Imigrasi: Belum Ada Tanda-tanda Harun Masiku akan Pulang ke Indonesia

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Politisi PDIP Harun Masiku, tersangka kasus suap Anggota KPU Wahyu Setiawan, ternyata sebelumnya adalah politisi Partai Demokrat (Foto: KPU)

-

AA

+

Imigrasi: Belum Ada Tanda-tanda Harun Masiku akan Pulang ke Indonesia

Nasional | Jakarta

Selasa, 14 Januari 2020 11:36 WIB


JAKARTA, HALUAN.CO - Politikus PDIP Harun Masiku saat ini masih dicari keberadaannya, setelah namanya terseret dalam tersangka perkara dugaan suap pengurusan Pergantian Antarwaktu (PAW). Harun Masiku diduga kabur ke Singapura sebelum dilakukan operasi tangkap tangan (OTT) terhadap Anggota KPU Wahyu Setiawan.

Direktorat Jenderal (Ditjen) Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM menyebut, hingga saat ini belum ada data yang menunjukkan bahwa ia akan kembali ke Indonesia.

"Hingga saat ini belum ada data kembali ke Indonesia," ujar Kepala Bagian Humas dan Umum Direktorat Jenderal Imigrasi Kemenkuham Arvin Gumilang di Jakarta, (14/1/2020).

Berdasarkan data terakhir Ditjen Imigrasi, Harun tercatat pergi ke Singapura pada Senin (6/1/2020). Arvin menjelaskan, setelah berada di luar negeri, pihaknya tidak lagi mengetahui keberadaannya.

Ia juga tak bisa memastikan, apakah Harun masih berada di Singapura atau tidak. "Berdasarkan data informasi yang kami peroleh, (Harun) sudah tercatat di luar negeri," ujar Arvin.

Hingga kemarin, Ditjen Imigrasi belum mengelurkan surat pencekalan terhadap Harun atau orang lain yang diduga terlibat dalam kasus tersebut. Namun, Arvin menjelaskan bahwa pihaknya telah berkoodinasi dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Kasus suap komisioner KPU oleh politikus PDIP berimbas ke pemecatan caleg PDIP, Harun Masiku. Ia telah menjadi tersangka kasus suap. PDIP memastikan penetapan tersangka membuat Masiku dipecat dari partainya.

KPK: Tersangka Harun Masiku Sudah Berada di Luar Negeri

"Dia otomatis kan sudah dipecat dari partai," kata Ketua DPP PDI Perjuangan Djarot Saiful Hidayat saat ditemui di Kompleks Parlemen RI, Senayan, Jakarta, Senin (13/1/2020). Ia juga membantah PDIP mempersulit pelacakan keberadaan Harun.

Djarot mengatakan, PDIP sudah mengimbau Harun Masiku untuk bertanggung jawab dan menyerahkan diri. Namun, terkait pencarian keberadaan Harun, PDIP memilih lepas tangan.

"Ya dia harus bertanggung jawab menyerahkan diri. Tapi untuk masalah upaya itu silakan serahkan kepada KPK," kata Djarot menegaskan.

Harun Masiku, yang merupakan caleg PDIP ditetapkan KPK tersangka dugaan suap terhadap Komisioner KPU Wahyu Setiawan untuk memuluskan namanya mengisi kursi pergantian antarwaktu (PAW) di DPR. Dalam Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019, Harun tak lolos ke Senayan.

Dugaan suap mengalir ke Wahyu untuk membantu Harun dalam PAW caleg DPR terpilih Fraksi PDIP yang meninggal pada Maret 2019, Nazarudin Kiemas. Namun, pengganti Nazarudin dalam pleno KPU caleg bernama Riezky Aprilia.

Nama Harun Masiku pertama kali dikenal publik ketika menjadi caleg pada Pemilhan Legislatif (Pileg) 2019 dengan daerah pemilihan (dapil) Sumatera Selatan I. Dapil itu meliputi Kota Palembang, Musi Banyuasin, Banyuasin, Musi Rawas, Musi Rawas Utara, dan Kota Lubuklinggau.

Rivalnya saat Pileg 2019 adalah Nazarudin Kiemas, adik kandung almarhum Taufiq Kiemas. Namun, sebelum pemungutan suara digelar tepatnya 26 Maret 2019, Nazarudin meninggal dunia.

Hasto Akui Teken Surat Permohonan PAW Harun Masiku

Sebelum bergabung ke PDIP, Harun diketahui sempat berlabuh di Partai Demokrat. Lewat partai berlambang bintang merc itu lah pria kelahiran Jakarta, 21 Maret 1971 tersebut maju di Pileg 2014.

Dia menjadi caleg DPR di dapil Sulawesi Selatan II. Namun langkahnya menjadi anggota DPR tersandung kala itu. Raihan suaranya tak maksimal di dapil yang meliputi Kabupaten Tana Toraja dan Kabupaten Toraja Utara.

Harun merupakan lulusan Universitas Hasanuddin. Dia menyelesaikan gelar sarjananya di kampus berlokasi di Makasar tersebut selama rentang lima tahun dari 1989-1994. Kemudian dia meneruskan pendidikannya di University of Warwick, Inggris, dari 1998-1999.

Semasa kuliah, Harun aktif di sejumlah organisasi, di antaranya Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), ketua persatuan pelajar Indonesia di Inggris, dan anggota perhimpunan advokat Indonesia.

Latar belakang pendidikan sarjana hukum yang didapatnya di bangku kuliah tak cukup membantu dirinya ketika terjun ke dunia politik.

Selepas mengenyam pendidikan di Iggris, dia mengikuti sejumlah kursus, mulai dari Training Pemberdayaan dan Pengayaan Masyarakat, Kursus Komunikasi Politik dan Publik hingga riset tentang Presidential Studies.


0 Komentar