Jalan Raya,Tempat Kita Melihat Kualitas Pendidikan di Indonesia
Kesemrawutaan di jalan raya menjadi bagian kehidup masyarakat Indonesia. (Ilustrasi: Haluan.co)

Jika Anda pernah mengemudi di belakang ojol yang sedang berada di tengah jalan, sambil membuka aplikasi peta digital dengan kecepatan lambat, maka Anda berhak misuh. Karena harusnya, mereka bisa melakukan itu di lajur kiri sambil berhenti.

MUNGKIN beberapa media internasional pernah menobatkan warga Indonesia sebagai salah satu penduduk paling ramah di dunia. Tapi, tentu keramahan tidak bisa anda dapat dari jalan raya.

“Gelanggang ganas, 5.15 di Ahmad Yani yang beringas. Sinar kuning merkuri, pendar celaka akhir hari, malam jatuh di Surabaya. Maghrib mengambang, lirih dan terabaikan. Tuhan kalah di riuh jalan”

Kira-kira, penggalan lirik lagu dari salah satu band asal Surabaya, Silampukau, dapat menggambarkan bagaimana kondisi masyarakat kita di jalan raya. Tentu hal ini tidak hanya berlaku di Surabaya, bisa saja di kota-kota lain, baik kota besar maupun kota kecil.

Kenapa sampai bisa dikatakan bahwa kualitas pendidikan masyarakat dapat dilihat dari perilaku berkendara? Jawabnya mudah saja, yaitu membaca.

Pertama, jika Anda memiliki Surat Izin Mengemudi, maka Anda pernah membaca soal-soal dalam ujian SIM, dan tentu membaca imbauan saat melakukan tes praktik.

Kedua, jika Anda membuat SIM dengan cara nembak, masih tersedia banyak rambu lalu lintas yang juga tidak sulit dipahami atau dibaca.

Ketiga, jika Anda memang masuk dalam kelompok individu tambeng alias angel dikandani maka Anda bisa menggunakan indra pendengaran di beberapa titik lampu merah yang menyarankan kita untuk menaati aturan lalu-lintas.

Atau, kalau Anda tidak bisa mendengarkan imbauan resmi, anda bisa mendengar wong misuh-misuhi sampeyan goro-goro goblok. Nah, kejadian terakhir ini harusnya bisa menjadi bahan refleksi bagi Anda untuk berbenah. Tapi, sekali lagi, masyarakat Indonesia itu dididik untuk ngeyel, jadi lek gak karep yo gak dilakoni, mboh iku salah ta bener sing penting ngeyel.

Masyarakat ngeyel di jalanan ini tadi sangat mencerminkan bagaimana pendidikan Indonesia yang bertumpu pada pembangunan infrastruktur dan teknologi saja. Mengapa demikian? Ya karena, pendidikan kita kalau dilihat secara awam terlihat sekali tujuannya untuk menciptakan barisan pekerja industri untuk meningkatkan ekonomi negara.

Tapi, secara lahir batin, sumber daya manusia kita masih belum memiliki kepekaan terhadap hidup bersama. Tidak usah bicara tentang hidup bersama dalam satu negara, kita bicara saja dari hidup bersama di jalan raya.

Tentu, kita bisa lihat beberapa tahun ini hampir semua orang di negeri ini, baik mereka yang lulusan SD, hingga lulusan doktoral pun seolah memiliki kualitas yang sama dalam berbicara politik. Seolah mereka semua sudah mendapat gelar Ph.D dalam bidang Political Science secara bersamaan.

Kabeh puinter-puinter lek nyocot politik, bah mek ngerti tutuk TV ta medsos, sing penting gas ambek kukur-kukur weteng nang ngarepan omah. Tapi, Anda tahu di mana mereka yang tadinya terlihat pandai itu menjadi pandir dalam satu waktu? Ya, tentu di jalan raya. Kita bisa melihat dengan jelas dalam keseharian kita.

Misal, aturan menyalakan lampu sein kurang lebih 100 sebelum belok, seringkali diabaikan dengan menyalakannya tepat saat kendaraan berbelok. Lha tok pikir sing nang mburimu nduwe indera ke enam ta yok opo? Tok pikir kabeh Joshua Suherman a yo?

Selain lampu sein, kita seringkali dibuat jengah dengan aubade klakson motor di saat lampu merah masih menyala dengan angka 7 detik. Padahal masih ada lampu kuning tanda bersiap jalan, namun para musisi klakson Indonesia seringkali secara serempak membunyikan di angka-angka yang seharusnya sek rilek. Gak ngono e, iki wong lek kesusu mending budhalo wingi ae.

Padahal, hal seperti ini berbahaya bagi pengendara lain yang mungkin juga ngeblong lampu merah dari arah berlawanan, mengingat di lain pihak, masyarakat kita mengenal lampu kuning tanda bersiap berhenti itu sebagai tanda tancap gas sampai los gak rewel, nabrak urusan kari.

Saya kira, tidak perlu mendapat nilai PKn yang bagus saat sekolah untuk memahami hukum atau perundangan dasar di jalan raya. Hanya bermodalkan membaca saja sebenarnya sudah cukup untuk memahami aturan. Tapi memang susah kalau masyarakat kita memiliki mental pembalap lali sirkuit.

Bahkan, saya ragu kalau orang-orang yang seringkali membahayakan pengendara lain dengan pelanggaran kecil itu SIM-nya nembak, paling banter mungkin laminating sendiri cetak di fotokopian. Karena, seharusnya dengan SIM nembak pun seseorang menjadi lebih merasa punya kewajiban untuk mempertanggung jawabkan SIM mereka dengan sesuai.

Gak e lho, kalau anda sedang terjebak kemacetan lantas membunyikan klakson dan diikuti orang-orang lainnya, opo yo macet e langsung lancar? Opo yo langsung dalane dadi ombo? Yo gak pe’ak. Malahan, suara klakson yang memekakan telinga dapat membuat tingkat stress seseorang meningkat dan akhirnya menjadi mudah marah. Bayangno, moleh kerjo, mumet, kesel, macet, sumuk, sek diklaksoni ae. Kalau itu Son Go Ku, mungkin sudah mengeluarkan kamehameha buat sobat klakson Indonesia.

Beralih dari klakson dan lampu sein yang kadang hanya jadi pajangan kendaraan, kita menuju ke perilaku sebuah kelompok pengendara yang akhir-akhir ini cukup membahayakan pengendara lain, yaitu ojek daring. Sebutan ojol tidak serta merta membuat orang melek teknologi, justru kadang dibutakan teknologi.

Jika Anda pernah mengemudi di belakang ojol yang sedang berada di tengah jalan, sambil membuka aplikasi peta digital dengan kecepatan lambat, maka Anda berhak misuh. Karena harusnya, mereka bisa melakukan itu di lajur kiri sambil berhenti. Atau, jika mereka perlu peta untuk mengantar atau menjemput penumpang, ambil lima menit untuk menghafal peta atau akses ke tempat itu, baru setelah itu gaspol dengan hati-hati tanpa harus melihat peta lagi sampai di lokasi terdekat.

Saya kira itu salah satu solusi, daripada membahayakan pengendara lain dengan menggandakan konsentrasi pada layar telepon pintar dan mengabaikan kondisi jalan raya.

Terakhir, pengendara yang paling mencitrakan kegagalan pendidikan di negara ini adalah pengendara N-Max. Entah kenapa, setelah tipe motor ini keluar dan booming banyak emak-emak atau bapak-bapak yang merasa mereka seolah mengendarai Harley Davidson, padahal ya motor matic saja.

Dan, tentu gaya songong dan sak karepe dewe kerap ditunjukan beberapa pengendara N-Max di jalan raya. Pertama, mereke lupa kalau N-Max bukan Mio, motor itu bertubuh tambun dan lebar, sehingga tidak terlalu layak untuk meliuk-liuk di kemacetan, sing nyenggol bablas, sing kesenggol bundhas.

Kedua, adanya pijakan kaki pada motor tersebut membuat pengendaranya seolah santuy dengan rileks menyalip dan nyempil-nyempil di antrean lampu merah. Mereka tidak sadar kalau motor itu lebih berat dari motor matic pada umumnya, dan tentu kalau ada motor yang tidak sengaja nyerempet pasti kena marah oleh pengendara N-Max, karena apa?

Ya karena mereka masih harus bayar kredit. Karena memang metode pemasaran motor yang paling ampuh adalah yang mampu membuat orang gengsi kalau tidak beli. Jadi, gengsi semakin di depan, kredit semakin sesak di belakang.

Dadi rek, sebelum Anda memilih untuk berkendara dengan kendaraan pribadi, atau membeli kendaraan pribadi, pastikan anda membaca terlebih dahulu. Sederhana, mulai lah dari membaca spesifikasi kendaraan yang hendak anda beli, lalu membaca peraturan-peraturan yang ada di tempat tes SIM, setelahnya bacalah rambu-rambu lalu lintas dan pahami, dan terakhir, bacalah perilaku pengendara lain, karena bisa jadi kita sudah paham dan waspada, tapi pengendara lain masih menyetir dengan kapasitas otak Pithecanthropus erectus.

Hal ini berlaku untuk semua jenis kendaraan, kecuali bus Mira dan Sumber Selamat yang memang kasus khusus. Untuk yang dua ini, di mana pun dan kapan pun Anda bertemu, pastikan hasrat balapan anda harus segera dibuang, lupakan pula hasrat ngeyel, dan tentu ingatlah untuk membaca doa. Karena hanya keajaiban yang membuat kedua bus tadi menyalip dengan wajar tanpa membahayakan umat manusia.

Gak gak, guduk e utek e supire kualik ta yok opo, ncen wes bedo planet ae dadi gak iso maneh iku diperjuangno. Karena hanya ada tiga tingkatan kualitas pengendara di Indonesia, yaitu pengendara tertib, pengendara biyayakan, dan tentu sopir bus Mira dan Sumber Selamat.


Penulis: Algonz Dimas B. Raharja