Jokowi dan Tiga Menteri Diganjar Rapor Merah

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto termasuk yang diganjar rapor merah. (Foto: Haluan.co/Jimmy Ratag)

JAKARTA, HALUAN.CO - Lembaga riset dan juga kumpulan ekonom yang masih sangat kritis sampai saat ini, Institute for Development of Economics and Finance (Indef) lewat Indef Datalyst Center, menggelar riset dan hasilnya: rapor merah untuk Presiden Jokowi dan tiga menterinya.

Mengapa ini penting: Sampai saat ini pemerintah masih sering tidak konsisten dalam mengeluarkan kebijakan sehingga aparat di bawah dan juga masyarakat jadi bingung. Belum lagi nuansa konflik kepentingan di lingkungan Istana seperti keterlibatan dua stafsus dalam proyek penanganan dampak COVID-19 juga menyebabkan Jokowi tercoreng.

View this post on Instagram

Menyusul Belva Devara, Andi Taufan Garuda Putra menyatakan pengunduran dirinya sebagai staf khusus (stafsus) Presiden Jokowi. Keputusan tersebut ia ajukan melalui surat pada 17 April 2020 dan telah disetujui oleh Presiden. ⁣⁣ "Perkenankan saya untuk menyampaikan informasi pengunduran diri saya sebagai Staf Khusus Presiden Republik Indonesia yang telah saya ajukan melalui surat pada 17 April 2020 dan kemudian disetujui oleh Bapak Presiden," kata Andi Taufan, Jumat (24/4/2020).⁣⁣ ⁣⁣ "Pengunduran diri ini semata-mata dilandasi keinginan saya yang tulus untuk dapat mengabdi secara penuh kepada pemberdayaan ekonomi masyarakat, terutama yang menjalankan usaha mikro dan kecil," tambahnya.⁣⁣ ⁣⁣ Sebelumnya Andi Taufan sempat menjadi sorotan karena surat kepada camat se-Indonesia. Surat bernomor 003/S-SKP-ATGP/IV/2020 itu dikeluarkan pada 1 April 2020. Dalam surat itu disebutkan ada kerja sama dengan PT Amartha Mikro Fintek (Amartha) yang akan berpartisipasi dalam menjalankan program relawan desa lawan COVID-19 di Sulawesi dan Sumatera. Andi Taufan sendiri merupakan pendiri dan CEO Amartha.⁣⁣ Andi Taufan juga telah meminta maaf perihal surat tersebut dan telah ditarik kembali. ⁣⁣⁣⁣⁣⁣ Follow @haluandotco | @haluantv | @totalpolitikcom | @teknologi_id | @row.id | @neuronchannel | @hipotesamedia⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣ ⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣ #haluanmediagroup #haluandotco #haluan #beritahariini #beritanasional #viral #trending #heboh #coronavirus #waspadacorona #dirumahaja #haluanupdatecorona #janganpanikhadapicorona #bersatucekalcorona

A post shared by Haluan Media Group (@haluandotco) on

Konteks: Indef melakukan riset big data dari 22.574 perbincangan di Twitter terhadap Jokowi, dan sekitar 88 persen masyarakat memiliki sentimen negatif. Tema utama yang diperbincangkan dalam cuitan itu seputar Kartu Pra Kerja dan simpang-siurnya kebijakan pemerintah dalam kebijakan penanganan COVID-19.

Apa katanya: "Riset big data ini berbeda dengan survei. Riset big data terkait orang dan akun-akun yang jumlahnya banyak. Kami sangat hati-hati dengan menghilangkan seluruh akun-akun buzzer politik," kata ekonom senior Indef Didik J Rachbini dalam jumpa pers secara daring, Minggu (26/4/2020).

Doublespeak Jokowi dan Kegagapan Pemerintah Menangani Corona

Harapan kepada Pemerintah: Didik berharap ke depan pemerintah lebih solid sehingga berhasil menangani wabah corona dan tidak ada lagi pernyataan presiden yang membingungkan seperti soal mudik dan pulang kampung yang sulit diimplementasikan di lapangan.

Tiga menteri berapor merah: Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly dengan 6.895 perbincangan (81 persen sentimen negatif), Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto dengan 2.384 perbincangan (76 persen sentimen negatif), Menteri Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan dengan 1.167 perbincangan (86 persen sentimen negatif)


0 Komentar