IDI Warning Beberapa Hal Terkait Suspek Virus Corona di Jakarta

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Petugas bandara memeriksa calon penumpang di China (Foto: Reuter)

-

AA

+

IDI Warning Beberapa Hal Terkait Suspek Virus Corona di Jakarta

Health | Jakarta

Jumat, 24 Januari 2020 16:45 WIB


JAKARTA, HALUAN.CO – Beredar informasi RS Pusat Infeksi Sulianti Saroso tengah merawat pasien suspek virus corona. Pemeriksaan masih berjalan, pasien suspek tersebut kini diisolasi agar tidak menyebarkan virus.

Merespons hal tersebut, Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI), dr. Daeng M Faqih, mengimbau masyarakat tak perlu panik dalam menyikapi kasus virus corona. Meski ada suspek, sampai saat ini belum bisa dipastikan apakah pasien benar terinfeksi atau tidak.

“Karena ini belum ada, masyarakat jangan panik, tetap waspada. Pakai masker dan jangan kebiasaan kucek mata,” ujar dr. Daeng dilansir Detik, Jumat (24/1/2020).

Karena sudah diketahui bisa menyebar antarmanusia, dr Daeng juga mengimbau agar selalu berhati-hati jika berada di daerah yang sedang terjangkit. Tidak mendekat ke orang yang memiliki gejala seperti batuk atau pilek.

Pemerintah China Janji Akan Berikan Informasi Penanganan Virus Corona

“Jika ada kecurigaan ke sana, segera ke dokter. Meski belum ada obat, pengobatan lebih bersifat suportif agar badan tetap fit untuk melawan virus,” ungkap dr. Daeng.

Selain itu jika memang harus bepergian ke negara pandemi, hindari kontak dengan hewan dan unggas liar, patuhi petunjuk keamanan dan aturan kebersihan, dan selalu gunakan masker untuk mencegah penularan penyakit.

Terkait suspek, ahli penyakit tropik dan infeksi dari RS Cipto Mangunkusumo, dr. Erni Juwita Nelwan, SpPD, menjelaskan maknanya.

“Suspek itu biasanya kalau kasus tersebut sudah memenuhi kriteria misal demam iya, batuk iya, ada kontak dengan orang yang positif dan ada riwayat ke Wuhan, dia jadi suspek,” sebut dr. Erni.

Apabila suspek pasien memang betul ada riwayat perjalanan dari Wuhan atau dataran China dan belum diketahui mengidap penyakit apa, maka pasien akan diisolasi. Setelah itu sampel virus akan diambil kemudian diteliti.

“Jika negatif tapi kondisinya masih berat, yang dilakukan tetap diisolasi dulu. Karena kan kita belum punya kit penanganannya. Kalau dicek dan dia positif berarti bukan suspek lagi tapi confirmed case, kasus pasti,” tambahnya.

Meski pasien sudah diisolasi, tim medis tetap harus memeriksa keluarga terlebih yang memiliki kontak langsung. Sebab ditakutkan orang terdekat pasien sudah tertular namun belum menunjukkan gejala.

Untuk pengecekan spesimen dan virus tidak dilakukan di rumah sakit tetap sampelnya dikirim ke Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan (Balitbangkes). “Saya rasa dalam 1x24 jam sudah keluar hasilnya,” bebernya.


Penulis: Neni Isnaeni


0 Komentar