Hakim Agung Muhammad Syarifuddin Terpilih sebagai Ketua MA Gantikan Hatta Ali

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Hakim Agung Muhammad Syarifuddin terpilih sebai Ketua Mahkamah Agung Periode 2020-2025 (Foto: Istimewa)

-

AA

+

Hakim Agung Muhammad Syarifuddin Terpilih sebagai Ketua MA Gantikan Hatta Ali

Nasional | Jakarta

Senin, 06 April 2020 18:03 WIB


JAKARTA, HALUAN.CO - Hakim Agung Muhammad Syarifuddin ditetapkan sebagai Ketua Mahkamah Agung (MA) terpilih setelah melalui dua putaran Pemilihan Ketua MA. Syarifuddin mengungguli Hakim Agung Andi Samsan Nganro yang hanya mendapat 14 suara. 

Wakil Ketua Mahkamah Agung (MA) Bidang Yudisial ini mendapatkan 32 suara dari total 47 hakim yang mempunyai hak memilih pada Pemilihan Ketua MA putaran kedua tesebut. Hakim Agung Muhammad Syarifuddin resmi menjadi Ketua MA menggantikan Hatta Ali.

"Berdasarkan berita acara hasil perhitungan suara ternyata yang mulia Dr. H. M. Syarifuddin S.H., MH. telah mendapatkan suara sejumlah 32 suara," ujar Ketua MA periode 2017-2020, Hatta Ali, dalam sidang paripurna yang dilaksanakan di Gedung MA, Jakarta Pusat, Senin (6/4/2020).

Dengan hasil itu, Syarifuddin ditetapkan sebagai Ketua MA terpilih diputuskan berdasarkan Pasal 7 (1) Keputusan Ketua MA Republik Indonesia (RI) Nomor 96/KMA/SK/IV/2020 tentang Peraturan Tata Tertib Pemilihan Ketua MA RI.

Di sana disebutkan calon Ketua MA yang mendapatkan suara terbanyak dalam putaran kedua, maka langsung ditetapkan sebagai Ketua MA terpilih.

"Maka calon Ketua MA tersebut (Syarifuddin) ditetapkan sebagai Ketua MA terpilih," kata Hatta Ali

Pada Pemilihan Ketua MA pada putaran pertama terdapat enam hakim agung yang mendapatkan suara sah.

Keenam hakim itu, yakni Muhammad Syarifuddin dengan perolehan 22 kartu suara, Andi Samsan Nganro sebanyak 14 kartu suara, Sunarto sebanyak lima kartu suara, Amran Suadi sebanyak satu kartu suara, Supandi sebanyak satu suara, dan Suhadi sebanyak satu suara.

Karena pada putaran pertama tidak ada calon yang mendapatkan suara 50 persen ditambah satu dari suara yang sah, maka dilanjutkan ke putaran kedua. Hal itu diatur dalam Pasal 7 huruf e Tata Tertib Pemilihan Ketua MA.

"Karena tidak ada calon yang telah memenuhi suara 50 persen ditambah satu dari suara yang sah maka sesuai ketentuan pasal 7 huruf e dari Tata Tertib Pemilihan Ketua MA, maka pemilihan akan dilanjutkan pada putaran kedua," ujar Hatta.

Mahfud MD: Pemerintah Tak Ada Rencana Bebaskan Napi Koruptor

Dalam putaran kedua, para pemilih hak suara dapat memilih dua calon dengan perolehan suara tertinggi di putaran pertama.

Kedua calon tersebut, yakni Muhammad Syarifuddin dan Andi Samsan Nganro. Sebelum memulai putaran kedua, Hatta mengingatkan seluruh hakim agung untuk menggunakan hak suaranya.

Pemilihan Ketua MA putaran kedua pun dilakukan, dari total 47 hakim yang mempunyai hak memilih, Syarifuddin mendapatkan 32 suara dan Andi Samsan Nganro memperoleh 14 suara. Akhirnya Hakim Agung Muhammad Syarifuddin ditetapkan sebagai Ketua MA Periode 2020-2025.

Hatta Ali tak gunakan hak pilih

Dalam Pemilihan Ketua MA itu, Ketua MA Mohammad Hatta Ali memilih tidak menggunakan hak pilih karena mulai 1 Mei 2020, ia sudah memasuki masa pensiun. Padahal dia diminta panitia pemilihan untuk tetap maju menyalurkan suara terhadap calon ketua baru.

"Di samping itu, ini untuk menunjukkan objektivitas bahwa saya mendukung seluruh calon yang terpilih dan sama baiknya kualitas mereka di mata saya," kata Hatta Ali.

Ia kemudian meminta panitia pemilihan mencoret namanya, dan melanjutkan memanggil hakim agung selanjutnya untuk menggunakan hak pilih.

Hatta Ali terpilih menjadi Ketua Mahkamah Agung periode 2012-2017, kemudian terpilih kembali dalam periode 2017-2022. Saat terpilih dalam periode keduanya, ia berusia 67 tahun dan akan memasuki masa purnatugas pada 1 Mei 2020.

Sementara salah satu syarat menjadi ketua MA adalah masih menjabat sebagai hakim agung, sehingga pemilihan dilakukan sebelum ia memasuki masa pensiun.

Sejumlah inovasi terjadi di Mahkamah Agung selama kepimpinan Hatta Ali, di antaranya sistem informasi penelusuran perkara (SIPP), sistem administrasi perkara dan persidangan secara elektronik (e-Litigasi) dan sistem penerimaan pengaduan online (SIWAS).

Namun, sejumlah pihak mencatat masih terdapat pekerjaan rumah untuk ketua MA yang baru, di antaranya pungutan liar di pengadilan serta belum terpenuhinya standar layanan keadilan yang sederhana, misalnya penyampaian salinan putusan yang masih terus berlarut-larut dan melampaui waktu 14 hari.


0 Komentar