Heboh Teror Kobra, Ahli Reptil ITB Jelaskan Ciri-ciri Ular Berbisa

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Ahli reptil dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung (ITB) Ganjar Cahyadi. (Foto: ITB.ac.id)

-

AA

+

Heboh Teror Kobra, Ahli Reptil ITB Jelaskan Ciri-ciri Ular Berbisa

Regional | Jakarta

Selasa, 17 Desember 2019 10:47 WIB


BANDUNG, HALUAN.CO - Memasuki musim hujan, sejumlah wilayah di Indonesia dihebohkan dengan kemunculan ular kobra. Mulai dari telur, anak kobra hingga induknya ditemukan warga di sejumlah wilayah.

Saking banyaknya temuan itu, masyarakat pun sampai merasa "terteror" dengan ular tersebut. Apalagi, kemunculan ular-ular itu nyaris bersamaan belakangan ini.

Atas fenomena itu, salah seorang ahli reptil dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung (ITB), Ganjar Cahyadi, pun menjelaskan ciri-ciri ular berbisa. Hal itu, sebagai upaya antisipasi bila menemukan ular di wilayah sekitar.

Kurator Museum Zoologi di perguruan tinggi itu menjelaskan, sangat diperlukan untuk mengetahui jenis dan perilaku ular agar masyarakat bisa melakukan langkah antisipasi yang tepat.

Untuk ular yang berbisa, kata dia, dapat dikelompokkan pada dua famili, yaitu elapidae dan viperidae. Ular yang termasuk elapidae contohnya adalah ular kobra, ular belang (bungarus), dan ular cabai (calliophis intestinalis).

Sementara untuk kelompok viperidae, cirinya adalah bagian kepala berbentuk seperti segitiga. Kalau di daun warnanya hijau dan jika di tanah warnanya kecoklatan.

“Ular berbisa memiliki taring yang mengeluarkan bisa. Selain itu dari perilakunya juga dapat terlihat kalau ular berbisa lebih santai dalam bergerak, tapi kalau didekati akan melakukan upaya perlindungan diri atau menyerang. Sementara ular tidak berbisa, tidak memiliki taring dan bila didekati akan kabur,” kata Ganjar dilansir dari Antara di Bandung, Selasa (17/12/2019).

Dia mengatakan, ciri lain dari ular berbisa juga dapat dilihat dari warna atau coraknya. Menurutnya, ular berbisa lebih mencolok warnanya, seperti ular cabai yang mempunyai garis warna merah di tubuhnya dan ular bungarus yang memiliki warna hitam putih.

“Namun khusus untuk ular kobra, yang mencolok adalah karena warnanya hitam legam. Perilaku ular kobra, kalau terancam akan menaikkan tubuhnya dan mengembangkan rusuknya. Bahkan dapat menyemburkan bisanya ke arah mata,” ujar dia.

Ganjar mengungkapkan, musim penghujan memang merupakan masa di mana ular bereproduksi. Ular, lanjut dia, memiliki fase reproduksi di mana saat musim hujan adalah termasuk musimnya ular menetas.

"Perilaku kobra itu biasanya menyimpan telur di sarangnya, biasanya sarang bekas tikus, atau ditempat-tempat lembab, tumpukan sampah, dan dia simpan telornya lalu ketika awal musim hujan akan menetas,” ungkap dia.

Jika banyak ular ditemukan di suatu lokasi, kata Ganjar, maka kemungkinan tempat tersebut merupakan habitatnya, atau sebagai area ular mencari makan. Menurutnya, salah satu makanan bagi ular adalah tikus yang memang banyak berada di rumah-rumah.

“Kobra itu tipikal ular yang melepas anak-anaknya. Dia tidak menjaga anak-anaknya, karena anak kobra ketika menetas sudah memiliki taring dan kelenjar bisa, jadi sudah bisa mencari makan sendiri," ujarnya.

Dia mengatakan, ular yang melancarkan gigitan bisa terjadi karena dua faktor. Yang pertama adalah untuk memangsa, dan kedua untuk mempertahankan diri dari ancaman.


0 Komentar