Dewi Lestari, Dipaksa Jadi Dokter, Akhirnya...
dr. Dewi Lestari, SIP, MMRS (Foto: dok.Pribadi)

Perjalanannya menjadi seorang dokter bagi Dewi tidaklah mudah, melewati proses yang panjang dan melawan perang batin.

RIDHO orangtua tentunya juga ridho Tuhan, peribahasa itu mungkin tepat disematkan kepada dr. Dewi Lestari yang saat ini sukses menjabat sebagai Wakil Direktur Utama RSUD Raden Mattaher Jambi.

Bagaimana tidak, meski menamatkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) pada Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol) tetapi dia sukses berkarier menjadi PNS dokter di jajaran Pemprov Jambi.

Perjalanannya menjadi seorang dokter bagi Dewi tidaklah mudah, melewati proses yang panjang dan melawan perang batin. Karena menjadi seorang dokter sejatinya bukan keinginan pribadi melainkan ambisi orangtuanya yang begitu kuat agar anak satu-satunya itu menjadi seorang dokter.

"Lulus SMA di Jambi pada tahun 1998, saya saat itu tidak kepikiran kuliah di kedokteran. Memang orangtualah mengarahkan ke situ (dokter). Setelah sampai di Yogjakarta saya ambil fisipol jurusan hubungan internasional," terangnya dalam sebuah perbincangan dengan Haluan.co, baru-baru ini.

Terpaksa keinginannya menjadi seorang diplomat dipendamnya jauh-jauh. Orangtua tidak memberikan support dan tetap dengan keinginannya agar putrinya itu menjadi dokter.

"Pada semester delapan saya mulai binggung, saya ini mau jadi apa? Dulu banyangan saya di fisipol itu jadi diplomat, ternyata semua berubah. Apalagi saat itu orangtua sedang sakit, dia berkata 'saya bisa sembuh kalo anak saya jadi dokter'," ujar kelahiran Tasikmalaya 8 Agustus 1980.

Mendegar pernyataan yang 'mengancam' itu, membuat Dewi harus mengambil keputusan. Dia tahu betul, ridho orangtua juga merupakan ridho Tuhan, meski sebelumnya ia tercatat sebagai mahasiswa semester akhir di sisipol. Akhirnya, memutuskan untuk mendaftarkan diri sebagai mahasiswa baru di fakultas kedokteran di universitas yang sama.

Meski begitu, ia pun tidak ingin perjalanan pendidikan di fisipol hilang begitu saja tanpa gelar. Perempuan yang memiliki tiga gelar di UMY itu harus bisa membagi waktu sebaik mungkin. Di fisipol harus rampung dan di kedokteran juga.

Tepat pada waktunya, usaha yang ia lakoni dengan teguh satu persatu sukses diselesaikan dengan baik. Sebagai mahasiswa fisipol akhirnya ia berhasil menyandang gelar sarjana hubungan internasional. Padahal sebelumnya sempat ada keinginan untuk mengundurkan diri.

"Pada tahun 2002 saya daftar kedokteran. Satu tahun kemudian tepatnya tahun 2003 saya berhasil wisuda fisipol. Saat itu saya daftar kedokteran umur saya 22 tahun. Jadi gelar saya SIP pada saat saya semester tiga di kedokteran. Mau saya lepas sayang akhirnya saya teruskan dan selesai juga," imbuhnya bangga.

Diakuinya, proses menjalankan studi kedokteran tidaklah mudah. Ia mengaku butuh proses untuk beradaptasi terhadap lingkungan dan teman studi di kedokteran yang merupakan 'bukan dunia'-nya. Bahkan sempat cuti selama satu tahun.

"Pada 2005 saya sempat cuti, kelelahan. Karena ada perbedaan di fisipol dan kedokteran signifikan dan saya harus menyesuaikan diri dengan teman seangkatan yang lima sampai empat tahun di bawah saya. Mungkin saya yang paling tua di angkatan 2002," kenangnya.

Kemudian, setelah melewati proses panjang, ia pun sukses menyelesaikan ilmu kedokteran di UMY pada tahun 2009. Tidak hanya sampai di situ, ia kembali menempuh pendidikan lanjutan yakni Magister Manajemen Rumah Sakit di universitas yang sama.

Belakangan ini, berselang dua pekan menjabat sebagai Wadir RSUD Raden Mattaher, ibu dari dua anak ini selalu menghiasi pemberitaan di berbagai media.

Dia aktif menginformasikan perkembangan pasien yang diduga terjangkit virus corona yang diisolasi di RSUD Raden Mattaher beberapa waktu lalu.

"Virus corona ini merupakan KLB (Kejadian luar biasa). Bagi rumah sakit sebagai ujung tombok pelayanan terkait itu (corona) harus siap," tukas lulusan Magister Manajemen UMY ini.

Menurut dia, virus corona diindetifikasikan sama halnya dengan virus MERS, Flu Burung dan SARS dengan kategorikan sebagai KLB yang harus sigap penangannya.

"Dengan kejadian itu tentunya kita berkoordinasi dengan berbagai lintas sektoral, seperti Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) karena di sanalah screening awal untuk mendeteksi awal setelah penerbangan," sebutnya.

Meski pasien tersebut tidak terjangkit virus corona dan dinyatakan negatif, pengalaman itu harus menjadi pelajaran dalam kesiapsiagaan mencegah dan menangani pasien terjangkit virus corona. "Penanganan awal, kewaspadaan dan koordinasi lintas sektoral harus terus ditingkat di Jambi," ujarnya.


Penulis: Budiharto