Dirut Garuda Dicopot, Said Didu: Titipan Penguasa!
Dirut Garuda tersandung kasus penyelundupan. (Ilustrasi: Haluan.co)

JAKARTA, HALUAN.CO - Mantan Sekretaris Kementerian BUMN, Said Didu mengaku sejak awal sudah mempersoalkan integritas Direktur Utama PT Garuda Indonesia, I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra alias Ari Askhara, yang baru saja dicopot dari jabatannya.

Menurut dia, dalam empat tahun terakhir, sebelum menjabat Dirut Garuda, Ari sudah tiga kali pindah dan naik kelas sebagai Direksi BUMN.

"Sejak lama saya persoalkan siapa sebenarnya dan bagaimana integritas Dirut Garuda. Dalam 4 thn (sblmnya dari swasta) sudah 3 kali pindah dan naik kelas sbg Direksi BUMN, sebelum jadi Dirut Garuda, ybs sebagai Dirut Pelindo III," cuit Said Didu dalam akun twitter-nya @msaid_didu, Jumat (6/12/2019).

Menteri BUMN Erick Thohir, diketahui, sudah memberhentikan Dirut PT Garuda Indonesia Ari Askhara karena menyelundupkan komponen Harley-Davidson. Keputusan tersebut diambil setelah mempertimbangkan hasil pemeriksaan Komite Audit.

"Saya sebagai Menteri BUMN akan memberhentikan Dirut Garuda," ujar Erick.

Terkait itu, Said Didu menduga, orang seperti Ari adalah titipan penguasa yang ditempatkan sebagai Dirut BUMN.

"Orang seperti ini biasanya titipan penguasa," tulisnya.

Sebelumnya, dalam acara Mata Najwa, Rabu (4/12/2019), Said Didu mengungkapkan, ada tiga hal yang akan menjadikan Kementerian BUMN berhasil jika menjalankan fungsi-fungsinya.

Hal itu disampaikannya langsung kepada Menteri BUMN, Erick Thohir yang juga menjadi narasumber.

Tiga hal fungsi yang menjadi sorotan Said Didu untuk ialah, pertama BUMN harus menjadi benteng perekonomian nasional dari dampak globalisasi, kedua Menjadikan BUMN sebagai katalisator perekonomian nasional di Indonesia dan yang ketiga penyangga perekonomian rakyat.

Menurut Said Didu, ketiga itu merupakan fungsi BUMN yang harus dibutuhkan untuk kemajuan Bangsa dan Negara.

Dalam hal penempatan orang-orang di jajaran direksi maupun komisaris BUMN, Said Didu menekankan harus adanya langkah untuk 'menutup seerat-eratnya jendela dan pintu intervensi non-korporasi'. Memilih orang yang terbaik, dan abaikan suara-suara yang tak penting.

"Sekali jendela di buka, untuk memasukkan orang yang tidak kompeten, tidak seperti kriteria, maka air bah akan datang dan mengisinya," tukasnya.