Jika Digigit Ular Berbisa, Ini Penanganan Standar WHO
Ilustrasi digit ular berbisa. (Foto: Thewiree.in)

JAKARTA, HALUAN.CO - Dokter ahli bisa ular, Tri Maharani menyebutkan kasus gigitan ular di Indonesia terbilang sangat tinggi. Jumlahnya bisa mencapai ratusan ribu kasus per tahun.

Berdasarkan hitung-hitungan Tri Maharani setiap tahunnya, ada lebih dari seratus ribu kasus gigitan ular berbisa terjadi di Indonesia.

"Ada 135 ribu setiap tahun kasus digigit ular," kata Tri Maharani yang dikutip dari wawancaranya dengan Radio Republik Indonesia, Minggu (12/1/2020).

Meski kasus gigitan ular terbilang tinggi, menurut Tri Maharani, kebanyakan masyarakat Indonesia tidak paham cara menanganinya. Sebab, mereka lebih memilih cara-cara mistis ketimbang cara medis. Padahal, penanganan yang salah mampu membuat korban meregang nyawa.

"Kadang mereka memberikan batu hitam, ditempelkan di bekas gigitan ular itu. Menaruh baru akik lah, batu keris lah, kemudian mereka memakai ramuan-ramuan herbal yang sama sekali tidak berdasarkan penelitian," jelasnya.

Standar WHO

Tri Maharani menegaskan, penanganan korban tergigit ular haruslah berdasarkan standar yang telah ditentukan oleh World Health Organization (WHO).

"Kalau sudah memakai standar WHO itu, maka tingkat kematian akibat gigitan ular berbisa bisa sangat direduksi," katanya.

Tri mengatakan, banyak orang Indonesia yang berpikir bahwa racun ular mengalir lewat pembuluh darah. Padahal, menurut WHO, racun ular menjalar ke seluruh tubuh lewat kelenjar getah bening.

"Sehingga mereka mengeluarkan darah, mengikat, kemudian menyedot, dengan anggapan bahwa itu adalah cara untuk mengeluarkan bisa (racun) ular," jelasnya.

Adapun untuk mengantisipasi agar racun ular tak menjalar, menurut WHO, lanjut dia, yakni melakukan imobilisasi. Konkritnya dengan tidak menggerakkan otot di sekitar area gigitan ular.

"Dia hanya dibuat supaya otot-otot yang berkontraksi itu menjadi tidak bergerak dengan kelenjar getah bening tidak mendrainasekan bisa ular itu ke seluruh tubuh," jelasnya.

Dia berharap Kementerian Kesehatan tidak tinggal diam dan harus memberikan penyuluhan kepada seluruh masyarakat Indonesia, tentang cara penanganan awal kasus gigitan ular berbisa, utamanya berdasarkan standar WHO.

"Kayak dulu kan orang susah untuk ikut imunisasi. Sekarang orang Indonesia mau imunisasi. Jadi saya berharap ini juga menjadi program sehingga semuanya mau melakukan imobilisasi ketika mereka tergigit ular," pungkasnya.