Di Negeri Ini, Berebut Kursi Anggota Dewan Sudah Tak Keren Lagi
Kongres PAN di Kendai berubah menjadi ajang lempar kursi, mantap sekali (Foto: RMOL)

Proses baku hantam melalui media lempar kursi pun menjadi tontonan komedi nomor wahid di jagat media sosial. Ajang pemanasan menuju Olimpiade Tokyo 2020 ini terjadi di Kendari. Tempat Kongres Kelima Partai Amanat Nasional dilangsungkan.

UMUMNYA, masyarakat sudah tak asing lagi dengan upaya saling sikut atau baku hantam di ruang sidang paripurna anggota dewan. Kasus terbaru mungkin kisruh anggota DPD RI beberapa tahun lalu. Atau ribut-ribut masalah silang pendapat antar legislator di DPR RI yang saban periode ada satu sesi baku hantam macam ini.

Tapi, tentu politik tak hanya menyoal mempertahankan pendapat di gedung DPR/MPR saja, semuanya bermula dari partai politik. Sebuah wadah yang katanya menjadi salah satu faktor utama demokrasi, ya partai politik memang sesuai marwahnya adalah penyambung lidah rakyat. Meski entah, sebenarnya lidah rakyat yang sebelah mana.

Kisruh internal partai juga bukan tontonan baru bagi masyarakat kita. Negara kita pernah dihadapkan pada kisruh semacam ini. Baik sejak era Orde Baru yang saat itu mencoba merongrong Partai Demokrasi Perjuangan hingga perpecahan Partai Persatuan Pembangunan beberapa tahun lalu hingga menjadi dua kubu yang aneh.

Dan terbaru, kita punya Partai Amanat Nasional. Partai yang disebut terakhir ini merupakan anak kandung reformasi. Didirikan oleh orang-orang yang memang tenar namanya di kancah reformasi. Sebut saja, Rizal Ramli, Emil Salim, A.M. Fatwa, dan tentu Yth. Amien Rais, salah satu tokoh besar yang menganggap dirinya sendiri dianggap sebagai salah satu motor utama reformasi 1998. Atau, barangkali banyak orang tak tahu bahwa nama besar Goenawan Mohammad juga menjadi peletak fondasi bagi PAN.

Partai yang punya basis massa beririsan dengan Muhammadiyah ini bukan partai sepele tentunya. Amien Rais sendiri pernah menjadi Ketua MPR di masa-masa awal reformasi. Begitu pula penerusnya, Zulkifli Hasan. PAN diketahui memiliki basis kuat di beberapa daerah, khususnya Yogyakarta. Meski pengaruh PAN di Yogyakarta juga terus bersaing kuat dengan kekuatan akart rumput simpatisan PPP dan PDI, dan tentu saja Golkar.

Namun, kedudukan PAN sebagai salah satu partai tradisional di Yogyakarta tak bisa dipungkiri. Hal ini bisa dilihat dari bagaimana semangat anak-anak Amien Rais dalam mencalonkan diri sebagai walikota Jogja atau bupati Sleman. Hingga detik ini pun, usaha putra-putra sang bidan reformasi masih nampak terang di setiap sudut perempatan besar di Yogyakarta. Nama besar “Rais” dan PAN tak bisa dipisahkan.

Tapi tentu, PAN tak selamanya bergantung pada para pendirinya. Dan nampaknya, proses regenerasi ini pun sedikit susah. Karena beberapa faktor, termasuk kharisma dan rekam jejak. Sampai saat ini pun tercatat belum ada partai-partai besar di negeri ini yang bisa lepas dari wajah ‘orang-orang lama’. Bahkan, PDI-P pun sampai sekarang masih dipimpin oleh Megawati. Golkar pun masih belum mampu melakukan regenerasi utuh setelah hampir 22 tahun setelah reformasi.

Sayangnya, partai berusia 21 tahun itu nampaknya masih belum bersikap dewasa dalam menjalani silang pendapat dalam pemilihan ketuanya. Proses baku hantam melalui media lempar kursi pun menjadi tontonan komedi nomor wahid di jagat media sosial. Ajang pemanasan menuju Olimpiade Tokyo 2020 ini terjadi di Kendari. Tempat Kongres Kelima Partai Amanat Nasional dilangsungkan. Kisruh pemilihan ketua umum sampai pada tahap kisruh saat para kader dari dua kubu kuat saling melempar kursi di ruang kongres yang menyebabkan beberapa kader terluka.

Dalam kongres itu, terdapat dua calon kuat ketua umum, yaitu calon petahana Zulkifli Hasan dan Mulfachri Harahap. Nama terakhir adalah ketua fraksi PAN di DPR-RI. Kericuhan antara kedua kubu bermula dari anjuran sterilisasi kongres yang konon ‘disusupi’ oknum-oknum non-kader PAN. Hal itu tentu krusial bagi kegiatan pemungutan suara, sebab hal semacam itu berbahaya bagi kredibilitas suara para kader. Dan akhirnya, kerusuhan pun tak bisa dibendung saat salah satu kubu kabarnya menolak anjuran sterilisasi itu. Hadeuh nanaonan eta?

Singkat cerita, setelah kerusuhan tersebut, Zulkifli Hasan tetap terpilih menjadi ketua umum periode kedua. Dia menjadi satu-satunya orang yang menduduki jabatan ketua umum dalam dua periode setelah Amien Rais. Beberapa pihak, termasuk Mulfachri menyebut bahwa memang ketua umum satu periode merupakan tradisi PAN setelah era Amien Rais. Namun, sayangnya hal itu dibantah oleh kemenangan Zulkifli yang cukup menyita perhatian publik akibat adanya sesi baku hantam itu.

Zulhasan, Kisah 'Dilan' dari Lampung

Ya, tentu saja tak ada yang salah dengan silang pendapat atau perbedaan paham dalam internal sebuah parta. Hal ini malah menjadi bukti adanya demokrasi nyata dalam tubuh parpol. Namun, siapa kira baku hantam bisa terjadi pada siapa saja. Entah itu anak STM, demonstran, preman kampung, hingga para kader parpol berkemeja rapi. Beberapa orang mungkin tak mengira bahwa kursi pesta bisa menjadi senjata revolusi.

Ternyata, kader PAN menunujukkan kita bahwa usaha revolusi tak melulu bersenjatakan propaganda dan alat-alat perjuangan buruh-tani, tapi juga kursi pesta. Bahkan Trotsky, Lenin, hingga Rosa Luxemburg saja tidak kepikira bahwa revolusi politik bisa dilakukan di dalam gedung hotel nan mewah, bersenjatakan kursi pesta berselubung kain berwarna cerah. Wah, hampir saja PAN bikin sejarah.

Berkaca dari kongres PAN yang kisruh itu, kita nampaknya perlu mengkaji kembali bahwasanya Tuhan menciptakan kedua tangan memang untuk baku hantam. Dan tentunya, setiap acara mewah bisa saja jadi ajang pemanasan cabang olahraga lempar lembing dan tolak peluru. Ya hitung-hitung kita bisa tahu bahwa selain pandai berpolitik dan bersilat lidah, para kader parpol juga lihai berolahraga. Sebab, apa gunanya politik setinggi langit, jika tak diikuti kesehatan jasmani dan rohani. Salam Olahraga!