Ibu Kota Baru Bakal Dibangun Pakai Dana Abadi, Ini Penjelasannya
Saat Kunjungan Presiden Jokowi dan rombongan ke Uni Emirat Arab (Foto: Maritim)

JAKARTA, HALUAN.CO - Kunjungan Presiden Jokowi dan rombongan ke Uni Emirat Arab untuk menjemput investasi benar-benar menghasilkan. Bahkan Putra Mahkota UEA Sheikh Mohammed bin Zayed (MBZ) bakal menjadi Ketua Dewan Pengarah Pembangunan Ibu Kota Negara di Kalimantan Timur.

Pembangunan Ibu Kota Baru juga bakal dibangun dengaan dana abadi (Sovereign Wealth Fund/SWF). SWF pada intinya adalah lembaga yang bertugas untuk mengelola dana abadi yang berasal dari dana tabungan sebuah negara.

Selain Putra Mahkota UEA, konglomerat Jepang Masayoshi Son juga bakal banyak terlibat di Ibu Kota Baru. Masayoshi adalah salah satu orang terkaya di Jepang, pendiri SoftBank dan Chief Executive Officer dari SoftBank Mobile.

Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut B. Pandjaitan, baru-baru ini, memastikan dalam pertemuan antara Jokowi, MBZ, dan Masayoshi Son dibahas pula rencana struktur dan finalisasi SWF yang akan dilakukan akhir bulan ini di Tokyo.

“Finalisasinya akan dilakukan oleh Menteri BUMN dan wakilnya, ada dari tim Kemenko Bidang Kemaritiman dan Investasi serta penasihat hukum," kata Luhut.

"Kami melibatkan ahli hukum karena kami berencana membuat UU-nya. Dana ini kan melibatkan dana dari luar negeri, auditnya pun akan dilakukan dilakukan badan yang kredibel, auditor internasional yang independen mungkin akan dilibatkan sehingga tidak merusak kepercayaan para pemilik dana. UEA sudah berpengalaman mengelola SWF di negara lain, seperti Mesir dan India sehingga mereka bisa mengantisipasi masalah apa saja yang biasanya yang muncul,” jelas Luhut.

Ia berharap, setelah finalisasi SWF bisa dimulai sekitar pertengahan tahun ini dan digunakan untuk pembangunan Ibu Kota Baru, juga akan digunakan pada sektor lain, seperti infrastruktur dan investasi.

Ini Langkah Pertamina untuk Kuasai Industri Petrokimia

“Hal seperti ini tidak bisa berhasil jika kita tidak melakukan apa-apa. Kerja sama dengan UEA ini berhasil setelah puluhan atau ratusan kali bertelepon atau melalui pesan singkat dengan Menteri Suhail atau Putra Mahkota, atau berkali-kali saya datang langsung ke sini menemui mereka. Kita harus tekun dan kerja keras. Seperti yang sudah sering saya sampaikan sebagai pejabat kita tidak bisa hanya duduk saja menunggu orang datang. Kita yang harus menjemput bolanya,” jelasnya.

Terbukti, lanjutnya, kerja sama ekonomi Indonesia-UEA dengan proyek senilai USD22,89 miliar dimana partisipasi UEA sekitar 33 persen (USD6,8 miliar) dapat disepakati dalam waktu enam bulan.

“Komunikasi yang mudah juga tidak mudah terjadi, kita harus membangun trust dan harus tahu bagaimana memposisikan diri,” ujarnya.