Heboh Kerajaan Agung Sejagat di Purworejo, Ini Reaksi Gubernur Ganjar
Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. (FOTO: Istimewa)

SEMARANG, HALUAN.CO - Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, angkat suara soal kemunculan Kerajaan Keraton Agung Sejagat di Desa Pogung Jurutengah, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo. 

Kerajaan itu juga baru saja menggelar Sidang Keraton Agung Sejagat pada Minggu (12/1/2020) kemarin.

Menurut Ganjar, sebaiknya Pemerintah Kabupaten Purworejo dan pihak Keraton Agung Sejagat bisa berkomunikasi.

Pihak dari Agung Sejagat, menurut dia, mestinya juga berkomunikasi dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan setempat untuk membuktikan apakah betul kerajaan itu tercatat dalam sejarah.

"Syukur-syukur ada perguruan tinggi bisa mendampingi, sehingga seluruh dokumen, kalau ada, bisa didiskusikan. Jadi bisa diuji secara ilmu pengetahuan," kata Ganjar di Semarang, Senin (13/1/2020).

"Mungkin dari Pemkab Purworejo baik juga ajak komunikasi ke mereka agar mengerti ini apa, mau ke mana dan sebagainya. Jangan sampai orang berpikir ini apa dan jadi pertanyaan di publik," sambungnya.

Heboh Kemunculan Kerajaan Baru di Purworejo, Klaim Punya Kekuasaan di Seluruh Dunia

Seperti diberitakan, masyarakat di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, tengah dihebohkan dengan kemunculan kerajaan baru di Desa Pogung Jurutengah, Kecamatan Bayan. Kerajaan itu pun baru saja menggelar Sidang Keraton Agung Sejagat pada Minggu (12/1/2020) kemarin.

Sidang Keraton itu dipimpin oleh Rakai Mataram Agung Jaya Kusuma Wangsa Sanjaya Sri Ratu Indratanaya Hayuningrat Wangsa Syailendra yang bernama asli Totok Santoso Hadiningrat. Ia juga merupakan pimpinan keraton tersebut.

Dalam Sidang Keraton itu, digelar sejumlah acara di antaranya pembacaan silsilah Kraton Agung Sejagad dengan menceritakan bahwa tanah jawa sebagai ibu bumi Mataram sebagai tanah tertua Nusantara, silsilah kraton dari negara Mesir sampai ke Pulau Jawa, serta pemberian penghargaan kepada Resi sebanyak 13 orang.

Kegiatan sidang itu dihadiri oleh anggota Keraton Agung Sejagat sekira 200 orang dengan menggunakan dana iuran anggota yang tidak ditentukan.

Pada Jumat (10/01/2020) lalu, juga digelar Wilujengan Keraton Agung Sejagat untuk menyambut kedatangan Sri Maharatu (Maharaja) Jawa kembali ke tanah Jawa setelah berakhirnya perjanjian 500 tahun, terhitung sejak hilangnya Kemaharajaan Nusantara, yaitu imperium Majapahit pada 1518 sampai 2018.

“Perjanjian 500 tahun itu dilaksanakan oleh Dyah Ranawijaya sebagai penguasa terakhir Imperium Majapahit dengan Portugis sebagai wakil orang-orang barat (bekas koloni kekaisaran Romawi) di Malaka pada tahun 1518,” kata Kanjeng Sinuwun, di Gedung Sasono Sri Ratu Indratanaya, Minggu (12/1/2020).