Hanya Kesadaran Individu yang Bisa Memutus Rantai Penyebaran Virus Corona
Presiden Jokowi ketika meninjau persiapan RS Darurat Covid-19 Wisma Atlet Kemayoran. (Foto: Humas BNPB)

JAKARTA, HALUAN.CO - Penyebaran virus corona atau Covid-19 di dalam negeri terus meluas dan hampir seluruh provinsi di Indonesia ditulari virus yang pertama kali mewabah di Kota Wuhan, China itu.

Bukan saja wilayah penyebarannya yang dari hari ke hari semakin meluas, tapi jumlah orang terinfeksi virus ini semakin membengkak.

Pertama kali virus ini mulai mewabah di Indonesia tanggal 2 Maret 2020 dengan dua pasien terkonfirmasi positif terinfeksi virus tersebut. Ketika itu langsung diumumkan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Hingga 30 Maret 2020, belum genap satu bulan, virus ini telah menyerang 1.414 orang di Indonesia dengan kematian 122 orang.

"Ada penambahan kasus konfirmasi positif sebanyak 129 kasus baru. Sehingga total menjadi 1.414 positif," kata Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto di Jakarta, Senin (30/3/2020).

Wilayah penyebarannya pun semakin meluas. Sudah 31 provinsi di Indonesia yang ditularinya. Provinsi terbaru yang ditulari virus ini adalah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung di Pulau Sumatera.

Data kasus Covid-19 hari Senin (30/3/2020)

Artinya, hanya tersisa tiga provinsi yang belum dijamah virus ini, yaitu Provinsi Bengkulu, Gorontalo dan Nusa Tenggara Timur.

Pemerintah sendiri belum bisa memprediksi kapan "serangan" virus ini akan mereda Indonesia. Sejak beberapa hari belakangan ini, penambahan kasus baru di atas 100 kasus setiap hari.

"Penularan di luar masih terjadi, kasus positif masih bertambah. Saya mengingatkan kembali untuk jaga jarak," kata Achmad Yurianto.

Tingkat Kematian

Sedangkan korban meninggal yang disampaikan pemerintah hingga Senin (30/3/2020) tercatat 122 orang atau sekitar 8,63 persen.

Korban yang yang meninggal itu tersebar di beberapa provinsi. Korban meninggal terbanyak di DKI Jakarta sebanyak 74 kasus. Disusul Jawa Barat 20 kasus, Jawa Timur 8 kasus dan Jawa Tengah 7 kasus.

Tingkat kematian disebabkan virus corona di Indonesia memang jauh di atas global. Tingkat kematian global sekitar 4,7 persen. Tapi Indonesia masih berada di bawah Italia, yaitu lebih 11 persen.

Sedangkan pasien yang dinyatakan sembuh sebanyak 75 orang atau sekitar 5,3 persen.

Menuju Darurat Sipil

Penyebaran virus corona ini ke depan tentu akan semakin meluas karena seiring banyaknya warga dari kota yang mudik menjelang lebaran.

Bahkan, sekarang saja sudah banyak warga di wilayah Jabodetabek yang lebih awal mudik ke kampung mereka masing-masing sejak virus corona ini mulai mewabah di Jakarta.

Dari sejumlah kasus positif corona yang terjadi di daerah, dari rekam jejak perjalanannya, hampir rata-rata mereka baru kembali melakukan perjalanan dari Jabodetabek.

Dari informasi yang didapat Presiden Jokowi, selama 8 hari terakhir tercatat 876 armada bus antarprovinsi yang membawa kurang lebih 14.000 penumpang dari Jabodetabek ke Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan DIY.

“Ini belum dihitung arus mudik dini yang menggunakan transportasi masal lainnya, misalnya kereta api maupun kapal, dan angkutan udara serta menggunakan mobil pribadi,” ujar Presiden saat memberikan pengantar awal pada Rapat Terbatas (ratas) mengenai Antisipasi Mudik Lebaran, Senin (30/3/2020).

Peta penyebaran virus corona di Indonesia.

Selama ini sudah banyak kepala daerah mengimbau para perantau untuk tidak pulang kampung. Tetapi imbauan itu banyak diabaikan warga Jabodetabek dan mereka pulang kampung atau mudik.

Karena itu pula kata Presiden, perlu dilakukan langkah-langkah yang lebih tegas untuk mencegah pergerakan orang ke daerah.

"Demi keselamatan bersama, untuk dilakukan langkah-langkah yang lebih tegas mencegah terjadinya pergerakan orang ke daerah," tegas Jokowi.

Dalam pencegahan penularan virus corona ini, pemerintah tampaknya belum akan mengambil langkah lockdown, sesuai UU Nomor 6 Tahun 2018 tentang Karantina.

Presiden Joko Widodo menetapkan langkah pembatasan sosial berskala besar sebagai upaya pencegahan penyebaran virus corona atau Covid-19. Langkah yang diambilnya tersebut bisa menuju kepada darurat sipil.

Sedangkan DPR mendukung penuh langkah diambil pemerintah dalam menanggulangi virus tersebut, termasuk dengan isolasi daerah.

"DPR dapat memahami dan mendukung sistem penanggulangan virus corona dengan menerapkan isolasi terbatas dan karantina wilayah, apabila diperlukan, sesuai dengan ketentuan UU Nomor 6 Tahun 2018 tentang Karantina," kata Ketua DPR, Puan Maharani pada Rapat Paripurna, Senin (30/3/2020).

Banyak pihaknya, baik pengamat maupun anggota parlemen di Senayan sudah menyerukan kepada pemerintah untuk mengambil langkah lockdown demi menyelamatkan lebih 270 penduduk Indonesia dari serangan virus corona yang menulari 200 negara di dunia itu.

Sejumlah negara telah melakukan lockdown. Diantara negara yang telah menerapkan penguncian atau lockdown tersebut adalah Afrika Selatan, India, Rwanda, Kenya, Zimbabwe, Nigeria, Inggris, China, Italia, Spanyol, Perancis, Irlandia, El-Salvador.

Kemudian Belgia, Polandia, Argentina, Arab Saudi, Yordania, Belanda, Denmark, Malaysia, Lebanon dan Filipina.

Presiden Jokowi: Perlu Langkah Tegas Cegah Orang Mudik ke Daerah

Meski sudah ada UU Nomor 6 Tahun 2018 tentang Karantina yang bisa dijadikan payung hukum untuk melakukan lockdown, tapi hal tersebut belum dilirik pemerintah.

Pemerintah lebih memilih dengan istilah pembatasan sosial berskala besar yang menuju kepada darurat sipil.

Apa pun langkah atau kebijakan yang diambil pemerintah, tentu kita semua menginginkan virus yang telah membunuh puluhan ribu orang di dunia itu tidak menyebar luas dan cepat berlalu di Bumi Pertiwi ini.

Namun yang tidak kalah penting dalam memutus rantai penyebaran virus corona tersebut adalah kesadaran individu setiap warga negara dengan mendisiplinkan diri dan mentaati protokoler yang sudah dikeluarkan lembaga kesehatan dunia atau WHO.


0 Komentar