IDI Sebut Dokter yang Positif COVID-19 Umumnya Tak Bekerja di RS Rujukan

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Ilustrasi dokter merawat pasien Corona. (Foto: Xinhua)

-

AA

+

IDI Sebut Dokter yang Positif COVID-19 Umumnya Tak Bekerja di RS Rujukan

Health | Jakarta

Sabtu, 18 April 2020 18:53 WIB


JAKARTA, HALUAN.CO - Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Daeng M Faqih mengatakan, dokter-dokter yang positif COVID-19 umumnya merupakan para dokter yang bekerja di rumah sakit nonrujukan pemerintah.

Mengapa ini penting:

  • Dokter dapat tertular karena kadang-kadang tanpa sadar tengah mengobati pasien yang telah tertular.
  • Pasien yang tidak menunjukkan gejala-gejala COVID-19, membuat dokter kurang waspada.

Konteks:

  • Data IDI, sudah ada 24 dokter yang meninggal dunia disebabkan tertular COVID-19.
  • Hampir 50 persen dokter konsulen dan Program Pendidikan Dokter Spesialis atau PPDS di Indonesia terpapar.
  • Untuk wilayah Jakarta, ada lebih dari 80 dokter yang terinfeksi dan 46 tenaga medis di Semarang yang juga diketahui positif Corona.

Apa katanya: "Kawan-kawan dokter yangg terpapar itu kebanyakan adalah kawan-kawan dokter yang tidak khusus bekerja di rumah sakit rujukan covid tetapi bekerja di rumah sakit lain atau praktik pribadi yang dia tertular pasiennya," kata Daeng dalam sebuah diskusi virtual, Sabtu (18/4/2020).

Penyebab dokter terinfeksi:

  • Ketidaksepahaman dokter maupun pasien, karena tak menyadari telah terinfeksi COVID-19.
  • Kebanyakan terifeksi karena dokter bekerja di rumah sakit nonrujukan COVID-19 maupun praktek pribadi.
  • Keterbatasan APD terutama di awal pandemi Corona di Indonesia.
  • Banyak dokter yang memodifikasi APD untuk melindungi diri saat menangani pasien.
  • APD yang dibuat sendiri seperti dari plastik biasa tak bisa 100 persen menjaga tenaga medis dari penularan COVID-19.

Imbauan IDI:

  • IDI mengimbau kepada para dokter untuk membatasi praktik tatap muka dengan pasien selama bukan dalam kondisi darurat.
  • Kalau terpaksa melakukan tatap muka maka semua pasien yang dihadapi baik COVID-19 maupun tidak, dokter harus pakai APD sesuai petunjuk penanganan COVID-19.

Kritik IDI:

  • Distribusi APD untuk rumah sakit di berbagai daerah masih terhambat, salah satu penyebabnya persoalan birokrasi.
  • Pendistribusian secara bertahap membuat APD terlambat sampai ke rumah sakit. Bahkan, terjadi di RS yang masih berada di wilayah Jabodetabek.
  • IDI minta pemerintah segera memenuhi APD di RS, khusunya bagi daerah yang sudah berada dalam status zona merah.

0 Komentar