Gelombang Kedua Hantam China dan Singapura, Indonesia Harus Waspada!
Mural unik di kawasan Jalan Raya Bogor yang memberikan semangat untuk tenaga medis dalam menangani pasien COVID-19. (FOTO: Haluan.co/Fajar AM)

JAKARTA, HALUAN.CO - China baru saja menghentikan lockdown wilayahnya dan bersiap untuk kembali ke kehidupan normal usai menjadi titik awal dan episentrum virus corona atau COVID-19. Namun, ternyata prediksi itu keliru. China justru menghadapi gelombang kedua pandemi COVID-19. Penyebabnya, kedatangan para warga dari negara lain yang ternyata membawa virus itu kembali ke China.

Nasib yang sama juga dialami Singapura. Gelombang kedua juga dihadapi setelah kedatangan para warga dari negara lain, sama seperti China. Mereka umumnya berasal dari Eropa dan Amerika yang pulang ke China dan Singapura untuk menghindari wabah serupa di negara sebelumnya. Mereka adalah diplomat, pekerja profesional dan juga mahasiswa.

Malah, Singapura sudah memasuki fase gelombang ketiga. Gelombang pertama COVID19 berasal dari China atau dari negara lain masuk ke Singapura dan saling menulari antarbangsa Singapura, COVID-19 datang lagi dari warga Singapura yang pulang dari Eropa dan Amerika, fase ketiga transmisi COVID-19 antarbangsa Singapura kembali.

Mengapa ini penting:

  • Pandemi COVID-19 adalah kasus serius yang harus ditangani dengan intervensi penuh oleh pemerintah. Kasus baru COVID-19 yang mulai hilang di Wuhan, China, ternyata langsung muncul lagi hanya karena lockdown dicabut. Gelombang kedua pun datang.
  • Penyebab China dan Singapura menghadapi kasus baru adalah karena orang-orang berdatangan dari Amerika, Jepang dari Asia bahkan Eropa yang menjadi episentrum baru COVID-19. Singapura juga tidak terlalu lama menerapkan lockdown atau dalam bahasa mereka pembatasan ketat, karena negara ini sangat mengandalkan sektor jasa dan pariwisata. Apalagi, Singapura adalah negara transit yang memang membutuhkan perjalanan bisnis dan pariwisata dari luar.

"Saya juga baru ditelepon tadi siang dari rekan dari Singapura, memang Singapura sedang terjadi peningkatan kasus terus sekarang ini juga. Hari ini (Selasa 14 April) juga ada 300 kasus positif baru," kata Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI)/Persatuan Rumah Sakit Seluruh Indonesia, Dr Hermawan Saputra SKM, MARS, saat dihubungi Haluan.co, Selasa (14/4/2020).

Konteks:

  • China dan Singapura sedang menghadapi gelombang kedua COVID-19 setelah menghentikan lockdown wilayahnya. Dari data Worldometer, ada 108 kasus baru pada Minggu (12/4/2020). Angka ini meningkat dari sehari sebelumnya dengan 99 kasus. Sedangkan Komisi Kesehatan Nasional Cina (NHC) pada Senin (13/4/2020) menyebutkan bahwa 98 kasus impor melibatkan pendatang dari luar negeri yang datang ke negara tersebut.
  • Sementara Singapura melaporkan COVID-19 pada Selasa (14/4/2020) mencapai 334 kasus. Total kasus sejak ditetapkan wabah yang terkonfirmasi positif 3.252 kasus. Dari laporan yang disampaikan The Strait Times, kasus tersebut transmisi lokal, tidak ada yang impor.

Indonesia harus waspada:

  • Di Indonesia, 60 persen kasus COVID-19 ada di DKI Jakarta, kalau ditambah Bogor, Depok Tangerang dan Bekasi (Bodetabek) bisa menjadi 75 persen. DKI Jakarta dengan intervensinya nanti bisa mengendalikan laju peningkatan COVID-19 menjadi landai, tetapi daerah lain di luar Jabodetabek bahkan di luar Jawa itu baru mulai.
  • Angka di Jawa Timur, Jawa Tengah, juga di luar Jawa, 34 persen. Begitu Jakarta sudah selesai dalam arti sudah mulai melandai kasus Corona, daerah lain nanti baru dimulai. Sumatera, Kalimantan, Nusa Tenggara, Maluku, Papua sekarang baru mulai.
  • Di Jakarta bisa jadi ada gelombang kedua karena adanya kasus impor dari warga yang datang dari luar DKI. Ketika Jakarta sudah mulai stabil, orang-orang yang tadinya balik kampung kemudian daerahnya baru mulai masif penyebaran kasus, nanti akan kembali ke DKI.

"Yang berbahaya itu bukan importir case dari luar, tetapi ketidakseragaman di dalam negeri baik penanganan, puncak wabah, maupun pengendalian serentaknyanya," kata Hermawan.

Kapan gelombang kedua di Indonesia:

  • Peneliti Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Chotib Hasan, memperkirakan, gelombang kedua di DKI Jakarta akan terjadi saat arus balik lebaran, jika tidak ada intervensi. Arus balik memberikan dampak potensi keterpaparan COVID-19 yang lebih besar lagi karena adanya pendatang baru yang dibawa serta oleh pemudik.
  • Akan ada 1.059 orang dalam pemantauan (ODP) dari mereka yang balik ke Jakarta jika tanpa intervensi. Bila ada intervensi, maka tambahan ODP menjadi lebih sedikit, yakni sekitar 205 ODP pada arus balik ke Jakarta.
  • Potensi keterpaparan COVID-19 sangat tinggi baik, di titik keberangkatan selama perjalanan maupun di daerah tujuan mudik. Juga, bila ada mobilitas penduduk tinggi. COVID-19 dapat ditularkan baik orang tanpa gejala maupun dengan gejala sehingga kewaspadaan harus ditingkatkan.

"Sosialisasi diam di rumah tetap terus digalakkan sambil juga menggalakkan tidak menerima kunjungan," kata Chotib.

Apa Yang Terjadi Jika Kita Tidak Percaya Pada Sains?

Solusi hindari gelombang kedua:

Hermawan: Indonesia, khususnya pemerintah harus belajar dari negara yang mulai adanya gelombang kedua penyebaran Corona.Pemerintah jangan lagi menanggap remeh. Setiap ada perkembangan harus belajar. Harus belajar dari kasus Amerika, negara maju, adidaya, punya kesiapan tekonologi dan fasilitas, namun akhirnya jebol juga. Pemerintah hingga rakyat harus menerapkan disiplin yang ketat.

"Indonesia ya belajar lah dari yang sukses, jangan sok pintar. Intinya belajar dari disiplin, pemerintah juga enggak usah terlalu menganggap remeh, harus disiplinkan petugas dan sebagainya. Ini aja mudik masih dibolehin ini kan gimana?" kata Hermawan.

Chotib: Usai lebaran, pemerintah daerah tujuan mudik diharapkan dapat menahan agar pemudik tidak balik, di antaranya dengan pembiayaan jaring pengaman sosial agar pemudik tetap tinggal di daerah kelahirannya dan dengan penguatan modal sosial di tingkat desa, RT/RW dalam mengatasi persoalan ekonomi masyarakat. Intervensi juga dapat berupa pelarangan orang melakukan mudik di daerah asal mudik dan penutupan lokasi di daerah tujuan mudik.

"Pemikiran bahwa melakukan mudik dengan motivasi menghindari COVID-19 karena menganggap pedesaan tempat yang aman dari COVID-19, adalah sesat," ujar Chotib.

Penulis: Tio Pirnando


0 Komentar