Jangan Takut dengan (Kata) Masturbasi!
Masturbasi bukan keanehan (Ilustrasi: Tim selasar)

Ketika kita dimanjakan video porno atau cerita dewasa untuk mencapai orgasme, ketika itu juga otak kita kehilangan tugasnya.

APA yang kalian pikirkan ketika mendengar kata ‘masturbasi’? Apakah itu mengingatkan pada kasur dengan berlembar-lembar tisu? Atau pada kamar mandi ternyaman kalian?

Atau jangan-jangan kalian justru merasa risih, aneh, dan bersalah karena pernah melakukannya? Tenang, kalau menurut kalian kegiatan itu aneh, kalian tidak aneh sendirian.

Perusahaan sex toy bernama Tenga membuat penelitian berjudul 2018 Global Self-Pleasure Report. Pada penelitian tersebut mereka mengungkapkan data yang mantab betul. Bagaimana tidak, 78 persen manusia dewasa diungkapkan pernah melakukan masturbasi termasuk 96 persen lelaki Inggris, 93 persen lelaki Jerman, dan 92 persen Amerika Serikat.

Apakah hanya lelaki saja? Tidak, dong. ternyata 78 persen wanita Inggris, 76 persen wanita Jerman, dan 76 persen wanita Amerika melakukan masturbasi.

‘Lantas, data orang Indonesia kok enggak ada?’

Sebentar, kenapa masih bertanya? Di Indonesia, berbicara masalah hal-hal berbau seks pasti akan dicap aneh, tidak sopan, tidak bermoral, dan blablabla lainnya. Stigma-stigma ini menurut saya malah justru membawa kita pada ketidakpastian, baik dalam ilmu, perasaan, dan hubungan.

Jika boleh berbagi, saya butuh waktu dua tahun untuk kemudian berdamai bahwa melakukan masturbasi bukanlah sebuah keanehan. Saya berpikir bahwa saat itu saya adalah satu-satunya orang yang melakukan hal tersebut.

Efeknya? Saya merasa menjadi anak yang tidak normal. Padahal, data di atas sudah mampu menunjukkan bahwa masturbasi sangat umum dilakukan. Bahkan data itu juga menunjukkan angka laki-laki melakukan masturbasi di Inggris, Jerman, dan Amerika yang sangat tinggi. Lantas, mengapa laki-laki kerap melakukan masturbasi?

Zoya Amirin, psikolog Indonesia yang mendalami ilmu seksologi mengatakan bahwa hal ini terjadi karena beberapa faktor. Faktor yang pertama adalah karena kecepatan sperma laki-laki mencapai rata-rata 40 km/jam.

Kecepatan sperma yang tinggi ini berfungsi untuk menembus sel telur ketika berhubungan dengan lawan jenis. Kemudian faktor yang kedua adalah karena sperma mengalami reproduksi setiap dua jam sekali. Cepat sekali, bukan?

Masturbasi akhirnya sudah bukan hal yang menakutkan lagi, melakukan masturbasi bukanlah hal yang tabu karena mayoritas orang melakukannya. Namun, bukan berarti kita dapat sembarangan melakukan aktifitas tersebut. Terdapat beberapa cara sehat melakukan masturbasi menurut Zoya.

Pertama, timing. Memang benar bahwa masturbasi mampu menghilangkan stress, karena orgasme membantu otak kita melepaskan hormon endorfin. Masalah asmara seperti putus dengan pacar, ditolak gebetan, menjalani Long Distance Relationship atau susah dapat pacar menjadi latar belakang remaja mengalami frustrasi.

Melakukan masturbasi ketika sedang frustrasi akan membuat sisi psikologis mengirimkan sinyal bahwa kita sangat menyedihkan, karena sampai harus memuaskan diri sendiri. Jangan sampai kegiatan ini menghalangi kita untuk bersosialisasi karena kecanduan sehingga pengennya masturbasi terus.

Lantas, kapan waktu yang tepat untuk melakukannya? Menurut Zoya, sebaiknya kegiatan masturbasi ini dilakukan sebagai kegiatan me-time. Bermasturbasi adalah salah satu cara menyayangi diri sendiri, selain itu juga merupakan sebuah usaha untuk mencari peta seksualitas diri kita.

Pencarian ini sendiri membantu untuk mengerti titik-titik ‘kenikmatan’ diri sendiri yang banyak orang tidak tahu.

Kedua, pastikan tangan kita tercuci sebelum melakukan masturbasi. Baik laki-laki maupun perempuan harus memastikan tangannya dalam kondisi bersih saat memegang alat kelamin. Oleh karena itu, jangan hanya saat melakukan “ritual” saja. Bagaimana kalau tidak dalam kondisi bersih? Kuman-kuman akan menempel dan dapat menyebabkan terjadinya penyakit.

Ketiga, jangan masturbasi menggunakan sabun atau baby oil! Saat ini sudah banyak jel yang dijual di apotik dan jel lebih dianjurkan untuk dipakai dibanding menggunakan sabun atau baby oil.

Keempat, jangan menonton video porno saat masturbasi! Utamakan Fantasi! Ketika kita dimanjakan video porno atau cerita dewasa untuk mencapai orgasme, ketika itu juga otak kita kehilangan tugasnya.

Alih-alih berfantasi, otak kita justru kita ‘latih’ untuk pasrah menerima cekokan yang kita berikan. Hal inilah yang secara jangka panjang mampu membunuh kreatifitas. Hal ini cukup bahaya untuk orang-orang yang bekerja di industri kreatif. Jadi, harap diperhatikan!

Seberapa banyak pun tips tentang masturbasi yang sehat, tentu masih akan ada kalimat seperti ini terdengar, “Aku enggak mau masturbasi, ah! Nanti bikin lutut jadi kopong!”

Jika kalian tidak ingin melakukan masturbasi, itu pilihan kalian. Namun, hoaks tentang masturbasi harus diluruskan. Mitos tentang lutut menjadi kopong misalnya, pertama dikemukakan pada tahun 1870.

Melalui sebuah buku, mitos-mitos terkait masturbasi mampu membuat orang di seluruh dunia percaya bahwa pelakunya dapat terkena gangguan jiwa, depresi, dsb. Padahal hal itu sama sekali tidak terbukti. Karena masturbasi sendiri adalah kegiatan seksual paling aman.

Jadi, jangan takut lagi mendengar kata masturbasi. Jangan sampai juga merasa aneh karena pernah melakukan masturbasi. Sans. Itu normal, kok. Asal jangan berlebihan ya, sampai menolak buat bersosialisasi dengan teman-teman.

Lebih parah lagi, kalau sampai mengganggu hubungan dengan pasangan. Masturbasi itu normal, tapi harus dilakukan secara bijak. Harapannya, artikel ini bisa menghilangkan kesan tabu kata masturbasi, dan memberikan kebijaksanaan dalam diri kita ketika melakukannya, ya!


Penulis: Tim Selasar