalu mengada-ada.

Lebih lucu lagi ketika Dewas menyalahkan Helmy Yahya membeli program Discovery Channel. Alasannya, buaya yang ditayangkan dalam acara itu bukan buaya lokal tetapi buaya Afrika. What?

"Discovery Channel kita nonton buaya di Afrika, padahal buaya di Indonesia barangkali akan lebih baik," ujar Arief.

Heheheheh. Sebuah pernyataan yang nasionalismenya sangat tinggi. Saya kira MPR berhasil memberikan pemahaman Sosialisasi 4 Pilar kepada Dewas. Tapi sayang, sangat naif.

Padahal, pada zaman Orde Baru dulu saya selain menikmati Dunia Dalam Berita, Aneka Ria Safari juga ada Flora dan Fauna yang tak ada bedanya dengan Discovery Channel.

Arkian, Dewas menginginkan buaya lokal sementara di Indonesia lebih banyak buaya darat, cicak-buaya dan juga Taman Buaya di TVRI yang jadi tempat nongkrong favorit seniman, orang yang mengaku seniman dan wartawan juga wartawan bodrek.

Jadi maunya Dewas itu apa?


0 Komentar