Hasil Penelitian: Karena Setia, Penis Laki-laki Tak Punya Tulang
Ilustrasi penis. (Foto: Alodokter.com)

JAKARTA, HALUAN.CO - Sebagian kecil dari spesies mamalia, salah satunya manusia, ternyata punya keunikan di mana mereka tak punya tulang penis.

Banyak spesies lain memiliki tulang penis, primata adalah salah satunya. Tercatat bahwa hanya sedikit makhluk yang berevolusi tanpa memiliki tulang penis.

Berdasarkan sebuah studi, dengan meneliti bagaimana baculum yang merupakan sebutan ilmiah bagi tulang penis, misteri evolusi ini bisa dipecahkan.

Dilaporkan Daily Mail yang disadur dari Merdeka.com, para peneliti menyimpulkan bahwa manusia tidak memiliki tulang penis karena manusia adalah spesies monogami atau cenderung setia pada satu pasangan. Hal ini membuat laki-laki tak perlu berkompetisi 'secara seksual' untuk mendapatkan pasangan.

Tulang penis sendiri membuat penis mamalia pria secara dramatis lebih panjang. Seperti contohnya tulang penis dari singa laut yang memiliki panjang hingga 60 centimeter.

Meski manusia tak memilikinya, menurut para peneliti yang berasal dari University College of London ini, manusia dulu memilikinya.

Namun tulang tersebut hilang karena evolusi di sekitar 145 hingga 95 juta tahun yang lalu. Para peneliti menjelaskan mengapa tulang penis ini berevolusi untuk menghilang, dan sebabnya ada dua.

Pertama, studi menemukan bahwa tujuan dari adanya tulang penis pada mamalia pria adalah soal persaingan yang tinggi antara mamalia untuk mendapatkan pasangan secara seksual.

Kedua, studi menemukan bahwa penetrasi lama saat berhubungan seksual, atau studi secara spesifik menyebutkan definisi hubungan seks yang lama adalah lebih dari tiga menit, juga jadi salah satu faktor tulang penis tetap ada.

Tentu manusia berevolusi untuk menghilangkan tulang penis karena tidak memenuhi dua faktor di atas.

Meski asumsi tersebut tak seberapa berlaku di era sekarang, tentu manusia memang tak butuh tulang itu.

Selain karena hubungan seksual tak punya definisi semata-mata soal berkembang biak, sebagian besar manusia cenderung untuk monogami dan tak menjadikan faktor seksual jadi materi berkompetisi untuk mendapatkan pasangan.

Penulis: Sutrisno Z