Diintai Intel Belanda, Bung Karno Pernah Bikin Rapat di Rumah Bordil

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Resensi Buku: Memata-Matai Kaum Pergerakan. (Ilustrasi: Total Politik)

-

AA

+

Diintai Intel Belanda, Bung Karno Pernah Bikin Rapat di Rumah Bordil

Sejarah | Jakarta

Rabu, 15 April 2020 18:45 WIB


Buku Memata-Matai Kaum Pergerakan: Dinas Intelijen Politik Hindia Belanda 1916-1934 membahas mengenai sejarah dinas intelijan milik Pemerintah Hindia Belanda yang bertugas mengawasi tokoh pergerakan nasional.

DARI dulu hingga sekarang, tugas intelijen sama saja: mencegah terjadinya kekacauan demi terjaganya kemananan dan ketertiban suatu negara. Inilah yang tercermin dalam sebuah buku yang berjudul Memata-Matai Kaum Pergerakan: Dinas Intelijen Politik Hindia Belanda 1916-1934.

Allan Akbar, penulis buku ini, mencoba menggambarkan dinamika Dinas Intelijen Politik Algemeene Recherche Dienst (ARD) - mungkin pembaca yang budiman bisa menebak kata reserse dalam bahasa Indonesia berasal dari mana - pada masa pergerakan nasional di Hindia Belanda awal Abad 20.

Pegiat sejarah ini mencoba untuk mengurai proses dibentuknya ARD sebagai pengganti dari Politieke Inlichtingen Dienst (PID); sejauh mana peran dan tugasnya; dan bagaimana mereka melakukan pengawasan terhadap kaum pergerakan di tanah air.

Allan menerangkan bahwa kondisi tersebut sebetulnya tak terlepas dari era Perang Dunia 1 yang berdampak besar setelahnya. Pemerintah Hindia Belanda khawatir dengan keberadaan rakyatnya sendiri, yang sewaktu-waktu bisa mengancam legitimasi mereka sebagai penguasa.

Untuk itu, Pemerintah Hindia Belanda membentuk dinas intelijen sebagaimana tujuan yang diharapkan. Bukan hal baru, sebelum terjadi ARD, memang ada PID yang juga merupakan dinas intelijen. Akan tetapi, dinas ini dibubarkan pada 1919.

Mengetahui ada tanda-tanda perlawanan dari kaum pergerakan, Pemerintah Hindia Belanda membentuk ARD guna menjaga keamanan dan ketertiban di negeri miliknya itu melalui aksi preventif.

Ada yang unik. Sementara tugas ARD adalah mengumpulkan segala informasi mengenai segala kegiatan politik di Hindia Belanda, mata-mata yang digunakan lembaga itu diambil dari golongan pribumi.

Dengan demikian, Allan menyimpulkan, “Kita dapat melihat bahwa adanya sebuah kebijakan dari pemerintah kolonial yang terkesan berusaha untuk memecah golongan pribumi dengan menggunakan agen dan mata-mata yang juga berasal dari pribumi.”

Dalam pengawasan itu, ARD utamanya membidik organisasi Sarekat Islam dan Partai Komunis Indonesia (PKI), dua organisasi pergerakan yang paling besar pada masanya. Para agen ARD mengawasi tokoh-tokoh pergerakan dengan cara menguntit dan memata-matai mereka secara langsung lewat rapat terbuka maupun kongres.

Kemudian, mereka menelaah dengan cermat setiap pidato dari pemimpin-pemimpin partai tersebut. Jika isi pidato mengandung hasutan untuk menentang pemerintah, agen ARD berhak untuk membubarkan rapat.

Untuk mengawasi tokoh pergerakan, ARD melakukan pengawasan ketat dengan mengirimkan dua orang agen ARD yang untuk membuntuti mereka; lalu mencatat tiap pergerakan mereka; dan membuat laporan perkembangan tokoh pergerakan itu ke atasannya.

Salah satu tokoh intelijen yang tak disangka-sangka disusupkan itu adalah Agus Salim. Ia disusupkan ke dalam organisasi Sarekat Islam mendampingi Cokroaminoto yang memegang tampuk kepemimpinan, dan mendapatkan jabatan penting, agar memperoleh informasi mendalam mengenai organisasi itu.

Buku ini juga mengisahkan bagaimana kaum tokoh pergerakan merespon tindak tanduk agen-agen ARD ini.

Pakaian dan Atribut Dokter Era Kolonial: Suatu Diskriminasi Terselubung

Seperti Sukarno, ia merasa sangat risih dengan keberadaan rechercheur yang selalu mengikutinya ke mana pun. Baginya, keberadaan agen-agen ARD membuat ruang gerak miliknya menjadi sempit ketika setiap kegiatannya selalu diikuti dan dicatat dua orang rechercheur tersebut. Dari catatan sejarah, Bung Karno pernah menghindari mereka dengan mengadakan rapat di sebuah rumah bordil.

Hatta pun demikian. Ia juga diawasi ketat oleh ARD, terutama setelah kepulangannya ke Hindia Belanda. Ketika baru tiba di Singapura, ia selalu dibuntuti polisi rahasia (ARD).

“Aku singgah selama dua hari di Singapura dan dengan segera aku dapat merasakan atmosfir kolonial. Ke mana pun aku pergi, aku selalu diikuti oleh polisi rahasia,” ungkap Hatta dalam lansiran yang ditulis Allan Akbar.

Atau pun juga Tan Malaka, yang dianggap sebagai tokoh berbahaya bagi pemerintah kolonial, tak luput dari pengawasan ARD secara ketat. Pemerintah Hindia Belanda menugaskan agen-agen ARD untuk mengawasi Tan agar tak melakukan tindakan-tindakan subversif.

Tan pernah memperoleh pengalaman ditangkap agen ARD ketika berada dalam rapat VSTP. Begini ungkapannya: “Kira-Kira jam 12, ketika saya bercakap-cakap dengan beberapa teman, datanglah sebuah auto berhenti di depan sekolah itu. Belanda PID yang tadi juga keluar dari auto itu. Dengan hormat dan muka sedih, Belanda ini memperlihatkan surat perintah menangkap saya. Saya dipersilakan masuk auto.”

Hal yang menarik juga terungkap dalam buku ini. Allan mencoba untuk mendudukkan lembaga intelijen Belanda kala itu kembali pada khittah-nya.

Lulusan Sejarah Universitas Indonesia itu dengan berani membongkar kekeliruan tokoh pergerakan dan masyarakat pribumi, lalu mengklarifikasi kekeliruan mereka yang lebih banyak menyebut PID dibanding ARD. Padahal, dinas PID sudah sejak 1919 dibubarkan dan digantikan peranannya oleh ARD. Menurutnya, hal ini dikarenakan saat itu memang popularitas dan keangkeran nama PID tetap bertahan di kalangan pribumi sehingga mampu menenggelamkan nama ARD yang sebetulnya merupakan dinas intelijen yang eksis saat itu.

Bisa dikatakan melalui buku ini, Allan Akbar memberikan fakta sejarah yang baru untuk mengupas sejarah intelijen yang memang belum banyak dikaji saat ini. Barangkali, ini masih bisa diperdebatkan. Tetapi, belum ada karya tandingan yang membantah tesisnya hingga saat ini.

Maka, saya kira, buku ini layak dibaca, terutama untuk orang-orang yang menyenangi dunia intelijen yang sesungguhnya, bukan angin-anginan. (AK)


0 Komentar