Dibully Guru dengan Sebutan Lonte, Siswi SMKN 1 Anambas Ini Putus Sekolah

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Ilustrasi dibully. (Foto: Lindungianak.com)

-

AA

+

Dibully Guru dengan Sebutan Lonte, Siswi SMKN 1 Anambas Ini Putus Sekolah

Regional | Jakarta

Minggu, 19 Januari 2020 16:38 WIB


ANAMBAS, HALUAN.CO – Seorang guru SMKN 1 Anambas, Kepulauan Riau (Kepri) yang membully seorang siswanya dengan sebutan lonte di tempat banyak orang. Padahal, siswinya itu duduk di motornya dengan membonceng teman laki-lakinya.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyayangkan sikap guru SMKN 1 Anambas yang membully seorang siswanya dengan sebutan lonte. Karena kasus tersebut berbuntut pada hilangnya hak pendidikan seorang siswi SMKN 1 Anambas berinisial AR tersebut.

Komisioner KPAI Retno Lisyarti menegaskan, pembiaran yang dilakukan oleh para guru dan kepala sekolah atas kekerasan yang dilakukan seorang guru terhadap seorang siswi adalah bentuk pelanggaran pasal 54 UU No. 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dan Permendikbud No. 82 tahun 2015 tentan pencegahan dan penanganan kekerasan di sekolah.

“Siapapun pelaku kekerasan di sekolah, baik siswa maupun murid dapat diberi sanksi. Pihak Inspektorat Provinsi Kepri wajib memeriksa guru yang bersangkutan dan dapat digunakan PP 53/2010 tentang Disipln PNS jika guru yang bersangkutan berstatus Aparatur Sipil Negara,” kata Retno Lisyarti, dilansir Lindungianak.com, Minggu (19/1/2020).

Retno Lisyarti menyayangkan sikap Dinas Pendidikan Provinsi Kepulauan Riau yang belum turun tangan mengatasi masalah ini. Pada kasus ini sudah lama terjadi. Seharusnya pihak guru dan sekolah yang dilaporkan oleh KPPAD kepada Dinas Pendidikan Provinsi dan Inspektorat Provinsi Kepri dimana SMK dan SMA adalah kewenangan provinsi.

‘’KPPAD Kepri harus segera meminta rapat koordinasi ke Disdik Provinsi Kepri dengan melibatkan inspektorat provinsi. Kalau perlu si guru yang bersangkutan diperiksa psikologisnya,’’ ujar Retno Komisioner KPAI.

Dilaporkan juga bahwa Komisi IV DPRD Provinsi Kepri juga berencana akan memanggil pihak terkait dalam masalah tersebut, yaitu Dinas Pendidikan Kepri, pihak SMKN 1 Anambas dan lainnya.

Kasus bully yang dialami seorang siswa SMKN 1 Anambas itu terjadi bulan Oktober 2019 lalu yang dilakukan oleh guru agamanya bernama Sukimin. Peristiwa tersebut terjadi di pelabuhan roro saat pulang sekolah.

Seperti dikisahkan RM, ibu AR yang menjadi korban bully. Peristiwa itu terjadi di pelabuhan roro, Ketika menunggu roro tiba, anaknya duduk di motor dengan membonceng teman laki-lakinya sambil ngobrol. Melihat mereka duduk berdua di motor, si guru meneriaki AR dengan sebutan lonte. “Kamu macam lonte,” teriak Sukimin kepada AR, seperti dituturkan RM.

Tentu saja teriakan kata lonte itu membuat AR merasa malu, karena di pelabuhan itu banyak orang, termasuk teman-temannya sesama sesama sekolah dan juga guru-guru SMKN 1 Anambas serta masyarakat lainnya yang juga ingin menyeberang.

Peristiwa yang dialami AR disampaikan kepada ibunya. AR tidak masuk sekolah lagi. Namun sang ibu memberi motivasi anaknya agar tetap bersekolah. Dalam keadaan masih takut, malu dan tertekan secara psikis, AR tetap datang ke sekolah.

KPAI Sesalkan SMP IT Keluarkan Siswanya Hanya Karena Ucapkan Selamat Ultah

Dua hari kejadian yang menimpa putrinya, RM mendatangi sekolah atas panggilan pihak sekolah. Dia menduga pemanggilan itu terkait insiden ang dialami anaknya di kapal roro tersebut. Sementara itu, RM juga sudah berencana datang ke sekolah untuk meminta klarifikasi kepada guru yang meneriaki anaknya lonte.

Sampai di sekolah, RM diterima Kepala Sekolah SMKN 1 Anambas Tugiono dan sejumlah guru lainnya di ruangan majelis guru. Dia dipanggil ke sekolah karena AR, anaknya sudah dua hari tidak masuk sekolah.

Saat RM menanyakan kenapa anaknya diteriaki lonte oleh salah seorang guru di sekolah tersebut, Sukimin yang berada di dalam ruangan tersebut langsung berteriak dengan nada tinggi ke arah RM. Guru tersebut mengakui bahwa dirinya yang melakukan hal itu kepada anak RM dengan nada menantang.

Ruangan yang tadinya hening, tiba-tiba pecah keributan. Sukimin berteriak-teriak dengan perkataan yang tidak pantas diucapkan seorang guru. Sementara guru lain hanya diam. Sedangkan kepala sekolah sudah keluar sehingga tidak menyaksikan kejadian tersebut.

Dia memukul meja berkali-kali dan tepuk dadanya. Dia mengusir saya dari ruangan. Dia mengeluarkan sumpah serapah dengan menyebut nama binatang. Dia juga ancam lapor polisi serta mengancam anak saya dikeluarkan dari sekolah,” kata RM menceritakan hasil pertemuannya di sekolah anaknya, Jumat (17/1/2020) seperti dilansir Lindungianak.com.

Pembullyan terhadap putrinya terus berlanjut di sekolah. Bahkan menurut RM, anaknya terus terus dibully oleh guru sekolah dan teman-temannya. Bahkan penyebutan sebagai lonte terhadap putrinya tersebut diumumkan lagi dengan pengeras suara di sekolah tersebut. Meski kejadian tersebut sudah berlangsung bulan Oktober 2019 lalu, namun trauma anaknya masih belum hilang.

Tidak menerima anaknya diperlakukan seperti itu, apalagi dengan ancaman anaknya mau dikeluarkan dari sekolah, RM meminta bantuan ke Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Anambas agar anaknya tetap bisa sekolah. Kasus tersebut didampingi oleh konselor Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Anambas, Erda.

RM juga melapor ke Camat Siantan Tengah, Anambas untuk menyelesaikan masalah tersebut. Camat Rumadi juga turun ke sekolah untuk mencarikan solusi. “Namun dalam pertemuan itu bukan solusi yang didapat. Sukimin kembali marah-marah dan tepuk meja di depan Camat. Pihak SMKN 1 menyampaikan tetap mengeluarkan AR dari sekolah,’ papar RM.

RM tetap bermohon kepada pihak sekolah agar anaknya bisa ujian terlebih dahulu sebelum anaknya dikeluarkan. RM berharap anaknya bisa dipindahkan dengan administasi yang lengkap untuk mendaftar di sekolah lain di luar Anambas.

Tasri, Komisioner Komisi Pengawasan dan Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Anambas yang baru dilantik langsung ikut membantu menyelesaikan konflik antara orangtua dengan sekolah. Anak bisa ujian, namun permasalahan lain muncul lagi. Nilai yang diberikan guru banyak merah dan di bawah Nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) sehingga tidak bisa diterima di sekolah lain.

AR sempat bersekolah selama satu minggu di sekolah tujuannya SMKN 2 Tanjungpinang. Pihak SMKN 2 Tanjungpinang memberikan kesempatan kepada keluarga AR selama seminggu untuk melengkapi persyaratan pindahnya yaitu surat pindah dari sekolah asal dan nilai harus di atas KKM.

Hingga sudah 10 hari kalender sekolah, rapor AR belum bisa diperbaiki oleh pihak SMKN 1 Anambas dan juga belum mengeluarkan surat pindah. Akhirnya, AR pasrah dengan nasibnya tidak bersekolah. Saat ini, AR berada di Kota Batam untuk mengambil les bahasa Inggris.

Ketua Komisi Pengawasan dan Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Provinsi Kepri Erry Syahrial yang menerima pengaduan orangtua korban merasa prihatin dengan nasib yang dialami oleh AR. Menurut Erry, korban telah mengalami bully, kekerasan psikis, diskriminasi, dan ditelantarkan nasibnya.

Tidak semestinya guru membully siswinya dengan kata-kata seperti itu. Kalau siswinya adalah salah dalam ucapan dan etika saat kejadian itu, maka bisa dipanggil saat berada di sekolah dan diberikan bimbingan. Bisa jumga dipanggil orangtuanya. Bukan dengan cara emosi dan arogansi seperti itu karena guru itu digugu dan ditiru.

Dijelaskan Erry, ada beberapa hak anak yang dilanggar pihak sekolah terkait masalah tersebut. Karena itu, dia akan memperjuangkan agar AR bisa bersekolah kembali dan mendapatkan perlindungan sebagai anak.

Erry Syahrial juga mengaku sudah menghubungi dan meminta klarifikasi Kepala Sekolah SMKN 1 Anambas Tugiono. Katanya, kejadian bully tersebut terjadi karena kesalahan siswa atas perilakunya di atas roro.

Soal rapor yang nilai di bawah KKM terjadi karena guru-guru yang lain tidak mengetahui soal pindah tersebut. Belum ada surat pindah AR ketika itu karena alasan pihak sekolah bahwa saat itu lagi liburan.


0 Komentar