Dosen Senior UGM Kritik Pidato Inspiratif Mendikbud Nadiem Makarim
Mendikbud Nadiem Anwar Makarim. (Foto: Suara Muhammadiyah)

JAKARTA, HALUAN.CO - Di era digital saat ini, gelar tidak lagi menjamin kompetensi. Bahkan gelar kelulusan tidak lagi menjamin kesiapan seseorang dalam bekerja.

Hal itu diungkapkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makariem dikutip melalui akun instagram mengatasnamakan @nadiem_anwar_makarim, Selasa (10/12/2019).

"Kita memasuki era dimana gelar tidak menjamin kompetensi, kita memasuki era dimana kelulusan tidak menjamin kesiapan berkarya dan bekerja, kita memasuki era dimana akreditasi tidak menjamin mutu, kita memasuki era dimana masuk kelas tidak menjamin belajar," kata Nadiem dalam unggahan akun instagram tersebut.


Unggahan video itu memantik komentar positif dari sejumlah netizen. Salah satunya akun instagram @liza_afina_wgk. "Setuju pak, tingkah laku anak sekarang makin jadi, meding diajarkan karya dan attitude saja, buat apa nilai bagus anak-anak pada ngelawan ke orang tua," tulis dia.

"Benar sekali pak, kenyataannya dijaman anak kita nanti kalau mereka tidak punya keahlian, ide-ide kreatif, kerjasama tim yang baik maka mereka akan terlindas dengan mesin. Sekarang semua sudah mulai tergantikan dengan mesin dan komputer, teller sudah mulai digantikan mesin setor tunai. Cetak buka bisa di mesin, pilih barang bisa lewat online tidak perlu marketing. Kalau tidak ada ide-ide kreatif habislah anak-anak kita, maka jiwa entreprenuer dan akhlak yang baik perlu ditingkatkan di sekolah, terutama yang berbasis skill dan kreatifitas harus semakin diperbanyak pelajarannya," tulis akun @maxx1.23.

Namun tanggapan berbeda disampaikan oleh seorang dosen senior UGM, Ir. KPH. Bagas Pujilaksono Widyakanigara, M.Sc. Dia memberikan kritik lewat surat terbuka yang terpublikasi secara luas. Selengkapnya surat itu termuat dibawah ini.

Kepada Yth,

Bapak Nadiem Makarim

Mendikbud RI

Di Jakarta


Saya melihat poster, ada foto pak Nadiem, dan ada beberapa pernyataan. Saya ingin mengkritisi pernyataan pak Nadiem.

Pak Nadiem bilang: Kita memasuki era dimana gelar tidak menjamin kompetensi. Kalau pernyataan pak Nadiem ini empirically correct, maka pertanyaan saya adalah mengapa pak Nadiem bersusah payah kuliah S2 di Harvard University, USA? Bukanya itu dalam rangka mencapai tahapan kompetensi tertentu? Buktinya pak Presiden Jokowi sampai terpesona berat pada pak Nadiem. Karena apa? Karena kompetensi pak Nadiem tentunya. Anak laki-laki sulung saya alumni S1 Teknik Mesin UGM, alumni S2 di Department of Material Science and Metalurgy, Cambridge University, UK dan segera menempuh S3 di Cambridge University, UK di Department yang sama. Dia masih dapat tawaran S3 dari banyak kampus top dunia, misal Oxford University, UK dan Harvard University, USA, namun dia tetap humble dan tidak kontroversial dengan ucapannya.

Pak Nadiem bilang: Kita memasuki era dimana kelulusan tidak menjamim kesiapan kerja. Sekolah dan Kampus bukan tempat kursus untuk menyiapkan tenaga kerja. Sekolah dan Kampus adalah tempat terhormat, dimana anak didik dan mahasiswa menempuh proses pendidikan dalam rangka mematangkan emosional dan intelektualnya. Sekolah dan Kampus tidak pernah menyiapkan anak didik dan mahasiswa, setelah lulus, siap kerja. Namun, menyiapkan anak didik dan mahasiswa, setelah lulus, siap beradaptasi dengan dunia kerja. Jadi dalam hal ini pak Nadiem keliru menilai arti Sekolah dan Kampus.

Pak Nadiem bilang: Kita memasuki era dimana akreditasi tidak menjamin mutu. Jujur saya bingung dengan pak Nadiem, koq bisa bicara begitu? Bukanya di Amerika semua hal, selalu diakreditasi: akreditasi profesi, akreditasi kampus, akreditasi jurnal, dll. Tujuannya agar keterulangan kemampuan seseorang atau sistem bisa terjamin, dengan target utama adalah kualitas. Pak Nadiem sebagai Mendikbud RI membawai BAN PT, apa BAN PT mau dibubarkan?

Saya perhatikan sejak pelantikan hingga hari ini, pak Nadiem terus saja berwacana, kapan kerjanya?

Semakin banyak sekolah ambruk, korban siswa dan guru berjatuhan, nyawa melayang sia-sia. Semakin nyata Sekolah dan Kampus terpapar bahaya Radikalisme Agama, akibatnya sekolah dan kampus tidak berkembang dan amat sangat diskriminatif. Alih-alih dijari berfikir terbuka dan rasional, anak didik dan mahasiswa dicekoki dogma-dogma politisasi agama yang sesat.

Anda buang-buang waktu pak Nadiem. Do something bagi pendidikan nasional.

Mungkin pak Nadiem adalah orang genius ditempat yang salah.

Mohon maaf jika ada kata saya yang kurang berkenan.

Terimakasih. Viralkan!


Yogyakarta, 2019-12-08

Hormat saya,

KPH. BP. Widyakanigara


Penulis: Milna Miana