Gurita Bisnis Luhut Panjaitan
Gurita Bisnis Luhut Panjaitan (Ilustrasi: Total Politik)

Dibalik gelar "menteri segala urusan" yang diperoleh publik, Luhut ternyata juga seorang pengusaha tambang yang kaya raya.

LUHUT Binsar Panjaitan kali ini adalah sosok yang diperbincangkan khalayak umum belakangan ini. Perannya dalam menangani penuntasan corona dianggap publik terlampau berlebihan, bahkan melebihi Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Wajar saja, berbagai cibiran menggentayangi dirinya dan eksis di media massa. Ada ungkapan yang menyebut dirinya sebagai “Menteri segala urusan.”

Ada lagi yang lebih terang-terangan. Ekonom Faisal Basri, dalam cuitannya, terang-terangan mengungkapkan, "Luhut Panjaitan lebih berbahaya dari coronavirus COVID-19."

Kali ini, publik menganggap Luhut sebagai birokrat paling kuat saat ini. Hanya Luhut yang bisa pontang-panting mengurus kebijakan soal penanganan corona meski ada yang bukan tupoksinya.

Namun, dibalik kehebohan itu, barangkali tak banyak yang mengetahui bahwa Luhut Binsar Panjaitan adalah seorang pengusaha—selain sebagai seorang mantan tentara.

Terungkap dalam berbagai sumber, Luhut adalah seorang pengusaha energi yang memiliki perusahaan Toba Sejahtera Grup. Laporan dari Coalruption “Elite Politik dalam Pusaran Bisnis Batu Bara” mengungkapkan, perusahaan tersebut terbagi menjadi enam cabang, yakni batu bara dan pertambangan, migas, perindustrian, properti, pembangkit listrik, serta kehutanan dan kelapa sawit.

Beberapa anak perusahaannya yang diketahui ada 15, antara lain Kutai Energi dan Toba Bara Sejahtera (TOBA) di cabang batubara; Energi Mineral Langgeng dan Fairfield Indonesia di cabang Migas; Smartias Indo Gemilang, Rakabu Sejahtera, dan Kabil Citranusa di bidang perindustrian.

Kemudian, Toba Pengembang Sejahtra di bidang property; Pusaka Jaya Palu, Kartanegara Energi Prakarsa, Minahasa Cahaya Lestari, Gorontalo Listrik Perdana di bidang pembangkit tenaga listrik; PKUI, Tritunggal Sentara Buana, dan Adimitra Lestari di cabang kehutanan dan kelapa sawit.

Dan selama mengurus bisnis itu, ia pun melibatkan rekan-rekannya yang rata-rata adalah perwira Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) pada tahun 1970. Seperti Fachrul Razi yang kini menjabat menteri agama, ia adalah komisaris di PT Toba Sejahtera bersama Letjen (Purn) Sumardi. Ada lagi yang terkenal, Letjen (Purn) Sintong Hamonangan Panjaitan yang menjadi komisaris ABN.

Sepak terjang bisnis Luhut yang diketahui ada di Kalimantan Timur. Luhut diketahui memiliki hubungan dekat dengan Rita Widyasari—Bupati Kutai kertanegara yang ditahan karena tersangka korupsi pada 2017. Ini dibuktikan dari kehadirannya dalam upacara pelantikan Widyasari sebagai Bupati Kartanegara pada 30 Juni 2010.

Meski Luhut tak mendeklarasikan dukungan terhadap dia, tetapi dirinya hadir dalam acara pelantikan adalah sinyal kuat dari hubungan dekat tersebut. Terlebih setelah dilantik, bupati itu menerbitkan Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi (IUP-OP) bagi Trisensa pada tahun 2010, dan memperpanjang izin Indomining pada 2013.

Usaha Luhut pun berkembang pesat. Berawal dari batu bara, perusahaan milik Luhut berkembang dan meluas ke industri minyak dan gas, pembangkit listrik, industri perkebunan dan perhutanan, serta infrastruktur—yang diurai dalam paragraf sebelumnya.

Laba pun terus meningkat. Pada 2007, tercatat penghasilan pretama TOBA pertama sebesar 5 juta dolar Amerika Serikat (AS). Penghasilan meningkat di kemudian hari. Tercatat pada 2011, TOBA berhasil mendapatkan pemasukan US 498 juta dolar, sementara laba bersihnya sebesar 58 juta dolar AS. Dan seketika itu pula, kekayaan pribadi Luhut pun naik dari Rp7,1 miliar pada 2001 menjadi Rp660 miliar pada 2015.

Luhut sempat meraup untung besar-besaran, terlebih saat menjual saham perusahaanya ke perusahaan asing.

Laporan Global Witness “Pengaliihan Uang Batu Barat Indonesia” lebih lanjut menjelaskan, Luhut sempat menjual sahamnya ke perusahaan asing. Pada 2016, diketahui Luhut memiliki 99 persen saham perusahaan terbatas bernama Toba Sejahtra. Perusahaan ini memegang 72 persen saham perusahaan tambang batu bara Indonesia berukuran menengah bernama Toba Bara Sejahtera.

Toba Sejahtera sendiri memiliki tambang batu bara di Kalimantan Timur dan dua pembangkit listrik tenaga batu bara di Sulawesi. Pada 9 November 2016, perusahaan Singapura bernama Highland Strategic Holdings membeli 61,70 persen saham Toba Bara milik Luhut.

Highland dimiliki oleh Watiga Trust Pte Ltd, yang berlokasi di Singapura. Watiga merupakan sebuah trust company, sejenis perusahaan yang mengelola asset untuk para investor lain.

Tak diketahui siapa pemilik akhir Highland ini, lantaran dokumentasinya yang tertutup. Setidaknya dari penjualan itu, nilai pasar saham saaat itu mencapai Rp1,119 triliun atau 85 juta US dolar.

Tetapi sejak saat itu, Luhut tak lagi mengendalikan perusahaan itu. Meski demikian, Luhut sendiri tetap memiliki 10 persen Toba Bara setelah penjualan kepemilikan saham mayoritasnya.

Belva si Peraup Untung di Tengah Buntungnya Corona

Di tahun 2014, Luhut mendukung Jokowi untuk menjadi presiden, dan tukang kayu itu pun terpilih. Ia dapat “jatah” Kepala Staf Kepresidenan Indonesia setahun sejak awal terpilih, lalu menjadi Menteri Koordinator bidang politik, hukum, dan keamanan Indonesia pada 2015. Hal ini dilanjutkan dengan menjadi Menteri koordinator bidang kemaritiman pada 2019.

Ketika periode pertama Jokowi, Luhut termasuk sosok yang mengedepankan pemberlakuan mobil listrik. Untuk diketahui, tenaga listrik di Indonesia sebagian besar diambil dari batu bara. Luhut sendiri adalah seorang pengusaha batu bara. Wallahu Alam.

Luhut juga pernah bersikukuh beda pandangan dengan Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta. Dirinya kukuh untuk melanjutkan proyek reklamasi, namun proyek tersebut dibatalkan Anies demi kepentingan rakyat.

Kini, Luhut tetap melenggang di istana dengan menjabat menteri koordinator bidang kemaritiman dan investasi cabinet Indonesia Maju, mengatur sana-sini bak perdana menteri. Gelar “menteri segala urusan” pun ia dapatkan dari publik. Dan bahkan, katanya, ia lebih berbahaya daripada virus corona. (AK)


0 Komentar