Film Jaws: Negara Tidak Boleh Sepelekan Ancaman

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Hiu dari Jaws (Ilustrasi: Total Politik)

-

AA

+

Film Jaws: Negara Tidak Boleh Sepelekan Ancaman

Total Politik | Jakarta

Senin, 20 April 2020 10:26 WIB


Para politisi, terutama yang populis, sering dituduh antisains. Mengapa banyak pemerintah, termasuk pemerintah Indonesia, lamban dalam menanggapi wabah Corona?

“Bapak Walikota, Anda harus menutup pantai!”

”Lho, enggak bisa, wong hidup kami bergantung pada turis musim panas”

“Ya, kalau begini terus enggak akan ada musim panas, Pak!”

“Ya, Anda sendiri enggak paham masalah kan kami disini”

“Ya, tapi saya paham sekali bahwa Anda akan mengabaikan masalah ini sampai anda kena sendiri!”

Cuplikan di atas, untungnya, tidak diambil dari konferensi pers seorang kepala negara dengan ahli-ahlinya yang mulai putus asa – walaupun bila kita menyorot sirkus yang sedang mengemuka di Amerika, naga-naganya sih bakal ke arah sana.

Dalam Jaws (1975), salah satu mahakarya pertama sineas Steven Spielberg, kepala polisi Martin Brody –diperankan dengan naik oleh Roy Scheider—dan ilmuwan awut-awutan Matt Hooper (Richard Dreyfuss) mencoba meyakinkan Walikota Pulau Amity Larry Vaughn (Murray Hamilton) untuk menutup pantai-pantai kota.

Bagaimana duduk perkaranya? Seekor hiu putih yang sangat besar telah membunuh dua pengunjung pantai dan seorang nelayan. Gigi hiu itu, yang tertancap di puing-puing perahu korbannya yang terakhir, menjadi pengingat bahwa hiu itu ada.

Tapi hiu, bagaimanapun juga, adalah ancaman yang kasat mata. Ia berwujud; siripnya membelah ombak setiap ia akan menyerang manusia, diiringi iringan instrumen yang memekik telinga. Pencegahannya pun terbilang sederhana.

Warga kota cukup menghindari berenang saja. Dengan begitu, kehidupan kota masih bisa berjalan sebagaimana mestinya.

Saya curiga bahwa figur antagonis sejati di Jaws sepertinya bukan si Hiu, tapi Larry Vaughn sang walikota. Ketika Brody mendesaknya untuk menutup pantai, Vaughn hanya memasang plang yang mewanti-wanti pengunjung untuk tetap “awas dan berjaga-jaga.”

Ketika nelayan-nelayan lokal berhasil menangkap seekor hiu harimau yang jauh lebih kecil dari hiu putih besar yang disaksikan Hooper dan Brody, Sang walikota mengumumkan bahwa krisis telah berlalu dan perairan Pulau Amity telah aman.

Mayat dua orang turis ditemukan di pesisir pantai keesokan harinya; tubuh mereka terkoyak, merah darah mewarnai ombak.

Lagi-lagi, penggambaran sosok Vaughn tidak bisa dipisahkan dari semangat zaman. Ia seakan mewakili ketidakpercayaan khayalak Amerika terhadap elite-elite politik mereka yang timbul setelah menyeruaknya skandal Watergate (1972-1974).


Sebaliknya, baik Brody maupun Hooper mewakili para “ahli.” Mereka adalah spesialis dalam bidang masing-masing, utamanya dalam hal penegakan hukum dan oseanografi, yang tidak terkekang oleh kepentingan-kepentingan politik atau didorong oleh hasrat untuk terpilih lagi.

Saya tidak bisa menyangsikan adanya kemiripan antara tokoh Vaughn di film Jaws dan laku Presiden Joko Widodo. Sebagaimana Vaughn, respon presiden terhadap krisis COVID-19 tidak muncul dari niat jahat.

Corona dan Kegagalan Trump dalam Komunikasi Publik

Pemimpin-pemimpin sering kali dipaksa untuk melihat gambaran yang lebih besar, dan tidak semua yang mereka jadikan pertimbangan bisa disampaikan ke rakyat biasa.

Bagaimana mereka menanggapi berita bahaya pun kurang lebih sama. Khawatir, pastinya, tapi oleh karena perlunya kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah, mereka tidak bisa terlihat cemas.

Kecemasan hanya akan memberi sinyal buruk pada pasar dan publik sebelum waktunya.

Mungkin jajaran pemerintahan diinstruksikan untuk memancarkan kesan yang serupa. Menko Perekonomian Airlangga Hartanto, misalnya, berkelakar pada tanggal 15 Februari 2020, bahwa virus Corona tidak kunjung masuk Indonesia karena terkendala izin yang berbelit-belit.

Dua hari sesudahnya, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, yang hingga kini masih dirawat di RSPAD Gatot Subroto, juga melempar wacana bahwa nasi kucing memberikan daya kebal bagi masyarakat terhadap Corona.

Mungkin, paradigma yang sama juga digunakan dalam upaya penanggulangan awal pemerintah Indonesia terhadap wabah: seremoni dan tawa. Dari pengangkatan duta daya tahan tubuh hingga bersikeras bahwa kasus-kasus yang ada bukan apa-apa; itu pun dilakukannya.

Izinkan saya berkhusnudzon bahwa beliau memiliki pertimbangan yang menyeluruh, yang tidak hanya mencakup kesehatan masyarakat, tapi juga keuangan negara dan ketersediaan pasokan makanan untuk rakyat Indonesia.

Tapi ayolah, kita tidak perlu mengesampingkan pendapat para ahli sebegitu lama. Indonesia telah ketinggalan waktu dua setengah bulan yang bisa digunakan untuk membatasi persebaran Corona, atau menimbun pasokan peralatan medis alih-alih aji mumpung eskpor ke Cina.

Tapi sayangnya, keengganan untuk mengindahkan, atau bahkan mendengarkan, orang lain bukan pertunjukan semata. Sikap itu sudah terlembaga. Dan sebagai gantinya, kita sebagai rakyat Indonesia ditawari retorika “nasionalis” dan optimisme yang tidak berdasar.

Kembali kepada sekuel Jaws, khususnya Jaws 2, Larry Vaughn bertaubat. Untuk pertama kalinya, ia mulai menanggapi peringatan Brody soal bahaya hiu kedua dengan serius, dan bahkan menolak untuk memecatnya bahkan ketika hal itu secara politis merugikan dirinya.

Sementara itu, kita masih menunggu pemerintah turut “bertaubat” seperti yang dilakukan Larry Vaughn, Kapan? (G)


0 Komentar