Empat Nama Ini Dianggap Layak Ditetapkan Tersangka Kasus Jiwasraya
Empat nama dianggap layak ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan korupsi PT Jiwasraya. (FOTO: Istimewa)

TANJUNGPINANG, HALUAN.CO - Koordinator Masyarakat Anti-Korupsi Indonesia (MAKI), Boyamin Saiman, menyebutkan empat nama yang dianggapnya layak ditetapkan sebagai tersangka dugaan kasus korupsi PT Jiwasraya.

Keempat nama itu yakni HR, HP yang merupakan dari internal Jiwasraya, dan HH dan BTJ selaku pihak swasta yang diduga menikmati hasil penyimpangan.

"MAKI adalah Pelapor dugaan korupsi BUMN Asuransi Jiwasraya di Kejati DKI Jakarta 15 Oktober 2018, saat ini kasus tersebut diambil alih oleh Kejaksaan Agung," kata Boyamin dilansir dari Antara, Jumat (27/12/2019).

Boyamin menuturkan, HR dan HP selaku pihak internal manajemen Jiwasraya diduga telah melakukan penyimpangan investasi dengam menunjuk manajer investasi yang tidak kompeten.

Keduanya, lanjut dia, membiarkan transaksi saham oleh manajer investasi tanpa akta notariel oleh Notaris, sehingga tidak ada hak dan kewajiban dalam mengendalikan keuntungan dan investasi.

Selain itu, menurut Boyamin, HR dan HP membeli saham-saham dengan resiko tinggi, tidak hati-hati dan tidak melakukan manajemen resiko yang baik sehingga melanggar Peraturan OJK No. 2 tahun 2014 dan No. 73 tahun 2016.

"Mereka membiarkan manajemen investasi melakukan transaksi saham-saham beresiko tinggi dari 21 perusahaan dengan harga pembelian Rp3,9 triliun, namun ketika dijual kembali mengalami kerugian Rp2,7 triliun," ujar Boyamin.

Soal Jiwasraya, SBY: Kalau Tak Satupun Mau Bertanggungjawab Salahkan Saja Masa Lalu

Sementara untuk HH selaku pihak swasta, menurut Boyamin, diduga menyerahkan 12 nama saham reksa dana kepada Jiwasraya dengan harga Rp7,6 triliun. Namun, setelah dijual kembali oleh Jiwasraya menimbulkan kerugian Rp4,8 triliun.

"Bisnis Saham Langsung terdiri 4 nama, Jiwasraya membayar Rp5,2 triliun, kemudian Jiwasraya ketika menjual kembali rugi Rp3,2 triliun," ungkap dia.

Pihak swasta lainnya yaitu BTJ pun diduga menyerahkan tiga nama saham reksa dana kepada Jiwasraya dengan harga Rp1,4 triliun, namun ketika Jiwasraya menjual kembali mengalami kerugian Rp484 miliar.

"Atas dugaan perbuatan empat orang tersebut, diduga menimbulkan kerugian Jiwasraya sekitar Rp11,2 triliun. Jumlah ini bisa berubah lebih besar karena Kejaksaan Agung pernah menyatakan dugaan kerugian mencapai Rp13,7 triliun," tutur Boyamin.

MAKI, menurut dia, telah mendesak Kejaksaan Agung untuk segera menetapkan Tersangka pada saat perkara ini ditingkatkan Penyidikan pada bulan Juni 2019. Namun, hingga saat ini Kejakasaan belum menetapkan tersangka.

"Kami menunggu bulan Januari 2020 untuk menetapkan Tersangka, jika tidak maka bulan Februari 2020 Kami akan ajukan gugatan praperadilan atas lambannya Kejaksaan dalam menetapkan tersangka," paparnya.

Sebelumnya, dalam kunjungannya ke Balikpapan, Kalimantan Timur pada Rabu, 18 Desember 2019, Presiden Jokowi mengungkapkan permasalahan PT Asuransi Jiwasraya (Persero). Kata Jokowi, asuransi milik pemerintah itu mengalami masalah sejak sepuluh tahun lalu. Hal itu dia ketahui sejak tiga tahun belakangan ini, Jokowi mengatakan selama ini pihanya sedang mencari solusi untuk menyelesaikan permasalahan Jiwasraya tersebut.

"Kemarin kami sudah rapat, antara Kementerian BUMN dan Kementerian Keuangan. Yang jelas, gambaran solusi sudah ada, kita tengah mencari solusi itu," kata Jokowi.