Jumlah Guru Pria di Australia Merosot, Takut Dituduh Pelecehan Seksual?
Jumlah guru pria menyusut di Australia karena khawatir dianggap melecehkan anak. (Foto: ABC)

JAKARTA, HALUAN.CO - Kerasnya isu pelecehan seksual seperti fedofilia menjadi salah satu penyebab rendahnya minat pria di Australia menjadi guru sekolah dasar. Dari keseluran guru di Australia saat ini tinggal menyisakan 18 persen pria.

Seperti dikutip dari ABC Australia, saat ini semakin sedikit pria yang mau menjadi guru di Australia, terutama disebabkan oleh ketatnya aturan yang membatasi seberapa jauh kontak fisik bisa dilakukan dengan murid yang masih di bawah umur.

Penelitian yang dilakukan Vaughan Cruickshank dari Fakultas Pendidikan Universitas Tasmania mengungkapkan adanya sejumlah kendala yang dialami guru pria di sekolah dasar di Australia.

Rendahnya minat pria untuk jadi guru SD, katanya, dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu: ketakutan dan ketidakpastian mengenai kontak fisik dengan murid, tingginya ekspektasi agar mengambil peran maskulin, serta faktor isolasi sosial.

"Statistik resmi menunjukkan hanya 18 persen pria yang jadi guru SD di Australia. Tapi itu sudah termasuk kepala sekolah, guru olahraga, dan lainnya," jelas Dr Cruickshank kepada ABC Auastralia.

"Jadi persentase guru pria di ruang kelas kemungkinan hanya berkisar 15 persen saat ini," tambahnya.

Di tahun 1980-an, jumlah guru pria di SD masih mencapai 30 persen namun terus menurun sejak itu.

Sejumlah guru pria yang ditemui ABC mengakui adanya kekhawatiran mengenai ketidakpastian aturan soal kontak fisik dengan anak-anak di bawah umur.

Salah satunya dialami Rod Evans (43), guru di negara bagian New South Wales. Dia mengaku setiap hari harus melawan nalurinya sendiri yang peduli pada anak-anak yang membutuhkan pertolongan.

"Anak-anak ingin dihibur, terutama saat mereka menangis. Tapi saya harus berhati-hati karena ada aturan soal menyentuh anak-anak. Kita harus patuhi itu," kata Evans.

Guru SD lainnya Josh Cummings (24) dari Lismore memiliki pengalaman serupa. Dia mengatakan beberapa orangtua murid memang meminta agar anak-anak mereka ditangani oleh guru perempuan.

"Jika ada orangtua yang tak membiarkan guru pria menangani anak mereka, misalnya menggantikan popok, jelas akan menambah beban bagi guru perempuan," katanya guru di pendidikan usia dini ini.

"Kita harus sangat berhati-hati dalam menenangkan anak-anak, karena sangat mudah untuk disalahartikan," kata Cummings.

Rod Evans menambahkan, murid-murid yang masih kecil itu tidak tahu batasan dan kerapkali berusaha memeluk gurunya.

"Saya biasanya hanya mengusap kepala mereka dan menghindar karena saya tidak ingin terlihat memeluk atau menyentuh mereka," jelasnya.

"Saya tak ingin dipandang sebagai seseorang yang melakukan hal buruk ke anak-anak," kata Evans.

Duh, repotnya jadi guru di Australia. Bagaimana dengan di Indonesia?