Indonesia Bangsa yang Kebal, Jangan Nyinyir ye!
Sampai ada sayembara miliaran dolar bagi siapa saja yang dapat menemukan virus corona (Ilustrasi: Haluan.co)

Saya sebagai warga negara Indonesia tersinggung dengan WHO, hasil penelitian Harvard dan ocehan Sydney Morning Herald yang melecehkan kemampuan para ahli dan dokter di Indonesia.

PERNAH dengar kisah serdadu yang tergabung dalam pasukan Garuda di Kongo, Afrika? Ini kisah di zaman rezim Soeharto. Konon, bangsa Kongo sempat terheran-heran ketika seorang serdadu Indonesia merebus telor di atas kepala.

Orang Indonesia disebut sakti dan kebal karena pada saat itu juga dipertontonkan aksi debus. Kisah itu saya dengar ketika saya masih di udik di sebuah distrik tanpa listrik di Dusun Cipasang, sekira tahun 80-an.

Nah, di Era Reformasi sekarang dan sebagian orang malah dengan senang hati menyebutnya era repotnasi, lagi-lagi istilah kebal itu muncul kembali. Ketika wabah virus corona membuat China yang sempat tak terbayangkan kalah oleh jasad renik nan gaib berumus Covid-19, tiba-tiba menjadi sebuah negeri putus asa.

Tidak pernah membayangkan China yang sangat digdaya -- selalu bikin repot Amerika Serikat--yang menguasai hajat hidup orang banyak dari mulai jarum pentul hingga senjata nuklir bisa bertekuk lutut, lemah lunglai dan seperti bangsa paria dalam beberapa bulan ini. Hanya karena virus corona.

Negeri China kini terisiloasi secara spasial dan politik. Bangsa China di luar daratan Tiongkok menjadi manusia yang dicurigai. Rasis muncul di Eropa. Pecinan sepi.

Virus yang disebut-sebut bersumber dari sup kelelawar di Kota Wuhan, Provinsi Hubei tidak hanya bercokol di China tetapi juga bermigrasi ke Eropa, Amerika Serikat, Asia, Asia Tenggara dan Australia.Negeri jiran seperti Malaysia, Singapura, Thailand dan Vietnam serta Filipina sudah dibuat pusing dengan virus yang disebut-sebut belum ada penawarnya itu. Singapura bahkan sudah sampai pada level oranye, masyarakat menyerbu mal-mal untuk membeli masker dan stok makanan.

Warga mengular di Mustafa Center dengan logikanya masing-masing. Sang perdana menteri pun harus berpidato dengan penuh perasaan dan empati hanya sekadar untuk menenangkan warganya dan tentu saja sebenarnya menenangkan 'Pasar'.

Ketika Negeri Singa yang berpenduduk sekira 11 juta jiwa sudah kalang kabut dan segera mengisolasi warganya sementara Negeri +62 yang statistik penduduknya mencapai 270 jiwa masih sibuk dengan kasus Jiwasraya dan Asabri, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Harvard University dan media Australia Sydney Morning Herald tiba-tiba mencuriga Indonesia. "Indonesia seharusnya lebih dulu kena virus corono setelah China!" itu mungkin rumpian mereka

Tepatnya mereka itu nyinyir dan meragukan Indonesia. Padahal dokter dan peneliti di negeri ini banjir lulusan Amerika dan Eropa. Belum lagi, standar penanganan virus corona di Indonesia pun dipastikan menggunakan standar yang direkomendasikan WHO, badan superkuat yang ngurus kesehatan di Planet Bumi.

Saya sebagai warga negara Indonesia tersinggung dengan WHO, hasil penelitian Harvard dan ocehan Sydney Morning Herald yang melecehkan kemampuan para ahli dan dokter di Indonesia.

Di sisi lain, mereka pantas sangsi dengan Indonesia karena hubungan Indonesia dengan China juga sangat mesra. Politik sangat solid, ekonomi sangat mesra. Bahkan Menhan Prabowo pun menyebut China, "Saudara kita!"

Pun hubungan penduduknya juga sangat erat. Pemerintah China sangat belas kasih dengan menaburkan banyak beasiswa bagi anak-anak muda Indonesia. Begitu juga warga China yang 18 persen dari total wisatawan yang datang tiap tahun ke Bali, mereka habiskan uangnya di Pula Dewata serta sebagian di Sulawesi Utara.

WHO dan gerombolannya semakin heran ketika sampai saat ini belum juga ditemukan warga Indonesia yang ada di wilayah hukum Indonesia dan juga mereka yang terjebak di Kapal Pesiar Diamond Princess -- alhamdulillah sehat walafiat.-- terinfeksi corona.

Malah KBRI Tokyo menyebutkan 78 pelayan Indonesia di Diamond Princess dikabarkan dalam kondisi baik dan negatif virus corona. Mereka hanya masuk angin dan itu pun sembuh dengan cara kerokan, minum teh manis anget ditambah jamu pengusir angin.

Namun tidak disebutkan apakah obatnya yang mengaku orang pintar atau si bejo? Para pelayan di kapal mewah ini juga katanya minta dikirim mie instan.

Coba bayangkan, jauh-jauh berkelana berbulan-bulan di tengah samudra dan sesekali mendarat di pelabuhan dunia mintanya cuma teh manis, mie instan dan jamu pengusir angin. Apa nggak sakti mandraguna tuh orang Indonesia.

Begitu juga ratusan warga Indonesia yang di karantina di Natuna dan hari ini mulai dikembalikan kepada keluarganya semuanya negatif corona. Padahal, mereka dari awal bahkan sebelum merebak virus corona sudah tinggal di Wuhan, pusat penyebaran corona pertama kali.

Terungkap, Ternyata Ini Alasan Orang Indonesia Kebal dari Virus Corona

Belum lagi Indonesia selama ini memiliki penerbangan langsung yang cukup padat dan sibuk dengan sejumlah kota di China daratan baik yang langsung ke Jakarta, Bali dan Sulawesi Utara.

Ini yang membuat heran peneliti di Harvard sehingga mengambil kesimpulan dengan meragukan kemampuan alat pendeteksi dan penanganan virus corona di Indonesia.

Biarkan mereka pusing sendiri. Semoga Indonesia bebas dari virus corona sehingga cukup meloncat atau terbang ke Australia sehingga membuat koran Aussie nyinyir seenaknya. Kita cukup berdoa dan hidup sehat. Semoga seperti SARS dan MERS yang juga mengabaikan Indonesia.

Jangan ragukan kekebalan atau imunitas Indonesia. Bangsa Indonesia itu selain kebal terhadap penyakit, kebal krisis ekonomi juga dijamin kebal dari pemberi harapan palsu (PHP) sang mantan dan pejabat publik.

Jangan lupa musim hujan ini mampir di warkop, untuk sekadar minum kopi dan santap mie instan pakai saus dari campuran ubi dan pepaya apkiran plus pewarna kain. Biar kebal!