Dulu Kapal Maling Ikan di Era Susi Ditangkap dan Ditenggelamkan, Kini Masa Edhy Cuma Diusir

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Kapal penjaga pantai China (China Coast Guard) (Foto: Bakamla)

JAKARTA, HALUAN.CO - Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Pangkogabwilhan) I TNI Laksamana Madya TNI Yudo Margono mengatakan, TNI saat ini lebih mengupayakan persuasif untuk mengusir kapal nelayan asing yang mencuri ikan di Perairan Laut Natuna, Kepulauan Riau (Kepri) dilakukan terhadap kapal penjaga pantai China (China Coast Guard) dan nelayannya.  

Sebab, kebijakan Menteri Keluatan dan Perikanann Edy Prabowo tidak melakukan penangkapan, apalagi menenggelamkan kapal pencuri ikan, yakni cukup diusir agar menjauh dari wilayah Perairan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia.

Berbeda dengan kebijakan dengan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, yang saat itu Yudo Margono masih menjabat sebagai Panglima Koarmada I, yakni ditangkap dan akhirnya ditenggelamkan. Dimana saat itu, sebagai Panglima Koarmada I dia menangkap dua kapal China yang mencuri ikan di Natuna menggunakan kapal Pukat Harimau.

Yudho mengaku, piaknya telah melakukan upaya persuasif mengajak kapal penjaga pantai China membawa nelayan-nelayannya meninggalkan perairan Natuna. Menurut dia, sesuai aturan seharusnya nelayan China tersebut ditangkap dan diproses sesuai hukum yang berlaku. Sementara kapal penjaga pantai memang hanya diusir keluar dari perairan Indonesia.

Sejak Susi Pujiastuti tak lagi menjabat sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan, digantikan oleh Edhy Prabowo pada Oktober 2019 lalu, pencurian ikan di Natuna kembali marak dilakukan oleh nelayan asing asal Vietnam, Thailand dan China. Sebab, kebiijakan Edhy Prabowo tidak lagi menenggelamkan kapal, tapi kapal yang ditangkap akan diberikan ke nelayan Indonesia.

Bahkan Badan Keamanan Laut (Bakamla) RI beberapa waktu lalu, bahkan memergoki kapal China Coast Guard tak hanya mengawal kapal nelayan China, tetapi juga mengawal kapal nelayan Vietnam yang sama-sama tengah mencuri ikan di Laut Natuna.

"Tapi kita lakukan upaya damai. Meminta mereka keluar dengan sendirinya, di samping upaya negosiasi juga dilakukan Kementerian Luar Negeri Indonesia dengan China," ujar Laksamana Madya TNI Yudo Margono, Minggu (6/1/2019).

Dia mengemukakan, pukat harimau di Indonesia dilarang oleh pemerintah melalui Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 2 Tahun 2015. Terakhir kali nelayan China menggunakan pukat harimau di laut Natuna sekitar pada 2016 silam, di mana saat itu TNI menangkap dua kapal negara asing tersebut.

Sejak penangkapkan itu, lanjutnya, tak ada lagi nelayan China yang berani menangkap ikan di Natuna. Namun, sekarang mereka datang kembali menjarah potensi laut Indonesia.

"Bahkan aktivitas nelayan mereka kini didampingi dua kapal penjaga pantai (coast guard) dan satu pengawas perikanan China," ucapnya.

Yudo menegaskan, TNI juga telah menggelar operasi dengan menurunkan dua unsur KRI guna mengusir kapal asing tersebut keluar dari Natuna. Operasi ini, kata dia, tidak memiliki batas waktu sampai kapal China betul-betul angkat kaki dari wilayah maritim Indonesia.

"Fokus kami sekarang ialah menambah kekuatan TNI di sana. Besok (hari ini) akan ada penambahan empat unsur KRI lagi untuk mengusir kapal-kapal tersebut," ungkapnya.

Kapal-kapal China diketahui masih bertahan di perairan Natuna hingga Minggu (5/1/2019). Kapal-kapal tersebut berada di 130 NM Timur Laut Ranai, Natuna.

Pangkogabwilhan I TNI Laksamana Madya TNI Yudo Margono memerinci, jumlah kapal China yang masih bertahan di Natuna yakni, dua kapal, satu kapal pengawas perikanan, dan 30 kapal nelayan.

Yudo menyatakan, kapal nelayan China menangkap ikan dengan menggunakan pukat harimau yang ditarik dua kapal di laut Natuna, Kepulauan Riau.

"Berdasarkan pantauan kami dari udara, mereka memang nelayan China yang menggunakan pukat harimau," kata Yudo Margono.

Kapal China Masuk Laut Natuna, Mahfud MD: Tak Ada Negosiasi, Usir!

Namun, pernyataan Pangkogabwilhan I TNI Laksamana Madya TNI Yudo Margono, Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo mengklaim bahwa, pemerintah telah melakukan penangkapan terhadap kapal-kapal China yang diduga melakukan praktik illegal fishing di perairan Natuna. Ia menjelaskan, kapal tersebut kini ada di Pontianak untuk kemudian akan ditindaklanjuti.

"Tanggal 30 (Desember) kemarin ketika disampaikan kita sudah menangkap tiga kapal sekarang sudah ada di Pontianak, sekarang harusnya saya ada di sana untuk menyambut para ABK kita yang berhasil membawa, karena terjadi perlawanan yang sangat sengit, rencana mungkin hari Rabu, karena besok masih ada rapat lanjutan dengan Menko Polhukam, yang pasti semangat mereka berapi-api menjaga kedaulatan," ujar Edhy, Senin (6/1/2019).

Edhy juga menjelaskan, pihaknya juga mengerahkan Satgas 115 untuk bisa menjaga perbatasan dan perairan negara. Ia memastikan kordinasi antar lembaga untuk bisa melakukan penjagaan dan pengawasan dilakukan secara paralel.

"Kami akan ikut koordinasi karena ini menyangkut seluruh kementerian, KKP akan menjaga, melaksanakan tugas. Ini hubungannya dengan keamanan dan kedaulatan negara yang penting tetap cool tidak terpancing. yang penting kita semua kompak di seluruh KL (kementerian/lembaga)," ujar Edhy.


0 Komentar