Faktor, Dampak, dan Angka Pernikahan Dini di Indonesia

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Belenggu pernikahan dini. (Ilustrasi: Istimewa)

-

AA

+

Faktor, Dampak, dan Angka Pernikahan Dini di Indonesia

Hipotesa | Jakarta

Senin, 13 April 2020 13:29 WIB


Tidak hanya dari segi kesehatan fisik, pernikahan dini berdampak negatif pada kesehatan mental atau kondisi psikologis pasangan dan anaknya. Ketidakstabilan emosi pada masa remaja dapat menimbulkan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) bahkan cenderung terjadi pembunuhan. 

DILANSIR dari The United Nations Children's Fund (UNICEF) pada tahun 2013, Indonesia menjadi negara dengan angka perkawinan anak tertinggi ketujuh di dunia. Selanjutnya, data dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2015, menyatakan bahwa sebanyak 1 dari 4 anak perempuan di bawah usia 18 tahun pernah menikah.

Pada tahun 2017, sebanyak 2 dari 5 anak perempuan usia 10 hingga 17 tahun pernah menikah. Sesuai angka tersebut, menunjukkan bahwa Indonesia masih perlu menaruh perhatian lebih pada kasus pernikahan usia dini.

Secara umum, pernikahan dini dipengaruhi oleh beberapa faktor-faktor ekonomi terjadi karena keluarga mengalami kesulitan ekonomi sehingga terpaksa menikahkan anaknya pada usia dini. Dengan demikian, diharapkan sang anak dapat mengurangi beban ekonomi keluarga dan memperoleh kehidupan yang lebih layak ke depannya.

Tingkat pendidikan yang rendah menyebabkan orang tua cenderung pasrah dan tidak terlalu memikirkan dampak yang akan dialami sang anak ketika harus menikah di usia dini. Faktor media massa menjadi pendorong usia pernikahan dini terbaru.

Faktor ini didukung dengan mudahnya akses internet sehingga masyarakat mudah mengunjungi situs-situs berbau pornografi yang sebenarnya dilarang oleh pemerintah. Kurangnya dalam pembekalan pengetahuan dan emosional terhadap remaja pada akhirnya mampu mendorong rasa penasaran dan pada akhirnya melakukan hubungan seks diluar nikah.

Pernikahan usia dini dapat menimbulkan banyak dampak negatif bagi kesehatan. Berdasarkan Laporan Kajian Perkawinan Usia Anak di Indonesia, tingginya angka pernikahan usia dini dapat meningkatkan risiko kematian ibu dan bayi juga memberikan dampak buruk bagi kesehatan anak-anak di kemudian hari. Selain itu, organ reproduksi pada perempuan di bawah usia 20 tahun belum matang dengan sempurna sehingga hubungan seksual dapat berisiko menimbulkan berbagai penyakit, seperti kanker serviks dan kanker payudara.

Bagi wanita yang mengalami kehamilan di bawah usia 20 tahun dapat menimbulkan risiko perdarahan, anemia, pre-eklampsia dan eklampsia, infeksi saat hamil, dan keguguran. Perempuan yang hamil dan melahirkan pada usia 10 hingga 14 tahun memiliki risiko 5x lebih besar dibandingkan dengan perempuan berusia 20 hingga 24 tahun.

Selain itu, risiko masalah kesehatan pada bayi yang dilahirkan oleh ibu yang belum cukup umur antara lain BBLR (Berat Bayi Lahir Rendah), kelainan kongenital (cacat bawaan), hingga kematian janin. Kesedihan tentu akan dirasakan oleh pasangan jika anak yang dilahirkan mengalami masalah kesehatan yang dapat membahayakan nyawa anak tersebut.

Tidak hanya dari segi kesehatan fisik, pernikahan dini berdampak negatif pada kesehatan mental atau kondisi psikologis pasangan dan anaknya. Ketidakstabilan emosi pada masa remaja dapat menimbulkan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) bahkan cenderung terjadi pembunuhan.

Usia menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kematangan seseorang dari segi emosional. Pada usia remaja, terjadi masa transisi dari masa kanak-kanak ke masa dewasa yang diawali dengan masa pubertas. Seorang remaja telah mencapai kematangan emosional pada akhir masa remaja yaitu usia 17 hingga 22 tahun. Pada periode usia tersebut, remaja sudah dapat mengontrol emosi, memahami diri sendiri, dan mampu menilai situasi secara kritis terlebih dahulu sebelum bereaksi secara emosional.

Namun, pada pernikahan usia dini, laki-laki dan perempuan yang menikah belum memiliki kematangan emosional sehingga percekcokan, perceraian, dan KDRT rawan terjadi. KDRT dapat menimbulkan trauma bahkan kematian bagi korban. Selain itu, perceraian dan kekerasan dalam rumah tangga dapat berdampak pada psikologis anak dari pasangan tersebut karena anak akan merasa kurang mendapat perhatian dan kurang nyaman berada di rumah.

Sebagaimana diatur pada Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang perkawinan, usia minimal perkawinan untuk laki-laki dan perempuan adalah 19 tahun. Namun, dari segi kesehatan, BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional) menghimbau batasan usia yang ideal untuk menikah baik dari segi fisik dan mental, yaitu minimal 21 tahun bagi wanita dan 25 tahun bagi pria. Maka dari itu, sebaiknya setiap pasangan dapat memperhitungkan sendiri usia yang ideal untuk menikah, demi kesehatan dan menghindari dampak negatif lainnya.


0 Komentar