Ini Kata Nadiem Makarim tentang PAUD yang Ideal
Mendikbud Nadiem Makarim saat meresmikan gedung baru PAUD KM “0” di gedung E lantai dasar, Kemendikbud, Senayan, Jakarta. (Foto: Kemdikbud)

JAKARTA, HALUAN.CO - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nadiem Anwar Makarim memberi pandangan terkait lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang ideal. Menurutnya, PAUD yang ideal adalah memiliki pendidik yang betul-betul mencintai anak.

“Itu yang terpenting. Walaupun kondisi prasarana juga penting, tetapi hubungan kebatinan antara pendidik dan kualitas pendidik merupakan yang paling penting. Karena kalau tidak begitu, ujung-ujungnya nanti jadi tempat penitipan saja, tanpa ada kualitas guru yang baik dan memiliki hubungan batin,” ujar Mendikbud kepada awak media saat meresmikan PAUD KM “0” di Kantor Kemendikbud, Senayan, Jakarta, Senin (23/12/2019).

Dijelaskan Mendikbud, ada beberapa hal yang perlu diperbaiki, terutama dari sisi sumber daya manusia (SDM), fasilitas, dan kualitas buku-buku. “Salah satu hal penting dalam SDM adalah adanya sistem penunjang antarpendidik PAUD. Karena di jenjang PAUD tidak bisa hanya belajar melalui buku saja, melainkan suatu proses ilmiah di mana guru-gurunya harus bereksperimen dan mencoba hal-hal yang lebih inovatif,” terang Mendikbud dilansir dari laman Kemdikbud RI.

PAUD KM "0" merupakan PAUD percontohan yang berdiri pada tahun 1995. PAUD tersebut memiliki ruang-ruang kelas yang disesuaikan dengan usia anak. Ada ruangan untuk bayi, anak usia 1-2 tahun, 2-3 tahun, 3-5 tahun, dan 5-6 tahun.

PAUD KM “0” kini memiliki gedung baru yang berlokasi di gedung E lantai dasar, Kemendikbud, Senayan, Jakarta. Sebelumnya PAUD KM "0" menempati basement Gedung A. Mendikbud berharap PAUD KM "0" dapat menjadi contoh bagi lembaga PAUD lainnya.

Mengubah Paradigma Buku Bacaan Anak

Terkait buku bacaan anak, menurut Nadiem, pengelola PAUD atau pun orang tua harus ada perubahan paradigma mengenai buku bacaan anak. Selama ini orang lebih suka menentukan anak harusnya baca apa, padahal sebenarnya paradigma yang lebih penting adalah bagaimana cara agar anak mencintai membaca.

“Jadi sebenarnya harus child driven. Anak harus ditanya ingin baca buku-buku mengenai apa? Mengenai karakter-karakter favorit mereka, superhero favorit mereka, komik-komik favorit mereka,” ujar Mendikbud.

Apapun formatnya, kata Mendikbud, yang paling utama adalah anak cinta membaca buku. Jika anak belum bisa membaca diajak untuk membalikkan halaman-halaman buku sembari dibantu membacakan, tidak apa-apa. Yang penting dia bisa mengikuti gambar-gambar yang dia sukai, katanya.

“Paradigmanya dulu yang diubah, harus child driven. Artinya, semua dimulai dari anak dan orang dewasa harus mendengarkan anak. Jadi, literasi bukanlah tantangan untuk membaca dalam arti gramatika kebenaran membaca, menulis dan lain-lain, melainkan bagaimana agar setiap anak mencintai buku,” jelas Mendikbud.

Sementara itu, istri Mendikbud, Franka Nadiem Makarim menambahkan bahwa pendidikan anak usia dini sangat penting demi menciptakan generasi unggul. Dikatakan, PAUD adalah investasi karena semua yang kita berikan pada anak-anak di 6 tahun pertama kalau bisa berkolaborasi dengan baik dengan guru-guru PAUD, maka akan menghasilkan yang terbaik.


Penulis: Melda Riani