Di Uruguay, Sebagian Besar Kasus Covid-19 Terinfeksi dari Seorang Tamu di Pesta
Seorang pria mengenakan topeng sebagai tindakan pencegahan terhadap penyebaran virus corona baru, berjalan di tepi laut di Montevideo, Uruguay. (Foto: AP)

JAKARTA, HALUAN.CO - Virus corona menginfeksi 44 tamu di sebuah pesta pernikahan yang meriah. Hal itu terjadi setelah seorang desainer bergabung dalam kondisi demam yang baru saja tiba dari Spanyol.

Seharusnya, ini sudah menjadi puncak kemeriahan di ibukota Uruguay, Montevideo. Tetapi perayaan pernikahan yang meriah di kalangan Carrasco telah mendapatkan perhatian yang berbeda setelah munculnya kejadian terhadap 44 tamu terinfeksi virus corona di pesta itu.

Uruguay secara tidak tidak langsung terkena pandemi covid-19. Sementara negara sebelahnya Argentina (populasi 45 juta), telah mengonfirmasi 97 kasus, Uruguay (populasi 3,5 juta) mencatat kasus yang dikonfirmasi meningkat dari empat pada 12 Maret menjadi 79 pada hari Rabu, dengan total 392 yang diduga terinfeksi.

Peningkatan kasus tersebut dilaporkan setelah seorang sosialita menghadiri pernikahan 500 tamu pada 7 Maret, hanya beberapa jam setelah tiba dari Spanyol.

Perancang busana Carmela Hontou, 57 tahun, yang menyetujui keputusannya untuk menghadiri pesta itu menambahkan bahwa dia juga makan siang dengan ibunya yang berusia 84 tahun pada saat kedatangan dan pergi makan siang lagi keesokan harinya “di mana terdapat juga banyak orang” .

Saat, ditanya seorang wartawan jika keputusannya tersebut tidak bijaksana untuk bergaul dalam kerumunan besar yang baru saja tiba dari Spanyol, Hontou menjawab: “Itu konyol! Lagipula, tahukah Anda berapa banyak orang yang datang dengan pesawat itu?”

Dalam wawancara yang sama, Hontou mengungkapkan bahwa pada perjalanan sebelumnya ke Madrid Januari ini, ia terserang demam dan memanggil dokter. “Saya bahkan tidak bisa bicara, saya mengalami demam 41 derajat,” katanya kepada situs berita Argentina Infobae. “Saya membawa masalah ini ke dokter [coronavirus] tetapi dia tidak memerhatikan,” lanjutnya.

Kepada Infobae, dia juga mengatakan, dia begitu khawatir virus yang pada perjalanan berikutnya yakni 22 Februari dia turun dari pesawat di Madrid mengenakan masker. Hontou mengungkapkan keterkejutannya terhadap reaksi terhadapnya.

“Mereka mengatakan saya seorang teroris yang membawa virus untuk membunuh semua orang,” katanya lagi kepada Infobae.

Hontou kemungkinan menghadapi tuntutan hukum berdasarkan pasal 224 KUHP Uruguay tentang “penyebaran penyakit menular”, menurut laporan pers.

Jaksa penuntut negara juga dilaporkan menyelidiki putra-putranya, yang diduga mengunjungi ibu mereka, melanggar aturan karantina.

Tetangga Argentina juga mengalami dalam meyakinkan beberapa warganya tentang risiko yang ditimbulkan jika tidak mengisolasi diri.

Pemerintah Argentina telah memberikan mandat cuti selama dua minggu untuk pekerjaan yang tidak penting, tetapi alih-alih tinggal di rumah, ribuan orang bergegas ke pantai untuk mengambil keuntungan dari beberapa hari terakhir musim panas Argentina.

Dalam upaya menegakkan karantina, tim keamanan telah mengaktifan pos pemeriksaan jalan raya dan semua penerbangan jarak jauh, kereta api dan bus dibatalkan mulai hari Jumat.

“Kami tidak ingin Anda datang,” tweet Martín Yeza, walikota Pinamar, resor pantai utama. “Protokol untuk isolasi dan karantina harus dihormati.”

Setidaknya satu turis Italia menghadapi pengusiran setelah ketahuan melanggar karantina wajib dua minggu untuk pulang dari Eropa.

“Kami bersikap sangat ketat, kami tidak akan tahan dengan ini,” kata Florencia Carignano, kepala layanan migrasi Argentina.

Argentina mencatat, dalam sehari, tejadi peningkatan yang sangat tinggi atas virus corona dimana dilaporkan sejauh ini pada hari Rabu (18/3/2020) lalu, dengan 19 kasus baru. Kebanyakan dari mereka adalah pendatang baru dari Eropa. Tiga orang telah meninggal akibat covid-19.

Jika tren ini berlanjut, Presiden Alberto Fernández mengatakan bahwa ia bermaksud untuk memberlakukan karantina wajib nasional yang lengkap.

Sejauh ini pengujian di Argentina hanya dilakukan di satu laboratorium pemerintah di Buenos Aires, tetapi pemerintah sekarang sedang mempelajari kemungkinan otorisasi 35 laboratorium untuk melakukan tes.

Uruguay telah menangguhkan kelas selama dua minggu, menutup pusat perbelanjaan dan menghentikan penerbangan dari AS dan Eropa. Tetapi negara ini menjadi satu-satunya negara di Amerika Selatan yang telah melegalkan aborsi dan ganja, belum memberlakukan karantina nasional, meskipun pemerintah menghadapi seruan dari persatuan dokter nasional untuk lockdown sebagai langkah mengatasi penyebaran.

Penulis: Neni Isnaeni