Jika PSBB Gagal, Perppu Karantina Nasional Harus Disiapkan Pemerintah

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Ketua Purna PB IDI Prof Dr. I. Oetama Marsis SpOG (K). (Foto: Suara)

-

AA

+

Jika PSBB Gagal, Perppu Karantina Nasional Harus Disiapkan Pemerintah

Health | Jakarta

Rabu, 15 April 2020 12:28 WIB


JAKARTA, HALUAN.CO – Negara China dan Singapura tengah memasuki gelombang kedua wabah virus Corona (COVID-19).

Berdasarkan data Worldometer, ada 108 kasus baru pada 12 April, meningkat dari sebelumnya dengan 99 kasus. Namun belum melampaui 143 kasus tertinggi setelah puncak kurva pada 5 Maret. Sedangkan di Singapura, dilaporkan lebih dari 60 persen dari 1.000 kasus yang dikonfirmasi positif terjadi pada tiga minggu terakhir’

Mengapa ini penting: Negara-negara Eropa dan Amerika baru menjadi epicentrum wabah COVID-19, setelah Wuhan. China dan Singapura merasa berhasil, mengendorkan kebijakan lockdown, mengakibatkan banyak orang berdatangan.

Konteks:

  • Jika suatu negara tidak disiplin serta memperhatikan dengan serius perkembangan virus ini, maka berpotensi akan melahirkan gelombang-gelombang baru.
  • Peneliti di China menyebutkan, di Wuhan dari jumlah yang terinfeksi dan kebal terhadap penyakit COVID-19, mungkin hanya 10 persen (Herd Imunnity). Berarti ada banyak orang yang masih rentan terhadap infeksi.
  • Singapura, kenapa melonggarkan kebijakan jaga jaraknya, karena perekonomian negara itu hanya mengandalkan sektor jasa dan pariwisata.

Anti virus: Penggunaan vaksin akan meningkatkan persentasi orang yang kebal terhadap COVID-19.

"Yang jadi masalah adalah sampai saat belum ditemukan vaksin terhadap COVID-19. Perkiraan ditemukan vaksin pada tahun depan," kata Ketua Purna Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Prof Dr. I. Oetama Marsis SpOG (K) saat dihubungi Haluan.co, Rabu (15/4/2020).

Mutasi virus:

  • Beberapa ahli mengungkapkan munculnya 3 varian mutasi baru COVID-19. Tipe A yang paling awal diketahui (umumnya terdeteksi di AS dan Australia, tipe B (sebagian besar Asia), dan tipe C (yang menyerang sebagian besar Eropa). Tipe C merupakan mutasi tipe B.
  • Masing-masing tipe mutasi mempunyai tingkat virulensi yang berbeda, mungkin saja bisa lebih dahsyat dari serangan gelombang pertama.

Konteks Indonesia:

  • Untuk Indonesia, gelombang ke-2 itu berpotensi terjadi di DKI Jakarta, dengan kasus impor warga yang baru datang dari daerah lain.
  • DKI Jakarta dengan intervensinya nanti bisa mengendalikan laju peningkatan COVID-19 melandai, tetapi daerah lain di luar Jabodetabek bahkan di luar Jawa baru mulai.
  • Ketika Jakarta sudah stabil, orang-orang yang tadinya balik kampung kemudian daerahnya baru mulai masif penyebaran kasus, nanti akan kembali ke DKI.

"Indonesia ini kan negara luas kepulauan, justru yang berbahaya itu bukan importir cash dari luar tetapi ketidakseragaman di dalam negeri baik penanganan, puncak wabah, maupun pengendalian serentaknyanya. di Bodetabek aja begitu tidak kompak penerapan PSBB enggak ada artinya toh," kata Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI)/Persatuan Rumah Sakit Seluruh Indonesia, Dr Hermawan Saputra SKM, MARS, saat dihubungi Haluan.co.

Gelombang Kedua Hantam China dan Singapura, Indonesia Harus Waspada!

Solusi untuk Indonesia:

  • Pemerintah jangan lagi menganggap remeh setiap persoalan khususnya wabah ini. Tujuannya, agar semuanya dipersiapkan dengan baik.
  • Bilamana Indonesia berhasil dengan metode PSBB atau "Karantina Wilayah" partial, tentunya harus dipertahankan physical distancing.
  • Pemakaian masker untuk waktu lama, sampai ditemukan obat COVID-19 lini pertama atau vaksin COVID-19.
  • Bilamana Indonesia gagal dengan PSBB, maka harus dipersiapkan Perppu untuk menyiapkan "Karantina Nasional" yang merupakan musibah dahsyat.

0 Komentar