ITB Kembangkan Kabin Sterilisasi, Masker N95 Bisa Dipakai Ulang

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Kabin sterilisasi masker N95 yang dikembangkan oleh tim dari ITB. (FOTO: Antara)

BANDUNG, HALUAN.CO - Tim Laboratorium Energi Terbarukan, Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) Institut Teknologi Bandung (ITB), mengembangkan kabin sterilisasi untuk masker N-95 agar bisa digunakan kembali oleh tenaga medis.

Mengapa ini penting: Masker N95 yang digunakan oleh para tenaga medis saat ini jumlahnya semakin terbatas. Sementara, pasien COVID-19 terus bertambah dan melonjak setiap harinya. Sehingga, kabin sterilisasi sangat penting agar masker N95 yang sudah dipakai bisa digunakan kembali.

"Kabin sterilisasi dibuat dengan tujuan untuk penggunaan kembali masker N-95 karena dengan jumlah pasien COVID-19 yang saat ini semakin bertambah, kebutuhan masker N-95 pun semakin meningkat bagi tenaga kesehatan baik di rumah sakit maupun puskesmas," kata ketua tim, Dr Yuli Setyo Indartono di Bandung, Senin (20/4/2020).

Konteks: Tenaga medis sebagau garda terdepan, menjadi orang yang paling rentan terpapar COVID-19 karena menangani pasien tersebut setiap hari. Sementara, alat pelindung diri (APD) hingga kini masih sangat terbatas di berbagai wilayah di Indonesia, termasuk masker N95.

Spesifikasi kabin sterilisasi: Alat ini memiliki spesifikasi yaitu menggunakan teknologi ionisasi udara, penurun kelembapan udara, rak sterilisasi masker N-95, dengan dimensi kabin 1x1x2 meter persegi.

Anggota tim: Selain Yuli, tim yang intensif terlibat dalam pembuatan kabin sterilisasi masker N-95 di antaranya Andhita Mustikaningtyas, ST., Musfirin, ST MT (Horizon Teknologi), Mukhlis Ali, ST MT (alumni FTMD ITB yang bekerja di Universitas Nusa Putra) dan Taufik Rahman (mahasiswa bimbingan Mukhlis Ali, ST MT di Universitas Nusa Putra).

Sterilisasi masker:

• Berdasarkan rekomendasi dari Kementerian Kesehatan, sterilisasi masker bisa dilakukan dengan beberapa cara. Pertama disimpan di kantong kertas dan dibiarkan selama tiga hingga empat hari dengan prinsip kalau ada virus akan rusak karena tidak ada media untuk berkembang biak.

• Rekomendasi kedua adalah bisa dipanaskan sampai 70 derajat celsius di dalam oven, dan ketiga diberi uap panas.

• Metode yang tidak direkomendasikan untuk sterilisasi masker adalah dengan menggunakan sinar UV karena bisa merusak lapisan masker N-95.

• Supaya tidak merusak masker, maka proses sterilisasinya dilakukan di temperatur kamar.

“Maka kami menggunakan ionisasi udara. Dari berbagai penelitian ilmiah, ion negatif bisa merusak struktur bakteri dan virus. Kami juga menggunakan dehumidifier untuk menurunkan kelembapan udara. Jika kelembapan udara rendah, maka udara akan menyerap air dari masker. Tidak perlu memanaskan masker," katanya.

Komponen kabin sterilisasi:

• Kabin Sterilisasi yang kedap udara itu di dalamnya terdapat tiga komponen utama yaitu alat yang menghasilkan ion udara, kipas atau fan kecil, dan alat untuk menurunkan kelembapan udara. Kabin tersebut juga dipasang timer untuk mengatur waktu sterilisasi.

• Pada spesifikasi alat, selain menghasilkan ion, alat tersebut juga menghasilkan hidrogen peroksida. Proses sterilisasinya membutuhkan waktu sekitar dua jam.

Sudah melalui tahap ujian:

• Kemampuan alat ini mendekontaminasi bakteri telah diuji di Laboratorium Mikrobiologi di Sekolah Farmasi ITB oleh Prof Marlia Singgih Wibowo, dan juga diuji oleh Prof Pingkan Aditiawati di SITH ITB.

• Hasil pengujian menunjukkan bahwa kabin ini mampu mendekontaminasi koloni bakteri Staphylococcus aureus dan E.coli pada permukaan kasa sebanyak 90 persen selama 90 menit.

Pemerintah Diminta Segera Turunkan Harga BBM, Bukan Malah Keruk Keuntungan

Rumah sakit menyambut baik: Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung menyambut baik alat kabin sterilisasi tersebut dan berencana melakukan uji coba secara langsung di RSHS Bandung. Selain RSHS, masih ada delapan rumah sakit lain yang juga telah meminta dikirim kabin sterilisasi.


0 Komentar