Ikan Bilih Singkarak, Riwayatmu Perlahan Punah
Bagan nelayan di Danau Singkarak. (Foto: Bakaba.net)

JAKARTA, HALUAN.CO – Tak ada yang menapik bahwa alam Indonesia, memiliki kekayaan flora dan fauna yang tiada taranya di dunia. Bukan cuma Bunga Bangkai yang tumbuh di Bengkulu, binatang purba Komodo di Nusa Tenggara Timur, Orang Utan di Kalimatan, tapi juga ada hewan yang bisa disantap untuk lauk pauk, yang itu asli endemik Indonesia, yaitu Ikan Bilih dengan nama latin Mystacoleucus Padangensis.

Ikan Bilih, satu-satunya ikan di dunia yang hidup di Danau Singkarak, Sumatera Barat. Kini, populasinya berlahan mulai punah dan itu disebabkan tak lepas dari ulah manusia.

Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Univrsitas Bung Hatta, Hafrijal Syandri, menjelaskan, penyebab penurunan populasi Ikan Bilih karena ulah penangkapan dengan alat yang tidak selektif. Sehingga, ikan bilih yang masih kecil pun ikut ditangkap, setelah itu dibuang

“Jaring langli atau jaring insang yang mata jaring atau ukurannya itu dari tiga perempat inci turun atau berubah jadi lima perdelapan, ini jadi semakin kecil. Itu artinya ikan bilih yang tertangkap pun semakil kecil-kecil. Ikan kecil yang tertangkap belum sempat bertelur dan berkembang biak di danau. Sehingga, penangkapan terus berlanjut, sedangkan penambahan individu baru ke danau tidak ada,” kata Hafrijal saat diwawancara Haluan Media Group (HMG).

Alam dan Budaya Minang Jadi Pengalaman Lebih bagi Peserta Tour de Singkarak 2019

Pesolek Danau Singkarak yang membuat mata terpukau dengan keindahannya, menyimpan kekayaan alam di bawah sungai. Ikan Bilih yang hidup bergerombol pun tak kuasa menahan Bagan (alat tangkap Ikan bernama) para nelayan.

Kata Hafrijal, berdasarkan hasil penelitiannya 52,5 persen dari jumlah ikan yang tertangkap itu tidak bisa dimanfaatkan. Artinya, setelah ditangkap kemudian disortir, sebanyak 52 persen dibuang.

“Saya searching literatur. Ada literatur ada tujuh Mystacoleucus, tapi yang Mystacoleucus Padangensis hanya ada di Danau Singkarak. Boleh saja ada Mystacoleucus Majinatus, Mystacoleucus yang lain, tapi yang Padangensis hanya ada di Danau Singkarak," jelasnya.

Danau Singkarak dengan kemilau air dan pohon kelapa di pinggirnya, yang membentang di dua kabupaten, Solok dan Tanah Datar, ternyata 80 persen penduduknya berprofesi sebagai nelayan dan pedagang Ikan Bilih. Ini karena, tingginya minat konsumen menjadikan nelayan berlomba-lomba menangkap ikan menggunakan alat seperti Bagan atau keramba yang tentu saja mengancam populasi Ikan Bilih.

Seorang Nelayan Ikan Bilih Danau Singkarak, Amirrokli, mengaku tidak menggunakan alat tangkap Bagan dalam menangkapa Ikan. Ia beralasan, Ikan kecil akan terangkat bila memakai Bagan. “Jadi untuk masa pemijana ke sungai itu ikan tak ada lagi,” tuturnya.

Tak tanggung-tanggung, Amirrokli, bahkan mendorong agar pengguna Bagan itu diberantas oleh aparat Dinas Perikanan. Tujuannya agar keberadaan Ikan Bilih tetap lestari di Danau Singkarak.

Untuk penghasilan, dalam sehari, Amirrokli kadang dapat 2 Kilogram (Kg) Ikan Bilih dari tangkapannya. Bagi dia, ini cukup menguntungkan, karena harga Ikan Bilih sedang tinggi.

“Coba kalau sedang rendahnya mungkin hanya Rp20 ribu /Kg, itu tidak layak untuk kehidupan kami. Harapan kami yang tidak melestarikan cara pengembaliannya, mudah-mudahan cepat dimusnahkan, contohnya Bagan jangan sampa ada lagi Bagan di danau," kecamnya.

Karena populasi Ikan Bilih di Danau Singkarak yang semakin sedikit, banyak pedagang yang membeli ikan dari daerah Medan dan sekitarnya.

Ikan Bilih adalah ikan yang memiliki zat paling tinggi untuk tumbuh kembak anak terutama tinggi badan.

Dosen Politeknik Kemenkes Padang dan Peneliti Gizi, Biomedik dan Tumbuh Kembang Anak, Eva Yunirita, menguraikan, dirinya meneliti sirup ikan bilih yang dinamakannya Bilihzink.



Sirup itu, kata dia, berawal dari terjadinya permasasalahan stanting di Indonesia. Namun, belum ada informasi lengkap tentang zat gizinya. “Jadi saya lakukan peneltian pendahuluan tentang zat gizi ikan bilih ini, lalu saya penelitian di laboratorium. Teknologi Pangan di UGM, saya teliti kandungan gizi tentang Ikan Bilih bilih, ternyata Ikan Bilih mengandung antara lain zat makro yang tinggi protein juga mengandung zat gizi mikro yaitu ada zink di dalamnya,” kata Eva.

Ternyata, lanjut Eva, Zink nya itu lebih tinggi dari bahan pangan lainnya yang selama ini dianggap mahal. Zink itu bahan panggannya juga mahal. Selama ini, Zink dikenal adanya hanya dalam daging, seperti udang, ikan salmon. Dari hasil penelitian, ternyata dalam Ikan Bilih, kandungan zink nya 17,8 mg/dl.

“Itu lebih 3 kali lipat kandungan yang di bahan makanan yang lain, selanjutnya untuk penelitian lebih lanjut saya berpikir kalau diberikan kepada anak stunting. Anak stunting itu usianya 5 tahun kebawah kita berikan dalam bentuk Ikan Bilih goreng. saya berfikir membuat suatu formula yang bias dikonsumsi oleh anak-anak mulai 6 bulan sampai umur 2 tahun itulah yang saya jadikan sample penelitian saya dengan harapan pada usia itu pertumbuhan anak itu akan pesat dan ketinggalan tingginya itu bisa dikejar. "

Hasil penelitian itu tak sepenuhnya salah. Namun, ironinya Tanah Datar atau daerah sekitar Danau Singkarak menjadi daerah dengan masalah anak stunting, sebesar 43,18 persen. Tentu itu sangat ironi.

TdS 2019 Resmi Ditutup, Jesse Ewart Raih Juara Umum

Terlepas dari gizi yang tinggi, populasi Ikan Bilih di Danau Singkarak tidak boleh punah. Jangan sampai, anak-anak Singkarak hanya mendegar cerita dari para orang tuanya bahwa dulu di Danau nan indah ini ada endemik Ikan asli, satu- satunya di dunia, bernama Ikan Bilih. Tentu kita tak ingin itu terjadi.

Sebab itu, upaya pemulihan Ikan Bilih harus segera dilakukan. Salah satunya dengan cara membuat penangkaran. Nah, ini lah yang digagas oleh PT Semen Padang.

Kepala Seksi Perencanaan PT Semen Padang, Deni Zen, mengatakan, pihaknya sejak 2018 terus mencoba menangkarkan Ikan Bilih.

Kenapa mau menangkarkan Ikan Bilih? Kata Deni, alasan yang dipakai pihaknya ialah mengenai keanekaragaman hayati di Danau Singkarak harus tetap dijaga.

“Kebetulan teman-teman sepakat mengangat bahwa isunya Ikan Bilih sekarang hampir punah dan itu ikan endemic satu-satunya yang ada di Sumatera Barat,” tutur dia.

Sebenarnya, ujar Deni, Ikan Bilih ini sama seperti ikan Salmon. Ia (Ikan Bilih) bertelur ketika mendaki ke sungai bagian atas, dan kalau hulu mereka mencari kehidupan. Pada saat ke hulu itulah Ikan Bilih jadi sasaran tangkapan nelayan. Dan, Ikan Bilih yang ada di Danau Singkarak sebenarnya masih dalam perkembangan.

Ikan Bilih yang nama latinnya Mystacoleucus Padangensis ini, klaim Deni, sudah ada sejak ratusan tahun dan akan terus eksis. Namuan, bila para nelayan mengeksploitainya secara berlebihdan apalagi dengan metode yang salah, tentu ke depan tidak akan ada lagi yang membanggakan. Ia akan habis.

Deni optimis, apa yang sudah akan terus dilakukan PT Semen Padang, dalam beberapa tahun mendatang populasi Ikan Bilih kembali normal. Karena perkembangan Ikan Bilih ini sangat cepat. Dimana, Ikan Bilih dalam bertelur sangat banyak, daya tetasnya sampai 90 persen. Dan hanya butuh 20 jam setelah bertelur, langsung menetas.

Jadi, lanjut Deni, apabila Ikan Bilih ini berkembang secara sustainablelity, maka masyarakat akan menikmatinya. Terkhusus, masyarakat sekitar Danau Singkarak yang mata pencariannya ialah sebagai nelayan.

Lagi-lagi, Deni menyesalkan, metode penangkapan besar-besaran yang dilakukan Nelayan ini, bukan hanya Ikan Bilih yang terambil tapi ikan lainnya juga berpotensi habis alias punah.

“Kita coba untuk menghidupkan Bilih itu dulu. Kalau dia berkembang biak nanti, ya itu bonus buat kami di Semen Padang," kata Deni.

Ali, pedangan Ikan Bilih Danau Singkarak, mengungkapkan harga jualannya. Sama seperti sembako, menurut Ali, kalau stok ikannya sedikit, tentu harganya mahal. Ikan Bilih itu asli Danau Singkarak. Harga ikan lain, menurut Ali, kisaran Rp30 ribu sampai Rp40 ribu.

Ali mengakui, Ikan Bilih memang sangat sering dicarikan para konsumen. Tak tanggung-tanggung, pembeli itu kebanyakan ibu-ibu dari Jakarta yang mungkin sedang jalan-jalan dan berhenti di Danau Singkarak, mereka sekalian membeli Ikan Bilih. Lalu, para tamu dari Malaysia banyak juga yang membeli Ikan Bilih.

Kilap bilih akan terus meredup jika tidak ada upaya dan kesadaran masyarakat untuk tidak mengeksploitasi bilih secara besar-besaran. Ikan langka yang hanya ada satu di dunia ini mampu mendongkrak kembali ekonomi masyarakat yang melemah.

Ikan Bilih juga menjadi makanan yang kaya gizi. Dan, sangat bermanfaat bagi kesehatan masyarakat.

Kepala Dinas Pangan Dan Perikanan Kabupaten Tanah Datar, Daryanto Sabir, menerangkan, sebelum tahun 2019, data yang dimiliknya, jumlah nelayan yang bergerak dalam usaha perikanan ini ada sekitar 1.300 lebih nelayan. Namun, sekarang yang tecatat itu hanya khsusu di sekita Danau Singkarak yang termasuk wilayah Tanah Datar tinggal 859 nelayan tercatat.

Pada tahun 2019, angka terakhir yang dimiliki Dinas Pangan dan Perikana Kabupaten Tanah Datar, sekitar 142, 21 ton yang dihasilkan dari ikan bilih. Namun, bila dibandingkan dengan hasil pada 2018, tentu ini sangat jauh berkurang.

Semoga populasi Ikan Bilih akan tetap ada. Karena itu, semua harus menyadari menjaga lingkungan, menjaga aneka hayati dan jangan mengambil yang tidak perlu. Apalagi, sampai menangkap ikan-ikan kecil namun nasibnya dibuang bukan dikonsumsi. Jangan sampai keberadaan Ikan Bilih hanya menjadi sebuah cerita bagi penduduk Danau Singkarak, dan Indonesia umumnya.