Di Dalam Tubuh yang Sehat, Terdapat Jiwa yang Tiktok!
TikTok pernah diblokir Kemkominfo, tapi kini ia menjelma kebangkitan yang hakiki. (Ilustrasi: Haluan.co)

Aplikasi TikTok pada umumnya berisi konten video tarian dan lagu. Lagu yang dipilih adalah lagu-lagu dengan ritme selaras dengan gerak badan, umumnya remix atau genre hip-hop Mangga Dua.

SEYOGIANYA, aplikasi TikTok yang mulai dikenal di Indonesia pada tahun 2017 itu bukan untuk mendukung program Kementerian Pemuda dan Olahrga. Sebab, memang tak beririsan dan sangat tidak berhubungan. Namun, jika kita amati lebih jauh, TikTok justru memiliki peran positif bagi tubuh, yaitu melalui gerak badan. Men sana in corpore TikTok!

Memang, pada awal kemunculannya TikTok tak sempat dikenal banyak orang. Hanya sekelompok remaja tanggung saja yang menggunakannya sebagai sarana hiburan picisan. Bowo ‘Alpenliebe’ pernah menjadi superstar pada jalur hiburan itu. Bahkan, remaja yang mungkin saat itu belum lama bersunat itu menjadi bintang tamu dalam pelbagai acara dengan tema “Meet And Greet bersama Bowo Alpenliebe”.

Sontak, di tahun 2017 akhir, namanya viral, melambung menjadi bahan lelucon dan lain sebagainya. Plus, beberapa orang muda yang lebih tua dari Bowo menjadikan entitas Bowo sebagai subjek guyonan. Hingga, didengarlah ribut-ribut itu oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika. Kita sudah tahu hasilnya bukan? Ya, TikTok diblokir di Indonesia. Sad Bowo, jalan ninjanya direnggut kuasa negara.

Namun, dalam perubahan susunan kabinet pemerintahan baru, TikTok mendapat angin. Tak lama, dia bangkit dan nampaknya lebih cepat merenggut jiwa-jiwa mager menjadi insan gerak badan nasional. TikTok sukses melakukan reborn di akhir tahun 2019, dengan begitu banyak orang membuka akun TikTok mereka. Tak hanya itu, plot twist paling UwU adalah fakta bahwa Kemkominfo yang dulu memblokir TikTok pun punya akun demikian. Bukan main, negara tunduk pada TikTok!

Kini, hampir saban hari, di berbagai platform media sosial dengan mudah ditemukan sliweran potongan video TikTok. Mulai dari akun seorang yang tak terkenal, para influencer media sosial, hingga Prof. Sapardi Djoko Damono. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, seperti Kemkominfo kepada Tiktok yang menjadikannya tiada.

Sangat mengagetkan bila sosok Prof. Sapardi yang sudah tak lagi muda itu malah belakangan juga main TikTok. Meski untuk keperluan promosi sebuah perusahaan penerbitan, namun kehadiran Prof. Sapardi yang kesulitan mengikuti gerakan TikTok menunjukkan bahwa aplikasi ini sudah menyasar semua usia. Tak hanya remaja tanggung seperti Bowo dahulu, kini TikTok bisa saja tiba-tiba menyasar Mamak atau Opung kau. Siap matortor kita bah!

Aplikasi TikTok pada umumnya berisi konten video tarian dan lagu. Lagu yang dipilih adalah lagu-lagu dengan ritme selaras dengan gerak badan, umumnya remix atau genre hip-hop Mangga Dua.

Justin Bieber juga rasanya perlu berterima kasih pada TikTok karena lagunya berjudul “Yummy” juga termasuk lagu nasional bagi kawula TikTok Serikat. Berlatarkan lagu-lagu macam itu, seseorang atau lebih melakukan gerakan-gerakan tertentu. Bisa dalam kategori gerakan sulit, hingga gerakan semi senam lantai. Atau bahkan striptease.

Ya tentu saja, tergantung apa dan bagaimana tujuan seseorang itu membuat akun TikTok. Gerakan TikTok kategori mudah umumnya berbasis pada gerakan tangan dan kepala. Sehingga para kreatornya cukup duduk sambil menggerakan kedua anggota tubuh itu. Sedang gerakan TikTok tingkat mahir umumnya menggunakan semua anggota badan.

Pola gerakan TikTok pun terkadang bisa menjadi tren tersendiri bagi kawula TikTok. Jika dianggap menarik dan sulit, maka tak jarang mereka menggunakannya sebagai challenge atau tantangan antar pengguna aplikasi tersebut. Tapi, tentu saja konten TikTok bukan hanya berisi gerak badan yang menyehatkan itu.

Masih ada konten-konten lainnya seperti humor, video lucu, dan lainnya. Tapi untuk sekte masyarakat penganut ahlul TikTok wal’ jamma’ah memang gerak badan menjadi primadona. Sebab di samping menyehatkan, juga terselip pesan-pesan olahraga di dalamnya.

Bagi mereka pengguna akun TikTok yang bergerak di bidang konten lain, umumnya lebih pada konten lucu dengan suntingan video. Hal ini cukup tenar pula di luar negeri. Tapi, di tanah air kita yang cinta olahraga, memang lebih mudah mendapatkan sebaran konten TikTok berisi gerak dan lagu.

Padahal, dahulu kala ketika kurikulum pendidikan kita masih mewajibkan senam sebagai kegiatan rutin hari Jumat, senam bukan jadi hal yang digandrungi. Alih-alih siswa-siswi sekolah dasar bersemangat mengikuti senam, malah banyak yang menggerutu karena bosan. Padahal, kita mengenal berbagai generasi gerak dan lagu di sekolah.

Tidak Cuma Suka, Bos Snapchat yakin Tiktok Kelak Kalahkan Instagram

Sebut saja era SKJ, atau Senam Kesegaran Jasmani Indonesia. Sebuah era di mana gerak badan kita diatur oleh negara melalui beberapa varian senam SKJ. Mulai dari SKJ ’84, SKJ ’88, SKJ ’92, SKJ ’94, hingga SKJ ’96. Tiap nama berdasarkan tahun itu mencakup memori-memori kelam betapa membosankannya senam dan gerak badan bagi siswa-siswi sekolah. Tentu saja, saat itu mereka bersenam bukan atas kemauan sendiri, tapi karena keharusan aturan sehat dari pemerintah Orde Baru saat itu.

Gerak dan lagu di lingkungan sekolah dan instansi pemerintah juga masih dipertahankan pada pasca-reformasi. Tercatat ada Senam Sajojo, Senam Poco-poco, dan Senam Indonesia Bersatu menjadi andalan guru Penjaskes kita era dahulu. Masa-masa ini, kegiatan gerak dan lagu sudah sedikit beradab dan menyenangkan.

Tapi masih saja, rasa bosan dan malas menggerakan badan atau mager masih menjadi momok bagi kesehatan jiwa kawula muda Indonesia. Usaha Kementerian Pemuda dan Olahraga untuk menyehatkan kehidupan bangsa bisa dibilang cukup gagal. Sampai akhirnya lahir apa yang dinamakan TikTok. Aplikasi berbasis olahraga dan seni. Bergerak sesuka hati, loncat kesana ke sini.

Ya, begitulah bagaimana TikTok dilihat dari sudut pandang kesehatan dan kebugaran. Memang seharusnya, gerak badan dilakukan atas asas sukarela dan kesenangan. Melalui TikTok. Dan tentu, dalam skala tertentu, TikTok dapat diperhitungkan untuk menjadi sarana penunjang kampanye anti obesitas bagi pemerintah.

Sebab, tak hanya gerak tangan dan kepala, TikTok juga banyak berisi konten gerak perut, pinggul, hingga senam lantai. Entah, kenapa bisa para influencer TikTok menemukan passion mereka sebagai atlet senam lantai dengan kelenturan kelas wahid.

Pastinya, keputusan Kemkominfo memutus kepopuleran Bowo di masa lampau itu tidak relevan. Harusnya, dari awal TikTok digandeng oleh Kemenpora untuk menggalakkan senam berbasis TikTok. Demi sehatnya insan-insan gabut dan mager Indonesia. Sebab sesungguhnya, kita bisa menyemai persatuan dalam tubuh yang sehat melalui TikTok. Di dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang TikTok!