Imbas Lockdown, KDRT di Luar Negeri Meningkat Tajam
Ilustrasi kekerasan dalam rumah tangga. (Foto: Okezone)

JAKARTA, HALUAN.CO - Anjuran beberapa negara yang mengimbau warganya untuk bekerja dari rumah alias work from home, tidak keluar kecuali membeli sesuatu yang penting, berimbas pada kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Beberapa negara menerapkan kebijakan karantina wilayah (lockdown) untuk menekan penyebaran virus Corona (COVID-19)

Mengapa ini penting:

  • Larangan keluar rumah memicu interaksi tiap hari antarpasangan, dan ternyata itu justru memicu KDRT.
  • Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyebut, selama pandemi corona di seluruh dunia, kekerasan tidak hanya terjadi di medan perang, tapi juga di dalam rumah.

"Bagi banyak perempuan dan anak perempuan, ancaman terbesar ada di tempat yang seharusnya paling aman, di rumah mereka sendiri. Hari ini saya memohon terbentuknya perdamaian di rumah dan di rumah-rumah di seluruh dunia," kata Guterres diberitakan AP News pada Senin (6/4/2020) lalu.

Konteks:

  • Penerapan lockdown di sebuah negara ternyata berimplikasi pada peningkatan kasus KDRT, seperti contoh di Prancis di mana laporan KDRT mengalami kenaikan sebesar 30 persen sejak pemerintah menginstruksikan lockdown pada 17 Maret lalu.
  • Kasus lainnya juga terjadi di Afrika Selatan, pihak berwenang menerima hampir 90 ribu laporan kekerasan terhadap perempuan pada pekan pertama lockdown. Kemudian di Inggris, panggilan telepon ke layanan darurat KDRT meningkat 65 persen pada akhir minggu.
  • Dalam laporan BBC, salah satu bagian negara Australia, New South Wales, juga dikabarkan mengalami peningkatan jumlah kasus kekerasan domestik. Sementara data dari kantor pencatatan sipil di China, tingkat perceraian meningkat secara signifikan. Lebih dari 300 pasangan mendaftarkan perceraian sejak 24 Februari lalu di Provinsi Sichuan, China.

Penyebab dan model kekerasan:

  • Dalam laman PBB, penelitian yang dilakukan Badan Kesehatan Dunia (WHO), melaporkan perempuan mengalami kekerasan fisik, seksual, reproduksi dan mental.
  • PBB mencatat, 1 dari 3 perempuan pernah menjadi korban kekerasan fisik maupun seksual, yang biasanya dilakukan oleh pasangannya. Probabilitas ini bisa meningkat saat krisis terjadi, termasuk ketika perang maupun pandemi.
  • Di India, model KDRT-nya, istri dipukul suami, karena penerapan lockdown berimbas pada pendapatan mereka.
  • Judith Lewis Herman, seorang ahli trauma di Harvard University Medical School, dalam jurnalnya, menemukan bahwa metode pemaksaan yang digunakan pelaku KDRT untuk mengontrol pasangan dan anak-anak mereka memiliki “kemiripan luar biasa” dengan apa yang dilakukan penculik untuk mengendalikan sanderanya.
  • Beberapa jenis KDRT, selain kelain kekerasan fisik, antara lain isolasi dari keluarga, pengawasan dan aturan ketat yang terperinci, serta pembatasan akses pada kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, dan fasilitas sanitasi.
  • Penyebab kekerasan, salah satunya karena pasangan menghabiskan terlalu banyak waktu bersama di rumah selama lockdown.

KDRT berujung kematian imbas lockdown: Sejumlah kasus KDRT yang terjadi akibat banyaknya interaksi di dalam rumah bahkan berujung pada kematian. Di Spanyol, seorang perempuan tewas akibat aksi KDRT pasangannya. Sementara di Turki, para aktivis mendesak perlindungan lebih besar setelah pembunuhan terhadap perempuan naik setelah perintah tinggal di rumah dikeluarkan pada 11 Maret.

Survei Kementerian PPPA: Mayoritas Anak Tak Suka Belajar di Rumah

Rangkuman solusi:

  • Pihak yang mengalami KDRT segera mencari bantuan dan melapor kepada pihak berwajib, meski pandemi belum berakhir.
  • Setiap pasangan harus bisa mengelola stres agar tidak dilampiaskan kepada keluarga.
  • Alihkan emosi pada kegiatan yang menyenangkan seperti melukis, menulis, atau meditasi.
  • Selalu mempertahankan pikiran positif dan mengingat kembali tujuan pernikahan.
  • Manfaatkan teknologi untuk berbagi dan tetap berhubungan dengan orang lain melalui telepon dan video call selama isolasi.

0 Komentar